Solo Traveller, Berani?

Perjalanan Solo Bagian I

Dalam perjalanan pulang ke rumah, akhir pekan lalu, saya bertemu seorang teman seperjalanan. Kebetulan kami menaiki pesawat yang sama, di jam yang sama pula. Akhirnya saya berkenalan dengannya dan berbagi cerita.

Usut punya usut, teman baru saya ini bukan mau mudik, tapi mau melakukan perjalanan ke nagari Minangkabau. Saya pikir, dia akan berkunjung ke festival yang sama dengan saya. Ternyata dia berambisi untuk melihat Kota Bukittinggi. Katanya, dia ingin sekali berfoto di Jam Gadang dan Ngarai Sianok. Dia juga ingin melihat air terjun pinggir jalan, Lembah Anai dan tentu saja keajaiban Payakumbuh, Lembah Harau.

foto oleh @wanderlust
foto oleh @wanderlust

Saya bertanya, di mana dia akan menginap selama perjalanannya di Sumatra Barat. Kata dia, dia akan menginap di rumah seorang teman yang tergabung dalam komunitas backpacker Padang. Nah! Saya terkejut karena orang itu pastilah belum pernah dia temui secara langsung. Benar saja. Mereka hanya berkenalan di jejaring sosial. Hebatnya lagi, perjalanan ini dia lakukan sendirian. Dan ini bukan kali pertama dia melakukannya. Dia juga sudah bepergian ke Medan, Sumatra Utara, sendirian. Hanya bermodal jadwal dan kawan komunitas.

Otomatis pikiran saya melintas ke sahabat sekantor yang juga memiliki hobi sama. Gadis Jawa ini sudah melakukan perjalanan lintas kota dan lintas negara sendirian. Sendirian ini berarti benar-benar sendiri. Dia sempat beberapa kali mengajak saya, tapi dengan halus saya tolak. Saya tidak berani. Hahaha.

Kesamaan kedua orang ini adalah keberanian mereka memutuskan berjalan ke tempat asing sendirian. Ke kota bahkan negara yang hanya bisa dilihat dan didapat informasinya melalui internet. Dengan perencanaan yang matang, mereka akhirnya melangkahkan kaki, menapakkan jempolnya ke negeri tersebut. Ah, betapa beraninya kedua Xena ini. Meskipun tentu saja mereka mendapat kecaman dari orang terdekat.

Anak gadis kenapa pergi sendirian? Nanti di sana menginap dengan siapa? Nanti kalau ada apa-apa minta tolong siapa? Kalau tersesat bagaimana? Dan berbagai pertanyaan lain yang sebetulnya berlebihan. Dan pertanyaan itu juga berputar di kepala saya ketika mereka menceritakan perjalanan solo tersebut.

foto oleh @dailymail
foto oleh @dailymail

Saya bukanlah tipe orang yang berani berjalan solo, meskipun perjalanan itu hanya ke kota terdekat. Well, kalian boleh mengatakan saya pengecut, karena memang itulah adanya. Setiap melakukan perjalanan, kecuali yang ditugaskan kantor, saya tidak pernah melakukannya sendirian. Harus ada rekan yang menemani saya, yang setidaknya bisa diandalkan untuk urusan arah dan rencana perjalanan. Saya akui, saya sangat buruk dalam mengatur jadwal dan arah. Bahkan google map pun tidak membantu saya untuk mencapai tujuan yang terkadang tidak terlalu sulit dicapai.

Untuk rekan perjalanan pun, saya pilih-pilih. Harus yang sreg di hati atau satu pemikiran. Kalau tidak, saya akan berpikir sejuta kali untuk melakukan perjalanan itu. Karena kalau tidak satu hati dan pikiran, saya akan panik sendiri. Well, saya orang yang mudah panik kalau sudah tersesat atau melenceng dari jadwal. Setelah itu, buyarlah semuanya. X_x

Satu-satunya perjalanan solo yang saya lakukan adalah di awal musim gugur 2009. Ketika itu saya mendapatkan beasiswa ke negeri Prusia (dan ini satu-satunya beasiswa yang pernah saya dapatkan seumur hidup, hehe). Untuk bisa mencapai negeri itu, saya harus melakukan perjalanan sendirian. Mulai dari mencari tiket, mengurus visa, dan mengatur jadwal perjalanan.

Urusan tiket selesai ketika saya ditawarkan oleh penyelenggara beasiswa. Karena tidak pandai membeli via internet (waktu itu masih gaptek), saya menerima tawaran si penyelenggara. Apalagi harga tiketnya cukup bersahabat.

foto oleh @emirates
foto oleh @emirates

Urusan visa saya lakukan sendiri. Karena waktu itu masih berdomisili di Bandung, saya harus ke Jakarta untuk mengurus visa di kedutaan Jerman. Apesnya, persyaratan saya masih kurang lengkap sehingga pengurusan visa saya ditolak. Saya harus kembali dengan seluruh surat-surat yang diminta. Jadilah saya bolak-balik Jakarta-Bandung untuk mengurus visa. Untungnya saya tidak sendirian. πŸ™‚

Selesai urusan visa, waktunya berangkat. Saya menggunakan jasa maskapai penerbangan terbesar di dunia, Emirates Airline. Pesawat ini akan transit di Dubai, Uni Emirat Arab. Perjalanan menuju Dubai akan memakan waktu sekitar tujuh jam. Dan petualangan si bodoh pun dimulai.

n c02

Advertisements

5 thoughts on “Solo Traveller, Berani?

  1. […] Well, kami pun akhirnya akrab, menikmati cerita demi cerita, dia adalah seorang wartawan koran replubika untuk kolom ekonomi. Jadi semua berita tentang perekomian biasanya Mbak Friska (panggilanku untuknya) yang menuliskannya. Dia juga penyuka jalan – jalan dan naik gunung, cuma bedanya dia belum pernah sengaja meniatkan untuk bepergian seorang diri kecuali karena tugas kantor. Simak cerita diaΒ disini. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s