Ada Uang, Kami Layani

Antara
Antara

“Ini, neng, kembaliannya,” ujar pria berpakaian hansip tersebut kepada saya sambil menyerahkan selembar uang Rp 1.000. Dengan sedikit tercengang saya menerima uang tersebut.

Tidak biasanya, pikir saya. Seorang juru parkir di Jakarta menyerahkan uang kembalian. Tidak ada masanya seperti itu. Setiap saya menyerahkan uang Rp 1.000, mereka tidak protes. Setiap saya memberi Rp 2.000, kebanyakan dari mereka tidak memberikan kembalian.

Kali ini saya mendapatkan pengalaman yang berbeda. Dan saya dibuat terperangah. Di Jakarta, lho, tempat orang mendewakan uang, bahkan sampai mau menjilat magma demi uang.

Pengalaman ini juga pernah saya alami di sebuah kota wisata. Saya memarkir sepeda motor di sebuah kompleks yang berisi beberapa restoran lokal. Tujuannya? Ya makan dong, masa mau cuci motor.

Selesai makan, saya menyerahkan uang dua ribuan. Juru parkir berseragam adat tersebut menyerahkan uang kembalian Rp 1.000, yang dengan sopan saya tolak. Penolakan tersebut bukan tanpa alasan. Si bapak sudah membantu mengeluarkan motor dari barisan, menghentikan lalu lintas demi sepeda motor saya bisa dikeluarkan dari parkiran.

Tapi si bapak malah memaksa menolak. “Di sini cukup seribu saja, neng,” ujarnya.

“Memang kenapa, Pak?” tanya saya heran. Lha saya ingin berbuat riya kok. Eh, maksudnya berbuat baik.

“Memang segitu tarifnya. Kalau ada yang ambil Rp 2.000, pelanggan suka ada yang protes. Jadi biar aman, tarifnya disamakan seribu saja,” jawab si bapak.

Tapi karena sudah kepalang ingin memberi, saya mendesak si bapak untuk mengambil kembalian. Dengan dalih iklhas, saya memaksanya mengambil uang yang bisa membeli permen tiga butir tersebut. Akhirnya, beliau mengalah.

Ah, sedikit sekali orang yang seperti itu, khususnya di ibu kota negara kita tercinta. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak juru parkir yang tidak memberi kembalian jika diberi uang lebih untuk parkir sepeda motor. Yah, cari untung sedikit seribu-dua ribu supaya setoran ke atasan bisa cepat terpenuhi.

Uniknya, mereka senang memberi layanan lebih jika kita membayar lebih. Misalnya seperti yang saya alami belum lama ini. Saya menyerahkan uang Rp 2.000 setelah memarkir motor di sebuah toko kelontong modern. Dengan sigap si juru parkir membantu saya untuk masuk ke arus jalan raya. Dia bahkan memblokir jalan sambil meniup semprit sekencang-kencangnya agar jalan saya mulus.

Sebaliknya ketika saya hanya memberikan Rp 1.000, fasilitas jasa yang saya terima hanya sekadar mendorong sepeda motor saya keluar dari barisan. Setelah itu, saya harus berusaha sendiri untuk masuk ke arus kendaraan di jalan raya.

Yah, mau bagaimana lagi. Semakin besar uang yang kamu berikan, semakin banyak pula layanan yang kamu terima. No money, no service!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s