Kembalikan Piring ke Tempat Semula

Kasus Pertama
Semangkuk makanan asing sampai di depan saya pada suatu siang di sebuah foodcourt Lotte Mall, Seoul, Korea Selatan. Isinya terdiri dari nasi pulen, gorengan, dan semangkuk air kaldu. Sepasang sumpit dan sendok besar menemani makan siang saya.

Saya dikenal sebagai orang yang tidak pernah menghabiskan makanan yang dipesan dengan dalih makanan tersebut porsinya terlalu banyak untuk perut saya yang unyu. Kali ini tidak jauh berbeda. Saya memutuskan berhenti mengunyah ketika nasih sudah habis setengah. Perut saya begah. Bahkan melihat sisa makanan itu saja sudah membuat saya kekenyangan.

Saya melirik ke sekeliling. Orang-orang bermata sipit dan bermuka mirip asyik menyantap makanan mereka. Sebagian dari mereka makan sambil berbicara bahasa yang tidak saya pahami. Mereka menggunakan dialek yang menurut saya kekanak-kanakan dan terdengar manja. Khas dialek di film-film Korea.

Sejumlah orang di salah satu meja mengakhiri makan siang mereka. Tiga perempuan Korea tersebut mengangkat nampan masing-masing dan membawanya entah ke mana. Ah….

korean

“Sudah selesai? Yuk, acaranya sudah mau mulai,” ujar salah satu humas yang menjebak saya jauh sampai ke Seoul. Dia mengelap mulutnya dengan selampai sekali pakai, melemparnya ke nampan, siap-siap berdiri.

Saya melirik salah seorang rekan yang sama dijebak juga sampai ke Korea dan bertanya. “Eh, ini ditinggalin aja atau dibalikin?” tanya saya menunjuk mangkuk yang hampir semuanya masih terisi makanan, tidak yakin dengan bukti yang saya lihat tadi.

“Kayaknya dibalikin deh,” kata rekan saya sambil memandang berkeliling. Kami memutuskan untuk membereskan mangkuk masing-masing. Si humas bergeming, sibuk dengan barang bawaannya.

“Bu, ini kayaknya dibalikin deh,” kata saya mengingatkan. Si humas kemudian ngeh, dan dengan rempongnya membereskan makanannya yang berceceran di meja. Dengan asal-asalan, ia menumpuk mangkuk dan membawanya kembali ke tempat kami membeli.

Kasus Kedua
Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu Seoul. Perut saya sudah keroncongan setelah sepanjang siang hanya diisi dengan makanan asing yang bahkan tidak berbumbu. Bapak sudah berpidato di depan, berita sudah dibuat. Halaman besok sudah aman. Tapi perut dan otak saya tidak aman.

Janjinya, kami akan mengikuti gala dinner bersama Bapak Uban. Tapi kenyataannya, kami bahkan tidak mendapatkan kursi untuk duduk. Masuk pun sudah malas karena tidak jelas dengan agenda yang diberikan si humas.

Setelah mengeluh dan melenguh, akhirnya si humas kembali membawa kami ke foodcourt yang sama, mencari makan malam. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan kurang.

Di bawah, kami menemukan sejumlah gerai makanan sudah tutup. Yang tersisa hanya toko roti dan beberapa toko makanan yang menjual makanan dengan harga diskon. Penglaris.

Nah, karena tidak ada nasi yang bisa dimakan, si humas memesankan semacam ayam goreng yang diberi saus kental berwarna merah keemasan. Dia juga membelikan onigiri sebagai pengganti nasi dan beberapa potong sushi.

Saya dengan tegas mengatakan tidak akan memakan makanan yang saya makan siang tadi. Tapi saya juga tidak mengharapkan makanan seperti ini sebagai makan malam.

Oke. Kami makan apa adanya. Jadilah meja yang kami tempati penuh makanan tidak jelas, karena si penanggung jawab perut saya mencomot berbagai makanan yang bahkan dia sendiri tidak tahu terbuat dari apa. “Apa aja deh, aku juga nggak tahu itu makanan apa,” kata si humas. Kalau saya tidak beriman, mungkin sudah saya pelintir lidahnya dengan tusuk gigi.

korean2

Done. Saya hanya makan beberapa potong ayam saus merah karena tidak berselera. Setelah perjalanan hampir tujuh jam, tanpa istirahat, saya tidak mendapatkan makanan layak seharian ini.

Setelah semuanya selesai makan, kami bersiap kembali ke hotel. Si humas kembali bersiap pulang tanpa membereskan makanan yang dia santap. Baru ketika diingatkan, ia membereskan sisa makanan.

* * *

Well, dua tragedi di atas boleh dibilang mencerminkan betapa manjanya orang Indonesia. Saya tidak menyalahkan si humas yang terbiasa meninggalkan sisa makanannya berantakan di nampan, tapi memang begitulah kenyataannya yang terjadi di Indonesia. Segalanya serba dilayani.

Makan diantar, selesai makan ditinggal, nanti ada yang membereskan. Mau muntah di lantai pun nanti ada cleaning service yang mengepel.

Tapi, ternyata kebiasaan itu menjadi buruk ketika kita pergi ke tempat lain. Di foodcourt itu, saya menyadari betapa manjanya saya selama ini. Orang Korea saja menyadari untuk membereskan sendiri makanan yang dimakannya, meskipun tidak sampai mencuci sendiri mangkuknya.

Setidaknya mereka memiliki aturan yang membangun kemandirian dari hal remeh.

Kejadian ini bukan yang pertama kali bagi saya. Ketika saya berkunjung ke negara ekonomi terbesar di Eropa, saya menemukan hal serupa. Di meja makan, tidak ada nampan, gelas, atau piring sisa makanan kita yang tertinggal. Semua harus disimpan di tempatnya. Kalau tidak, kamu bakal dipelototi orang satu kantin dan dianggap tidak punya sopan santun.

Kalau diterapkan di Indonesia sulit juga, sih. Kalau semua piring dibereskan sendiri, maka tidak akan ada pekerjaan bagi sebagian kecil penduduk Indonesia yang hanya mampu membereskan meja. Hanya tukang cuci piring saja.

Tapi kalau dibiarkan, Indonesia akan selamanya menjadi manusia manja. Segala serba dilayani, tidak mau berusaha sendiri. Nanti pada akhirnya ini akan melahirkan manusia dengan kasta, yang merasa dirinya pantas dilayani oleh orang yang melayani. Karena dia membayar mahal untuk dilayani. Dan orang-orang ‘kasta dilayani’ ini sudah mulai menjamur.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s