Selalu Tinggalkan Satu Barang Penting!

Perjalanan Solo Bagian II

Jakarta-Dubai bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Tujuh jam hanya duduk di kursi yang setengah empuk tanpa pemandangan apapun, siapa yang tidak bosan? Apalagi perjalanan saya berlangsung dini hari. Di jendela, hanya terlihat kegelapan. Untunglah langit-langit pesawat memberikan sedikit lukisan bintang, meskipun tidak cukup untuk menghapus kebosanan. Fasilitas film yang disediakan di pesawat pun tidak membantu, karena sebagian besar filmnya sudah saya tonton. Apalagi film-film-nya hanya diterjemahkan ke bahasa Arab.

Saya sampai di Bandara Internasional Dubai sekitar pukul empat waktu setempat. Karena pesawat selanjutnya baru akan berangkat sekitar empat jam lagi, saya masih sempat beristirahat dan melihat-lihat kemegahan bandara negeri penghasil minyak tersebut. Soekarno-Hatta? Lewaaaaaaaat. Bandara ini benar-benar BESAAAAAR dan kalau tidak hati-hati, kalian akan tersesat di dalamnya. Untunglah petunjuk-petunjuk di bandaranya jelas sehingga saya tidak mengalami pengalaman pahit di sana.

Meskipun dipenuhi berbagai jenis muka, saya merasa tidak asing di bandara itu. Mungkin karena saya memakai jilbab seperti kebanyakan perempuan di sana, atau karena banyak sekali muka melayu dan Jawa yang saya temui sepanjang jalan. Ya, bandara Dubai adalah tempat transit Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebelum pergi ke negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan lain-lain.

Karena ketika kuliah saya masih beriman, saya akhirnya mencari mushalla atau masjid untuk menjalankan shalat subuh. Tentu saja bandara ini pasti punya sejuta masjid. Ini kan negara Islam.

Yup, masjid ada di setiap lorong, alhamdulillah. Masuklah saya ke dalam tempat shalat khusus perempuan. Di dalamnya banyak perempuan yang berwajah arab, negro, cina, melayu, jawa, dan berbagai jenis wajah lain. Ada yang shalat, ada yang tidur-tiduran, ada yang menyusui anak, ada yang bicara bahasa planet, macam-macamlah.

bahn

Setelah menunaikan kewajiban, saya duduk sejenak, meluruskan kaki. Sambil istirahat, saya memerhatikan orang-orang dari negara lain menjalankan ibadahnya. Ada yang seperti saya, ada pula yang tidak. Seorang gadis Timur Tengah menjalankan shalat tanpa melipat tangannya di dada. Ketika itu, saya sangat takjub. Saya pikir tata cara shalat di seluruh dunia ini sama (maklum, belum tahu mazhab). Tapi gadis ini hanya melakukan takbiratul ihram, kemudian tangannya lurus sepanjang shalat, kecuali untuk rukuk dan sujud.

Oke, ini cerita tentang perjalanan solo, bukan perjalanan spiritual.

Setelah saya merasa cukup istirahat, saya akhirnya mencari //gate// tempat transit pesawat menuju Bandara Internasional Frankfurt am Main. Karena bandara ini besarnya seluas Pulau Jawa (lebay), saya cukup kewalahan dan kelelahan. Hampir saja terlambat karena ketika sampai di gerbang yang dimaksud, hampir semua orang sudah masuk ke pesawat, kecuali saya. Ah….

Perjalanan menuju Frankfurt memakan waktu sekitar delapan jam (saya lupa persisnya). Untunglah sepanjang perjalanan di siang hari tersebut saya disuguhi banyak sekali makanan. Sampai perut ini tidak bisa menampung lagi. Kalau saya Luffy si manusia karet, mungkin saya akan minta tambah.

Sampai di Frankfurt am Main, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, waktu setempat. Perjalanan saya tidak berhenti sampai di situ. Saya masih harus melanjutkan perjalanan dengan kereta cepat. Sahabat saya sudah memesankan tiket untuk saya, tinggal diprint di mesin print tiket yang disediakan oleh perusahaan kereta api Jerman, Deutsche Bahn atau selanjutnya kita singkat menjadi DB (sejenis PT KAI-nya Jerman).

frankfurt

Nah, setiap kali melakukan perjalanan, saya pasti selalu akan meninggalkan satu barang, apapun itu, meskipun saya sudah yakin memasukkan seluruh barang yang saya perlukan selama bepergian. Biasanya barang itu adalah sesuatu yang penting, tapi masih bisa diusahakan.

Benar saja. Saya lupa mencatat nomor referensi untuk mencetak tiket kereta. AUCH!

Seperti biasa, saya panik jika rencana buyar.

Saya menyadari kebodohan ini. Sahabat saya sudah membelikan tiket itu satu bulan sebelum saya datang ke Jerman. Dia juga sudah memberikan kode booking tersebut kepada saya di hari dia membeli. Saya entah mengapa sudah merasa yakin ketika berangkat, termasuk merasa sudah mencatat kode tersebut. Ternyata? Ah, kecerobohan yang berakibat fatal.

Saya tidak menyimpan satu pun nomor telepon teman saya yang ada di Jerman. Saya tidak memiliki akses untuk menelepon. Dan saya hanya memiliki notebook. Masalahnya, internet di Frankfurt adalah internet berbayar (saya gagal menemukan wifi gratis).

Akhirnya saya memutuskan untuk shalat zuhur terlebih dahulu, mencari inspirasi bagaimana caranya mendapatkan kode booking tiket (padahal tidak tahu waktu zuhur versi Frankfurt waktu itu). Setelah menenangkan diri di ruang shalat, akhirnya tangan Tuhan pun bertindak.

Saya menemukan sebuah mesin internet berbayar. Hanya memasukkan koin euro ke dalamnya, saya bisa menggunakannya untuk mengecek email dan jejaring sosial. Saya menukar uang euro lembaran dengan receh (dengan membeli teh rasa mint, yang pertama kali saya temukan di sana) dan mencari email sahabat saya yang sudah membelikan tiket itu. Kemudian saya mencetaknya di mesin print milik DB. Tiket pun di tangan. Waktu perjalanan mulai pukul enam sore. Saya masih punya waktu sekitar tiga jam untuk beristirahat.

Saya berharap kebodohan cukup sampai di sini. Tapi Tuhan masih mau memberi saya hikmah.

n c02

foto oleh @staticzukunft-mobilitaet
foto oleh @staticzukunft-mobilitaet
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s