Tertib di Jalur Busway, Bisa?

Pada suatu pagi, saya mengendarai sepeda motor dari arah Matraman menuju Sudirman, melewati Manggarai, di ibukota Jakarta. Jalur ini cukup menyita perhatian, waktu, dan emosi. Jalurnya sempit. Ditambah lagi saat ini pemerintah daerah sedang membangun terminal Manggarai sehingga kondisinya sangat semrawut.

Wilayah Pasar Rumput, merupakan wilayah yang paling menguras tenaga. Kopaja yang ngetem dan bajaj yang menunggu penumpang di pinggir jalan cukup membuat saya kesal setiap pagi. Ditambah toko sepeda yang dengan santainya memajang sepeda di sepanjang trotoar, membuat pejalan kaki harus masuk ke badan jalan untuk melintas, dan memaksa pengendara bermotor untuk mengalah. Belum lagi kendaraan pribadi yang terparkir di depan toko sepeda. Ah, bayangkan sendiri saja bagaimana tantangannya.

Dalam kondisi seperti ini, jalur Trans Jakarta atau selanjutnya kita sebut dia TJ adalah alternatif paling yahud. Kehadiran lajur khusus TJ bagaikan pelepas dahaga di panas yang terik. Sebagian besar kendaraan bermotor memilih untuk melanggar aturan dengan melintas di jalur TJ.

foto oleh masukbusway.com
foto oleh masukbusway.com

Tapi pelanggaran peraturan ini harus diganjar dengan surat tilang. Pengendara bermotor tersebut harus berurusan dengan pasukan rompi hijau mentereng alias pak polisi yang dengan sigap menunggu di ujung jalur busway, nama lain TJ, dengan sebuah nota di tangan kiri dan pulpen di tangan kanan (ini kasusnya kalau si polisi tidak kidal seperti saya).

Pakpol hampir setiap hari menjaga jalur di sekitar Pasar Rumput menuju Dukuh Atas (mungkin hal serupa juga terjadi di wilayah lain). Ajaibnya, setiap hari ada saja yang masuk ke jalur TJ. Padahal mereka tahu kemungkinan polisi berjaga di ujung jalan cukup besar.

Seperti kata seorang sahabat: Punya motor? Punya. Punya otak? Tidak. πŸ˜€

Yang membuat saya kecewa adalah ketika melihat sebuah mobil dengan nomor polisi khusus melewati jalur busway. Kasus pertama, sebuah mobil diplomat. Entah pegawai kedutaan mana yang dengan seenaknya masuk jalur TJ. Polisi memberhentikannya sebentar, kemudian melepasnya pergi. Tanpa meminta si supir mengeluarkan surat izin mengemudi miliknya dan surat tanda kendaraan bermotor.

Kasus kedua adalah mobil sedan berpelat khusus yang tampaknya dari angkatan laut (soalnya warnanya biru laut) dengan santai melaju di atas aspal jalur TJ. Si polisi yang berjaga bahkan memberikan hormat kepada si mobil (yang isinya mungkin hanya supir).

foto oleh masukbusway.com
foto oleh masukbusway.com

(nb: ketiga kasus ini saya alami di tiga waktu yang berbeda)

Yah, kasus masuk jalur TJ mungkin memang bukan kasus baru. Sejak pertama kali diresmikan, jalur busway telah diperkosa oleh kendaraan pribadi. Bahkan jalur ini telah menjadi tidak hanya jalur khusus TJ, tetapi juga jalur khusus pemerintah. Saya pernah mengalaminya ketika menghadiri acara sebuah kementerian dengan anggaran terbesar, dua tahun lalu. Pengalaman ini juga saya lihat dialami oleh Toyota Crown dengan pelat RI Sekian lainnya.

Apakah sulit bagi seseorang untuk tertib? Pemerintah DKI Jakarta bahkan sudah menyatakan jalur TJ haram bagi kendaraan apapun, kecuali TJ dan kendaraan perawatannya. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Perda DKI Jakarta) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum dengan jelas menyatakan kendaraan roda dua atau lebih dilarang masuk ke jalur busway. Tepatnya di Pasal 2 Ayat (7). Sebagai sanksi, pemerintah daerah mengancam pidana kurungan paling singkat 30 hari dan paling lama 180 hari atau denda Rp 5 juta sampai Rp 50 juta.

Sayangnya masyarakat masih dengan egois mementingkan diri sendiri. Alasan kemacetan membuat pengendara kendaraan bermotor masuk jalur TJ. Lha yang bikin macet kan mereka sendiri. Satu mobil satu orang. Sepeda motor juga tidak mau tertib. Ketika diminta naik TJ, mereka beralasan layanannya kurang dan tidak mau berdesak-desakan.

Ah, kesadaran masyarakat Jakarta akan pentingnya mematuhi aturan memang masih minim. Masih berpikir kalau aturan dibuat untuk dilanggar. Tidak bisa disalahkan juga, sih. Karena terkadang pemerintahnya sendiri yang mengajarkan. Seperti yang sudah saya tulis di atas itulah. Hanya karena pejabat negara, dia bisa seenaknya masuk jalur TJ. Padahal kalau pakpol tegas, ya tilang juga dong. Biar mengajarkan kepada masyarakat kalau polisi tidak pandang bulu.

Tapi kok saya berpikir itu terlalu rumit untuk direalisasikan.

n c02

nbnb: terimakasih kepada masukbusway.com yang telah menyediakan banyak sekali bukti tentang pelanggaran Perda No 8 Tahun 2007

foto oleh masukbusway.com
foto oleh masukbusway.com
Advertisements

2 thoughts on “Tertib di Jalur Busway, Bisa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s