Perjalanan yang Tak Terduga

Catatan Perjalanan Papandayan Bagian I

Selamat datang di Papandayan
Selamat datang di Papandayan

Pendakian ke Gunung Papandayan bukanlah perjalanan yang saya rencanakan seperti yang sudah-sudah. Pendakian ini terjadi begitu saja, ketika seorang teman mengatakan kepada saya akan ada satu tim yang berangkat ke gunung aktif di Kabupaten Garut tersebut.

Karena merasa sedang berada di libur panjang (padahal tidak juga), saya memutuskan untuk ikut. Keputusan itu saya buat hanya beberapa jam sebelum tim berangkat menuju Garut, Jawa Barat. Bahkan saya belum minta izin kepada orangtua, tidak memberitahu kakak saya, dan mendadak minta izin kepada bos yang dengan baik hati memberikan izin (yah, sebetulnya tidak ada pernyataan mengizinkan dari pak bos, hehe).

Karena dadakan, saya hanya mempersiapkan diri seadanya. Dengan daypack, saya berangkat menuju Kabupaten Garut.

Tim kami hanya berlima. Baru setelah bertemu, saya menyadari tidak satu pun dari kami yang pernah ke Papandayan. Tapi tidak perlu khawatir, ternyata jalur Papandayan tidak sesulit yang saya takutkan.

Dari Jakarta, perjalanan ke Garut memerlukan waktu sekitar enam jam. Agak lama memang, karena jalan tol penuh dengan orang-orang yang mudik ke kampung halaman. Maklum, tiga hari lagi adalah hari raya kurban.

Kami sampai di terminal Garut sekitar pukul enam pagi. Setelah melepas lelah akibat terlalu lama duduk, kami berangkat ke kaki Papandayan di Kecamatan Cisurupan. Dari terminal, kami naik odong-odong alias angkot ilegal dengan membayar ongkos Rp 15 ribu.

Dari Cisurupan, kami harus naik pick up atau ojek untuk mencapai pos awal pendakian. Ongkos pick up antara Rp 15-20 ribu dengan jumlah sekali angkut minimal 10 orang. Sedangkan ojek harus membayar Rp 30-35 ribu per angkut. Kami memutuskan untuk menunggu pendaki lain agar bisa nebeng pick up. Sambil menunggu, kami sarapan.

Aspalnya entah ke mana
Aspalnya entah ke mana

Masalah datang ketika kami menemukan tebengan untuk naik pick up. Salah seorang koordinator pick up mendatangi kami. “Maaf, kang. Kalau anggotanya di bawah lima orang wajib naik ojek. Itu sudah aturan di sini,” kata si koordinator.

Saya heran sekali. Aturan macam apa itu?

“Bagi kami, bukan masalah berapa bayarnya, kang. Tapi kalau naik ojek, apa menariknya perjalanan ini,” ujar teman saya. Perjalanan kami ke pos pendakian sempat tertunda beberapa jam akibat perdebatan ini.

Akhirnya setelah tarik ulur antara ojek dan pick up, jadilah kami naik pick up bersama tim lain. Bahkan setelah naik pick up pun, kami masih ditodong oleh koordinator ojek untuk membayar setengah harga karena dia merelakan tumpangannya diambil pick up. Ah, kalau saja saya tega menonjok hidung orang itu….

Perjalanan ke pos pendakian sangat tidak bersahabat. Aspalnya sudah sangat hancur sehingga saya merasa seperti sedang naik wahana campuran antara roller coaster, kicir-kicir, dan kora-kora. Setidaknya kondisi seperti itu kami alami selama hampir satu jam.

Sampai di pos pendakian, kami melakukan registrasi terlebih dahulu. Papandayan memang dikenal sebagai gunung yang sangat ramah bagi pendaki pemula. Sehingga, tidak heran ketika di pos pendakian sangat banyak sepeda motor dan mobil yang terparkir. Anak-anak juga berkeliaran, bersiap menantang Papandayan.

Ini sih bukan mendaki gunung, pikir saya, tapi wisata Papandayan.

Tujuan kami adalah tempat kemping yang dinamakan Pondok Saladah. Entah apa filosofinya, mungkin dulu tanah lapang itu pernah menjadi kebun selada.

Selamat datang
Selamat datang

Jalur menuju Pondok Saladah sangatlah mudah (hahah, sombong sekali ente!). Jalurnya cukup landai, meskipun licin karena banyak sekali bebatuan. Yang jelas, trek tanjakan yang melelahkan tidak begitu banyak. Mungkin bisa dihitung dengan jari.

Saking landainya, jalur Papandayan bisa dilalui sepeda motor. Beberapa kali saya melihat motor trail berseliweran di jalur pendakian. Satu kali yang membuat saya heran adalah sebuah motor bebek mendaki trek! Sayang sekali saya lupa mengabadikannya.

DSC_0197

Awal pendakian Papandayan, saya disambut dengan jalur kawah. Masih aktif, memang, si Papandayan ini. Bau belerang yang menusuk sesekali tercium ketika berjalan menyusuri kawah. Baunya benar-benar menusuk hidung, sehingga jika kamu mau mendaki Papandayan, jangan lupa bawa masker.

Untunglah ketika saya mendaki, kawahnya tidak meletus. Kalau tidak, habislah saya.

DSC_0183

Setelah melalui jalur kawah, kami kemudian berjalan di jalur hijau. Well, akhirnya setelah silau oleh tanah putih belerang, ada juga jalur hijaunya. Di antara jalur hijau tersebut terdapat sungai yang airnya luar biasa dingin dan sangat jernih.

Saya tidak menyangka untuk mencapai Pondok Saladah hanya memerlukan waktu 2,5 jam. Padahal itu sudah pakai berhenti dan bersantai, lho. Ternyata memang Papandayan sangat sangat sangat ramah pada pendaki pemula. Bahkan buat bocah kecil yang baru pandai berjalan.

Perjalanan dari pos pendakian kami mulai pukul 10.10 waktu indonesia barat. Sampai di Pondok Saladah pukul 12.30. Saatnya mendirikan tenda, makan, dan istirahat sebelum menuju puncak Papandayan!

Sweet Family trekking at Papandayan
Sweet Family trekking at Papandayan

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s