Berani Karena Terpaksa

Perjalanan Solo Bagian V (Habis)

Pahitnya perjalanan pertama saya ke luar negeri dibayar mahal dengan kasur empuk, selimut tebal, dan bantal bulu angsa di rumah Herr Weihe. Bahkan di hotel bintang lima mana pun di Indonesia, belum pernah saya merasakan kasur seempuk milik lelaki kolektor pemutar piringan hitam tersebut.

bamberg

Saya secara khusus diantar sendiri ke apartemen. Bahkan sampai di depan pintu kamar. Dengan baik hati Herr Weihe mengangkat koper saya yang berat. “Semoga kamu nyaman di Jerman,” kata dia sebelum meninggalkan saya.

Laki-laki yang pernah berkunjung ke Indonesia ini juga mengantar ke stasiun untuk menanyakan nasib goodie bag saya. Dia agak pesimistis ketika saya ceritakan barang apa saja yang tertinggal. “Kalau tas, biasanya mereka masih menyimpan. Tapi kalau goodie bag, mungkin mereka menganggap itu sampah,” kata Herr Weihe.

Lemas lutut saya mendengarnya. Benar saja, satu pekan saya bolak-balik ke stasiun, hasilnya nihil. Akhirnya saya pasrah dan mengikhlaskan charger note book itu lenyap menjadi barang tak berguna. Mana itu note book orang.. Haaaaaa….

Satu bulan kemudian….

Ramadhan menyambut pulangnya saya ke Indonesia. Karena tidak mau mengulangi kejadian yang sama, saya membuat perencanaan yang matang. Saya memesan tiket kereta satu pekan sebelum pulang, dan memastikan diri memiliki banyak waktu untuk transit kereta dan check in pesawat.

Kereta DB Re yang saya tumpangi menuju bandara berangkat sekitar pukul 7.30. Saya mengecek jadwal bis paling pagi. Berangkat pukul tujuh lewat sekian. Sebetulnya bisa saja saya menggunakan jasa bis, tapi sampai di halte stasiun, kereta saya sudah berangkat.

Saya memutuskan berjalan kaki dari apartemen menuju stasiun. Jaraknya kira-kira 20 menit.

Karena ketika pulang sudah Ramadhan, saya memutuskan untuk tidak tidur sepanjang malam terakhir di Bamberg. Supaya saya bisa menyiapkan nutrisi yang pas untuk perjalanan panjang ke rumah, dan tentu saja supaya tidak bangun kesiangan.

Pukul enam pagi saya berangkat ke stasiun. Perjalanan pulang jauh lebih mudah dibandingkan satu bulan lalu karena saya sudah mengetahui medan. Saya sudah mampu memperkirakan waktu dan jarak sehingga tidak ada peristiwa konyol yang saya alami sepanjang perjalanan menuju bandara. Bahkan saya berkesempatan naik kereta tercepat di dunia ketika itu, Intercity-Express (ICE).

foto oleh @4rail
foto oleh @4rail

Mungkin kejadian inilah yang membuat saya ‘trauma’ untuk melakukan perjalanan solo. Saya harus berani karena terpaksa. Karena saya tidak memilih untuk melakukan perjalanan ini.

Tentu Tuhan tidak menciptakan atau menakdirkan sesuatu tanpa alasan. Seluruh kejadian ini membuat saya banyak belajar tentang perencanaan dan manajemen waktu. Ini juga mengajarkan saya untuk tidak panik, dan tetap berpikir dengan kepala dingin (meski seringnya saya tetap panik jika menghadapi situasi pelik). Pengalaman hidup seperti ini tidak akan bisa saya lupakan, dan akan selamanya tertambat di kepala. Dan tentu saja di blog ini.

Untuk saat ini, belum terpikirkan oleh saya untuk melakukan perjalanan solo (lagi). Sayangnya travel mate saya baru saja menikah dan saya tidak mungkin bisa mengajak dia seenaknya seperti dulu. Mungkin saya harus mencari travel mate baru yang cukup mumpuni dan berpengalaman seperti dia (semoga dia tidak membaca bagian ini).

Yah, atau mungkin suatu hari nanti saya akan melakukan perjalanan solo.

Mungkin.

n c02

univ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s