Petuah Abadi di Gurindam Ali Haji

Ketika berlebaran ke rumah saudara saya di Jakarta, tidak sengaja saya menemukan sebuah buku menarik. Buku itu tipis, hanya terdiri dari beberapa belas halaman. Halaman depan buku hanya bertuliskan “Gurindam Duabelas Pasal oleh Raja Ali Haji”.

Rasanya sudah lama sekali saya membaca nama itu. Well, mungkin ketika duduk di sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP). Itupun tidak membaca seluruhnya.

Gurindam merupakan salah satu jenis karya sastra lama. Bentuknya seperti sajak atau puisi. Hanya gurindam memiliki dua baris, berbeda dengan pola puisi lama yang satu bait terdiri dari empat baris.

Gurindam yang hanya terdiri dari dua baris ini biasanya membentuk pola sebab-akibat. Karena sesuai fungsi dibuatnya, gurindam berisi tentang petuah dan nasihat.

Gurindam yang paling terkenal adalah Gurindam 12 Pasal karya Raja Ali Haji. Beliau adalah sastrawan sekaligus ulama yang berasal dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Lelaki yang bernama lengkap Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad ini adalah pujangga abad ke-19 yang merupakan keturunan Bugis dan Melayu. Menurut sejarah, beliau lahir sekitar tahun 1808 dan meninggal pada 1873, tapi masih diperdebatkan.

Gurindam Duabelas Pasal ditulis pada 1846 di Pulau Penyengat. Sejumlah referensi menyebutkan gurindam ini ia tulis sebagai hadiah pernikahannya, tapi tidak ada yang tahu kebenarannya. Gurindam ini diterbitkan pada 1854 dalam Tijdschrft van het Bataviaacsh Genootschap No II. Gurindam ditulis dua bahasa, yaitu Arab-Melayu dan Belanda. Terjemahan Bahasa Belanda dipercayakan kepada Elisa Netscher.

Buat saya, gurindam ini seperti perpanjangan dari ajaran agama. Di beberapa pasal pertama, Ali Haji memberikan nasihat tentang komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Seperti himbauan menjalankan rukun iman di pasal pertama dan kedua. Setelah itu baru mengajarkan hubungan antra sesama manusia dan bagaimana seorang yang baik itu harus berbuat. Ali Haji juga memberikan nasihat kepada manusia agar menjadi orang yang berguna. Dan nasihat bagi pemimpin agar adil kepada raykat.

Well, tidak seperti puisi atau karya sastra zaman Romantik atau Ekspresionisme, gurindam Ali Haji memberi petuah dengan sangat jelas. Silakan dinikmati. πŸ™‚

Ini Gurindam Pasal yang Pertama

Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yg empat
Maka yaitulah org yg manfaat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal Tuhan yg bahri

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yg teperdaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat

Ini Gurindam Pasal yang Kedua

Barang siapa mengenal yg tersebut
Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah terdapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

Ini Gurindam Pasal yang Ketiga

Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’ll yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi

Ini Gurindam Pasal yang Keempat

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikit pun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah

Barang siapa yang sudah besar
Jgnlah kelakuannya membuat kasar

Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor

Di mana salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

Ini Gurindam Pasal yang Kelima

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihatlah kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia

Jika hendak nengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tidaklah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihatlah pada ketika bercampur dengan orang ramah

Ini Gurindam Pasal yang Keenam

Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi

Ini Gurindam Pasal yang Ketujuh

Apabila banyak berkata-kata
Disitulah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan khabar
Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat honar

Ini Gurindam Pasal yang Kedelapan

Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya

Lidah yang suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar pada orang datangnya khabar

Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripada syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunyikan
Kebaikan diri diamkan

Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban diri hendaklah sangka.

Ini Gurindam Pasal yang Kesembilan

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa

Kepada segaia hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat berkuda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru

Ini Gurindam Pasal yang Kesepuluh

Dengan bapak jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai
Supaya dapat naik ke tengah balai

Dengan istri dan gundik janganlah alpa
Supaya kemaluan jangan menerpa

Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil

Ini Gurindam Pasal yang Kesebelas

Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat

Hendak marah
Dahulukan hujjah

Hendak dimalui
Jangan memalui

Hendak ramai
Murahkan perangai

Ini Gurindam Pasal yang Keduabelas

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagar duri

Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita
Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita
seribu dua ratus enam puluh tiga likur
Hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima
Negeri Riau Pulau Penyengat

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s