Bisnis Kamera Menunggu Mati

Berhubung saya sedang malas menulis sesuatu di pikiran, saya ingin berbagi sedikit informasi tentang persaingan teknologi yang makin lama semakin tidak sehat.

Kehadiran telepon pintar sudah membuat geger dunia teknologi perteleponan. Si telepon disebut pintar karena tidak hanya pandai menelepon saja, tetapi juga sudah bisa berfungsi sebagai komputer dan kamera. Well, sebetulnya dia sudah pintar sejak dulu karena sudah pandai menggantikan tugas fax dan telegram dengan bisa mengirimkan pesan singkat. Jadi seharusnya telepon pintar yang kini disebut-sebut harusnya dinamakan ponsel cerdas atawa selanjutnya kita sebut dengan poncer.

LogoNikon

Nah, seperti yang saya katakan di paragraf atas, poncer ini sudah lebih pintar dari ponpin alias ponsel pintar. Dia tidak hanya menggantikan posisi fax, tetapi juga posisi kamera, komputer, jam weker, catatan pengingat, buku tulis, termometer, kompas, dan masih banyak lagi. Bahkan tidak lama lagi poncer ini akan menjadi pengganti talenan di dapur rumah keluarga muda kelas menengah.

Siapa yang rugi dengan keadaan ini? Tentu saja produsen kamera, buku tulis, termometer, kompas, jam weker, bahkan talenan.

Karena saya hanya menulis tentang kamera di media tempat saya bekerja, maka kita akan membahas tentang keadaan perusahaan kamera yang sebagian besar mulai menggigil kesakitan.

Produsen kamera nomor dua terbesar di dunia Nikon Corp telah memangkas harga jual untuk menarik konsumen membeli produknya. Hal serupa juga akan dilakukan Canon Inc. Besarnya tekanan yang didapat dari persaingan smartphone memaksa kedua produsen kamera tersebut melakukan langkah ini. Bahkan mungkin mundur dari bisnis kamera.

“Ada terlalu banyak pemain,” komentar analis UBS di Tokyo Ryosuke Katsura, dikutip dari Bloomberg, Ahad (22/9).

Menurut dia, sangat sulit bagi kedua perusahaan tersebut untuk tetap di bisnis kamera di tengah persaingan yang semakin sengit. Katsura bahkan merekomendasikan pemegang saham menjual saham kedua perusahaan tersebut.

Sejak Apple memperkenalkan smartphone andalannya iPhone, Nikon dan Canon telah kehilangan lebih dari setengah nilai pasarnya. Permintaan atas kamera telah layu di industri yang telah mereka dominasi selama lebih dari satu dekade. Nikon bahkan menjadi pemain terburuk di indeks Nikkei 225 tahun ini. Nilai sahamnya jatuh 34 persen.

Hari ini kekuatan kamera Single Lens Reflex (SLR) sudah bisa diperoleh di smartphone buatan sejumlah perusahaan teknologi. Galaxy S4 milik Samsung Electronics Co dilengkapi dengan kamera 13 megapixel (MP). Sony Corp menawarkan poncer Xperia Z1 dengan kamera bersensor 20,7 MP. Nokia Oyj baru-baru ini meluncurkan Lumia 1020 dengan kamera 41 MP. Sebagai bandingan, Canon EOS-1D X yang dijual seharga 6.799 dolar AS hanya menawarkan sensor 18,1 MP.

lumia1020all_large_verge_medium_landscape lumia1020camera

Nikon terpaksa menurunkan harga untuk mengurangi persediaan yang menumpuk akibat turunnya permintaan. Bulan lalu Nikon menurunkan target laba bersihnya sebesar 23 persen. Sementara Canon mengaku tidak akan menambah pangsa pasar dalam waktu dekat dengan pemotongan harga yang dilakukan. Canon telah melakukan revisi atas laba dan perkiraan penjualan lebih dulu pada Juli 2013.

Morgan Stanley MUFG Securities Co memperkirakan pengiriman kamera turun 30 persen menjadi hanya 69 juta unit tahun ini. Produsen kamera mencoba memperlambat penurunan ini dengan menambahkan fitur smartphone ke dalam kameranya seperti fasilitas wi-fi dan bluetooth.

“Perubahan pasar kamera seolah mengatakan pada mereka untuk mengambil langkah drastis mengubah struktur pendapatan,” ujar analis JP Morgan Chase and Co Hisashi Moriyama. Peralihan ke smartphone atau bisnis lain akan menjadi transisi serupa ketika perusahaan kamera beralih dari fotografi film ke digital. Perusahaan kamera secara perlahan akan beradaptasi.

Olympus Corp yang membuat mikroskop dan termometer pada 1919 membuat kamera pertamanya pada 1936. Pada 1950 Olympus membuat endoskopi dan membawa perusahaan tersebut sebagai produsen alat medis terbesar. Olympus menghentikan pengembangan SLR miliknya dan tahun ini menutup pembangunan pabrik kamera di Beijing. Pada April, Olympus mulai membentuk kerja sama dengan Sony Corp untuk mengembangkan alat medis.

Fujifilm Holdings Corp kini juga telah mengalihkan bisnisnya dari bisnis kamera ke alat medis dan komponen. Chief Executive Officer (CEO) Panasonic Corp Kazujiro Tsuga mengungkapkan menghentikan bisnis kamera sakunya dan beralih ke bisnis lain.

Konica Minolta Holdings Inc menjual bisnis SLR miliknya ke Sony pada 2006 dan fokus ke alat kerja. Pentax Corp diakuisisi Hoya Corp pada 2007 dan menjual bisnis kameranya ke Ricoh Co empat tahun setelahnya. Sementara pionir yang memperkenalkan Kamera Brownie seharga 1 dolar AS satu abad yang lalu Eastmant Kodak Co kini bangkrut.

Tapi sepertinya analis yang diwawancara oleh Bloomberg ini terlalu percaya diri mengatakan industri kamera bakal bangkrut. Saya bukan seorang fotografer, tapi sepertinya kamera tidak akan bisa diganti dengan sekadar kamera smartphone. Meskipun sedikit, kamera tradisional masih akan memiliki pembeli.

Sama saja seperti koran. Meskipun sudah ada epaper, masih saja ada yang rajin membeli koran setiap pagi. Wallahualam.

n c02

Nikon lenses

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s