Tersesat di Papandayan

Catatan Perjalanan Papandayan Bagian II (Habis)

Karena sampai di lokasi kemping lebih cepat dari yang diduga, akhirnya kami berleha-leha dulu. Kami mendirikan tenda dan memasak makanan.

Dari pengalaman yang sudah saya alami, seorang pendaki akan membawa kompor khusus yang biasa dipakai di atas gunung. Bisa memakai trangia atau kompor a la militer. Yah, mentok-mentok kompor gas mini yang ukurannya tidak lebih besar dari teflon untuk pancake.

Tapi teman seperjalanan saya yang satu ini berpikir lebih praktis. Dia membawa kompor gas kecil yang biasa dipakai di restoran Jepang untuk memanaskan masakan di meja, yang umumnya bermerek Hancook. Astaga, kata saya kepada si pemilik kompor, kenapa tidak sekalian bawa gas tiga kilo saja? X_x

Karena ini merupakan kemping ceria, kami hanya membawa makanan seadanya. Tidak seperti tetangga di tenda sebelah yang membawa sayur-mayur, tempe, bahkan ikan asin (ah, jadi teringat pagi hari di Ranu Kumbolo).

Setelah makan, kami beristirahat jelang pendakian ke puncak. Yah, istirahatnya cukup panjang mengingat kami sampai di Pondok Saladah cukup cepat. Istirahat sangat mendukung karena kabut turun dengan tebalnya dan hujan rintik-rintik.

Kabut ini sedikit tidak sopan karena menutupi pemandangan Hutan Mati yang ternyata tampak dari Pondok Saladah, kalau cerah.

Penampakan Hutan Mati dari Pondok Saladah
Penampakan Hutan Mati dari Pondok Saladah

Perjalanan ke puncak kami lakukan sekitar pukul tiga dini hari. Puncak Papandayan berada di 2.665 meter dari atas permukaan laut (mdpl). Yah, tidak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan Semeru atau Kerinci. Tapi berdasarkan referensi dan petunjuk yang saya baca, ada dua pendapat tentang tinggi Papandayan ini. Selain 2.665 mdpl, ada yang bilang hanya 2.622 mdpl. Entahlah, yang jelas tidak lebih tinggi dari Gunung Gede.

Karena tidak satupun dari kami yang tahu jalan, akhirnya salah satu dari kami mencari tim lain yang kira-kira bisa diajak naik bersama. Kebetulan ada segerombolan mahasiswa universitas negeri di Bandung yang juga akan berangkat ke puncak Papandayan.

Apesnya, mereka juga mengaku baru pertama kali ke Papandayan. Ah….

Jalur ke puncak ternyata tidak semudah itu ditemukan. Memang dari Pondok Saladah jalurnya terlihat jelas. Tapi setelah masuk ke hutan, keadaannya jadi sedikit sulit karena banyak jalan bercabang. Kami hanya mengikuti insting dan ikatan tali yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya. Tapi nyatanya kami tidak menemukan jalan keluar.

Ini seperti berjalan di labirin yang tidak ada pintu keluarnya. Bahkan tidak ada emergency exit!

Barulah ketika garis merah tampak di Timur, kami menemukan apa yang dinamakan Tegal Alun. Tegal Alun adalah padang edelweiss yang berada di Puncak Papandayan. Luasnya hampir sama dengan Suryakencana di Gunung Gede (bagi yang sudah pernah ke Gede pasti tahu). Sebagian pohon edelweiss sudah mulai berbunga, meskipun belum mekar. Indah? Jelas!

Teman-teman akhirnya berkodak dulu di Tegal Alun.

Tegal Alun, jepretan seadanya
Tegal Alun, jepretan seadanya

Kami tadinya akan melanjutkan perjalanan ke puncak Papandayan. Tapi tidak ada yang tahu ke arah mana jalur yang harus diambil. Ketika bertanya ke seseorang, dia berkata, “Ah, puncaknya gitu-gitu aja, kang. Gak ada yang menarik,” kata si pria yang ditanyai. Sambil memamerkan hempon HTC miliknya, dia memperlihatkan kondisi puncak melalui foto-foto yang dia buat.

Ya, memang puncak mau seperti apa? Yang ada alfamartnya, baru ajaib.

Karena si pria mengatakan perjalanan ke puncak memerlukan waktu 1,5 jam, saya dan teman-teman memutuskan untuk tidak mendaki lagi. Karena kami harus berburu waktu. Harus pulang karena mengejar besok masuk kerja.

DSC_0227

Nah, pulangnya kami akhirnya menemukan jalur yang ‘benar’. Jalur yang kami daki di awal hari tadi jauh meleset dari jalur resmi.

Sebelum sampai ke Pondok Saladah, kami menikmati sejenak suasana di Hutan Mati. Rasanya seperti tersesat di Planet of the Apes atau mungkin di Planet Naboo. Berbeda saja suasananya, karena pepohonannya mati. Tidak ada daun yang memasak CO2. Tanahnya putih kehijauan dan kekuningan.

Berdasarkan referensi yang saya baca, Hutan Mati tercipta akibat erupsi yang pernah terjadi di Papandayan pada 2002. Akibatnya salah satu sisi bukit Papandayan botak. Entah mengapa saya tiba-tiba teringat kejadian pelemparan air keras di sebuah kopaja di Jakarta oleh pelajar.

DSC_0245

Kembali ke Pondok Saladah, kami istirahat sejenak sambil menghabiskan perbekalan. Maksudnya sih supaya beban menjadi lebih ringan, haha.

Perjalanan pulang jauh lebih mudah. Jalur yang sama ketika mendaki harus kami lalui, termasuk jalur belerang yang menusuk hidung.

Well, tidak ada yang istimewa di perjalanan saya kali ini. Meskipun demikian, Papandayan berhasil menghilangkan sejenak perasaan galau yang saya alami, yang ditularkan seorang teman karena cintanya tak kunjung bersambut. Dan tidak ada penyesalan buat saya karena harus masuk di dua hari selanjutnya ketika orang-orang berlibur.

Selamat Idul Adha!

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s