Segepok Uang di Myanmar

Ketika berkunjung ke Myanmar, seseorang wajib membawa segepok uang tunai. Myanmar tidak menyediakan anjungan tunai mandiri (ATM). Jangankan ATM yang terintegrasi dengan prinsipal kartu, ATM perbankan lokal saja tidak ada.

Myanmar telah menutup seluruh jaringan ATM sejak 2003. Bahkan, bank sentral Myanmar melarang perbankan lokal menerbitkan kartu kredit karena dianggap mengancam stabilitas ekonomi. Kartu debit saja baru boleh diterbitkan tahun lalu.

Visa-master-card-400-x-300

Tapi, itu satu tahun yang lalu. Kini, Myanmar memiliki setidaknya 2.500 mesin kartu debit dan kredit serta 450 ATM, termasuk tiga di gerbang Pagoda Shwedagon, Yangon. Ini berkat ekspansi luar biasa dari dua perusahaan penerbit kartu, Visa Inc dan Master Card Inc.

Tujuh bank Myanmar mulai melakukan kerja sama dengan Master Card pada September 2012. Kartu terbitan Master Card dapat dipakai di 285 //merchant//, termasuk Governor’s Residence di Yangon. Kartu Master Card juga dapat dipakai di 210 ATM di Yangon.

Visa telah memberikan lisensi kepada delapan bank dan kartunya dapat dipakai di 550 //merchant//, termasuk hotel, restoran, maskapai, biro perjalanan, toko suvenir, dan toko ritel. Lebih dari 200 ATM menerima penarikan tunai dari kartu Visa di Yangon.

Negara seperti Myanmar merupakan tanah subur bagi perusahaan, seperti Master Card dan Visa, dalam memerangi uang tunai. Master Card menyambut wisatawan di Bandara Internasional Yangon dengan iklan yang mendorong mereka menarik uang tunai melalui ATM.

“Kami memulainya dari nol. Butuh waktu lima sampai 10 tahun agar orang-orang merasa nyaman dengan penggunaan kartu,” kata Presiden Master Card untuk Asia Tenggara, Matthew Driver, dikutip laman //Bloomberg//, Selasa (22/10).

foto oleh taipei times
foto oleh taipei times

Negara tetangga, Thailand, yang populasinya 68 juta penduduk, memiliki 47.759 ATM. Berdasarkan laporan Bank of Thailand, setidaknya lebih dari 264.236 toko di Negara Gajah Putih tersebut menerima pembayaran kartu.

Hal berbeda terjadi di Burma. Jangankan pembayaran melalui kartu, penetrasi perbankan di Myanmar masih sangat rendah. Kanbawza Bank melaporkan penetrasi perbankan masih di bawah 10 persen. Masyarakat masih lebih memercayai menyimpan sendiri uang di rumah. Bahkan, emas dan permata pun masih disimpan di bawah bantal.

Meskipun kini ATM telah tersedia, penggunanya masih sangat sedikit. Bank swasta ketiga terbesar di Myanmar Co-operative Bank (CB Bank) menyatakan baru 0,2 persen dari 20 miliar kyat yang ditarik tunai dengan menggunakan ATM. “Nasabah lebih nyaman menarik uang dari kantor cabang dan membawanya dengan kantong plastik,” ujar Direktur Manajer CB Bank Yangon Pe Myint.

Padahal, kehadiran kartu telah membantu meningkatkan bisnis di toko ritel yang melayani wisatawan. Toko perhiasan dan suvenir Nandawun Souvenir Shop, yang memasang mesin Master Card dan Visa, menyatakan bahwa pembayaran elektronik membantu meningkatkan penjualan toko hingga 50 persen dalam delapan bulan pertama tahun ini. “Pelanggan tidak lagi terhalang dalam berbelanja hanya karena tidak membawa uang tunai,” kata pemilik toko Thant Thaw Kaung.

Sejak pergantian kepemimpinan, Myanmar memang tengah membuka diri dengan akses global. Tidak hanya di perbankan, Myanmar juga akan memperluas penetrasi pasar ponselnya. Silakan dinikmati kembali upaya penetrasi ponsel di Myanmar di sini.

n c02

foto oleh strait-times
foto oleh strait-times
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s