Mau Untung, Apple Malah Buntung

Dua ponsel baru yang diluncurkan raksasa teknologi Apple Inc diharapkan dapat menambah pangsa pasar perseroan di dunia. Namun, peluncuran iPhone seri 5S dan 5C malah membuat reputasi Apple di pasar saham kian buruk. Saham Apple tergelincir segera setelah kedua seri iPhone ini diluncurkan.

Penyebab anjloknya saham Apple tidak lain karena harga seri terbaru iPhone tersebut. IPhone 5C yang disebut-sebut sebagai iPhone murah dinilai masih dijual dengan harga mahal. Padahal, seri ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pembeli di pasar negara berkembang, khususnya Cina.

iPhone 5C
iPhone 5C

Iphone 5C dibanderol dengan harga 4.488 yuan atau sekitar Rp 8,19 juta. Harga ini dinilai masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan pendapatan bulanan masyarakat Cina. Sehingga, iPhone 5C tidak akan menarik bagi masyarakat negara ekonomi terbesar kedua tersebut.

Harga yang ditawarkan Apple untuk sebuah iPhone ‘murah’ tidak memiliki kisaran yang sama dengan harga pesaingnya. “Investor kecewa karena Apple tidak memberikan harga yang lebih rendah untuk menarik pasar baru,” ujar Kepala Strategi Investasi Janney Montgomery, Mark Luschini, seperti dilansir laman //Daily Mail//, Jumat (13/9).

Harga yang ditawarkan Apple masih lebih tinggi dari rata-rata pendapatan masyarakat urban Cina. Harganya bahkan bisa dua kali lipat produk milik raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung Electronics Co. Harga //handset// termurah di Cina dibuat oleh perusahaan teknologi, seperti Xiaomi, yaitu hanya Rp 1,118 juta per unit.

Mengapa Cina? //Handset// dijual di Cina kepada setengah miliar masyarakat. Pangsa pasar Apple di Cina hanya 4,8 persen, padahal Cina merupakan pasar kedua terbesar Apple. Produk dari Samsung masih menjadi dominasi di Cina dengan pangsa pasar 17,6 persen. Masyarakat Cina juga cukup loyal dengan produk dalam negeri, seperti Lenovo, ZTE, dan Huawei, yang pangsa pasarnya lebih tinggi dari Apple.

Apple-company

Sebetulnya, Apple masih menjadi pilihan menarik bagi orang Cina. Namun, pemilik Apple di Negara Tirai Bambu tersebut adalah masyarakat kelas menengah ke atas. Jadi, meskipun Cina adalah pasar terbesar kedua Apple, masih banyak populasi yang belum dapat ditarik Apple.

Berdasarkan estimasi dari lembaga peneliti IHS Supply, total biaya komponen untuk membuat iPhone 5C hanya Rp 1,844 juta per unit. Nilainya bahkan lebih rendah dari ongkos produksi generasi terakhir iPhone 5, yaitu Rp 2,225 juta per unit atau Galaxy S4 milik Samsung yang dibanderol Rp 2,638 juta.

Analis Credit Suisse Kulbinder Garcha menilai, Apple lebih memilih mempertahankan strategi penjualan di kelas premium alih-alih menawarkan iPhone 5C ke segmen konsumen baru. “Keputusan ini, untuk margin, bagus untuk profit, namun tidak untuk pertumbuhan,” kata Garcha dalam sebuah catatan.
Pada laporan keuangan kuartalan yang berakhir Juni, laba Apple turun 22 persen karena margin laba kotor anjlok 37 persen. Nilai ini lebih rendah 42 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Garcha memperkirakan, saham Apple tahun ini akan turun 15,5 persen. Saham Apple anjlok 5,4 persen ke level 467,71 di Bursa Nasdaq setelah tiga broker merevisi target saham Apple pada akhir tahun.

n c02

apple-inc_00400639

Advertisements

One thought on “Mau Untung, Apple Malah Buntung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s