Ketinggalan Kereta itu Rasanya….

Perjalanan Solo Bagian III

Perjalanan dari negeri eksotis di garis khatulistiwa menuju negara empat musim menjadi perjalanan panjang pertama dalam hidup saya. Perjalanan Padang-Jakarta-Bandung saja sudah membuat waswas. Ini malah Indonesia-Uni Emirat Arab-Jerman.

Sembari menunggu kereta cepat DB Intercity (IC), saya menikmati teh mint yang tadi saya beli. Perut lapar minta dimakan, tapi tidak satu pun penganan yang berani saya beli. Takut salah beli, bisa-bisa makan schwein alias ibab (sebetulnya sih tidak apa-apa kalau tidak tahu, hehe).

Ketika menunggu, saya bertemu dengan seorang mahasiswi Indonesia. Dia dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia bercerita sedang menempuh gelar master di Jerman. Dan dia baru saja melakukan perjalanan dari Berlin. Selama menunggu kereta, saya bertukar cerita tentang Bandung.

Kereta yang saya tunggu pun tiba (si mahasiswi yang saya lupa namanya, telah berangkat lebih dulu). Rasa lelah luar biasa menerpa begitu saya menancapkan pantat di kereta. Apalagi kursi kereta nyamannya luar biasa (lebih nyaman dari kursi pesawat). Kursinya seperti sofa (serius deh).

foto oleh @outsideonline
foto oleh @outsideonline

Saya mencoba menahan kantuk. Saya tidak boleh tidur karena harus berganti kereta di stasiun selanjutnya. Sahabat saya sudah mewanti-wanti, kereta di Jerman itu tepat waktu. Jadi saya tidak boleh membawa kebiasaan di Indonesia ke negeri ini.

Tapi apa daya, mata sudah tidak kuat menahan lelah. Saya melihat jam yang sudah disetel waktu setempat. Masih ada waktu satu jam sebelum turun untuk ganti kereta yang lebih lambat. Mungkin tidur sejam tidak ada salahnya. Toh saya gampang terbangun jika tertidur di tempat asing.

Ternyata takdir berkehendak lain. Saya tidur lebih lama dari yang saya perkirakan. Ketika terbangun, kereta masih melaju dengan kencangnya. Langit masih terang (waktu itu musim panas menuju gugur, jadi matahari baru terbenam pukul setengah sembilan). Saya melihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul 19.35 waktu setempat.

Saya terkesiap. Jantung ini rasanya hampir lepas dari aorta. Saya harusnya turun lima menit yang lalu, berganti kereta dengan DB Regio (DB Re). Kereta lambat ini harusnya berangkat satu menit yang lalu. Sedangkan saya masih duduk manis di kereta cepat antarkota.

Ingin menangis rasanya menerima kenyataan ini. Rasa panik kembali mengasapi seluruh otak saya. Tidak tahu apa yang dilakukan, saya duduk pasrah di kursi sofa tersebut, mengutuki diri sendiri yang tertidur hanya karena baru pertama melihat kereta api keren.

Setelah sejenak menenangkan diri, saya akhirnya bertanya kepada seorang penumpang. Dia adalah lelaki Jerman berkepala setengah botak. Usianya mungkin 30 tahunan. Sepertinya dia baru pulang kerja karena dia memakai setelan bekerja.

foto oleh @kvip
foto oleh @kvip

“Saya harus ke Bamberg, tapi tertidur. Saya seharusnya berganti kereta di stasiun sebelumnya,” ujar saya dengan bahasa Jerman belepotan dan nada bergetar, menahan takut, tangis, dan panik.

“Wah, sayang sekali. Kamu harus turun di stasiun berikutnya, kemudian berganti kereta kembali ke utara,” jawab dia sambil melihat tiket kereta saya.

“Stasiun selanjutnya berapa lama lagi?” tanya saya. Saya teringat waktu berkumpul jemputan mahasiswa penerima beasiswa di stasiun Bamberg sudah hampir lewat.

“Mungkin sekitar satu jam lagi,” jawabnya polos. “Kamu bisa turun bersama saya, nanti saya tunjukkan keretanya,”

Tambah lemas saya mendengar jawabannya. Kala itu saya tidak tahu kalau kereta yang membawa saya ini hanya berhenti di kota-kota besar. Saya tidak penasaran di kota mana saya tersesat. Ketika itu saya kelelahan, panik, dan lapar. Saya tidak memikirkan petualangan lain kecuali petualangan menuju kasur. Titik.

Satu jam berlalu, kereta IC tersebut akhirnya berhenti di sebuah stasiun. Saya tidak memperhatikan stasiun mana karena saya sudah tidak bisa lagi berpikir. Si pria menunjuk kereta merah yang berhenti di rel seberang, menyuruh saya untuk naik bersamanya. Karena kereta sudah mau berangkat, kami pun berlari agar tidak ketinggalan kereta. Saya berlari paling kencang karena tidak mau kebodohan serupa terulang kembali.

Kereta ini terlihat lebih sederhana. Jenisnya kereta ekonomi karena duduknya seperti kereta commuterline Jakarta-Bogor. Kursinya sofa. Dan hebatnya, kereta ini ada kamar mandinya! Padahal kereta lambat. Dan tidak hanya itu, kereta ini ada lantai duanya. Tadinya saya mau duduk di lantai atas. Tapi berhubung saya membawa koper dan tidak lagi bertenaga, saya memutuskan untuk duduk manis saja di kursi yang ada.

Ketika di atas kereta, saya kemudian berpikir, apakah saya harus membeli tiket kereta yang baru? Saya sudah waswas jika petugas kereta mendatangi saya, mendapati saya tidak membeli tiket. Saya membayangkan dia melempar saya dari jendela kereta karena melanggar aturan. Atau lebih buruk, saya dideportasi bahkan sebelum sempat menikmati coklat buatan Jerman.

Ternyata imajinasi saya berlebihan. Tidak ada petugas yang meminta tiket kereta.

foto oleh @panoramio
foto oleh @panoramio

Lelaki yang tidak diketahui namanya tersebut mengatakan saya harus turun di stasiun pertama ketika kereta ini berhenti. Dari situ, saya harus melanjutkan perjalanan menaiki bis menuju kota bernama Bamberg. Bis tersebut akan berhenti di stasiun.

Capek? Dua kali lipat!

Akhirnya saya sampai ke stasiun yang dimaksud pukul 10.30 malam. Seharusnya saya sampai pukul delapan lebih sedikit.

Sesampai di stasiun, tidak ada lagi orang universitas yang menunggu. Petugas stasiun tidak memberikan informasi apapun, kecuali selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman. Waktu penjemputan sudah lewat berjam-jam yang lalu. Ada satu nomor yang dapat dihubungi, tapi saya tidak bisa menggunakan telepon karena tidak memiliki kartu setempat. Saya juga tidak memahami penggunaan telepon umum negara itu. Lengkap sudah penderitaan saya.

Lemas? Tiga kali lipat! Saya tidak tahu harus ke mana.

n c02

Advertisements

2 thoughts on “Ketinggalan Kereta itu Rasanya….

  1. Gw baca ini jam stgh 3 usai kantuk tak jua membunuhku friskis..satu hal yang nampaknya sampai sekarang tidak berubah adalah kebiasaan “pelor” mu. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s