Negara Genting

“Negara genting,” ujar rekan saya melalui layanan Blackberry Messager.

Saya hanya tertawa membaca pernyataannya. Yah, bisa dibilang genting, bisa dibilang berjalan seperti biasa. Memang saat ini pemerintah sedang kocar-kacir karena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sebetulnya apa, sih, yang membuat negara menjadi genting?

Well, kita mulai dengan isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Isu ini sudah menyeruak sejak tahun lalu. Tapi baru heboh di 2013. Pemerintah mengeluarkan pernyataan akan menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi. Kata Menteri Keuangan (Menkeu) ketika itu Agus Darmawan Wintarto Martowardojo, realisasi subsidi untuk BBM saja mencapai Rp 211,9 triliun. Sedangkan pagu atau batas tertinggi subsidinya hanya Rp 137,4 triliun. Hampir dua kali lipat.

@aceh.tribunnews
@aceh.tribunnews

BBM akhirnya naik per 22 Juni 2013. Premium naik dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.500. Sedangkan solar dari harga yang sama naik menjadi Rp 5.500.

Well, sebetulnya yang dipermasalahkan bukanlah kenaikannya, melainkan kepastian kenaikannya. Seperti diketahui, pemerintah sempat galau dengan kenaikan BBM sehingga membuat indeks berfluktuasi. Mengapa indeks sampai naik turun seperti ingus? Karena pemerintah membuat investor ketar-ketir menunggu kepastian BBM bakal naik atau tidak. “Investor tentu senang kalau BBM naik. Tapi masalahnya bukan nilainya, tapi kepastian apakah naik atau tidak. Itu yang ditunggu,” ujar seorang analis.

Dari situ, mulai banyak investor asing yang melakukan aksi jual, atau menarik kembali investasinya dari Indonesia. Karena ketidakjelasan pemerintah itu.

Nah, benang merahnya adalah ketika BBM bersubsidi naik (dengan klaim mengurangi subsidi, yang uangnya dialokasikan untuk bantuan langsung sementara), maka harga barang lain ikut naik dan inflasi tinggi. Untuk merespons indikasi inflasi tinggi akibat kenaikan harga BBM, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau bahasa kerennya BI Rate dari 5,75 persen menjadi 6,00 persen pada 13 Juni 2013. Hasilnya, inflasi tertahan di 1,09 persen per akhir Juni (data Badan Pusat Statistik or BPS). Tapi kenaikan suku bunga acuan ini telah menghapus rezim suku bunga rendah, ujar seorang sumber yang tidak perlu disebutkan namanya.

Pemerintah memperkirakan inflasi Juli bakal tinggi. Betul, inflasi Juli 2013 meroket jadi 3,29 persen. Sebagai upaya pengendalian, BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 6,50 persen. Padahal baru sebulan lebih enam hari. Maka kalang kabutlah perbankan di Indonesia. Mereka mulai menaikkan suku bunga deposito dan suku bunga kredit, tentunya.

Tren pelemahan rupiah dimulai. BI mengklaim lemahnya rupiah lantaran besarnya permintaan dolar AS di pasar. Selain perusahaan memerlukan dolar untuk bayar utang luar negeri, pemerintah juga membutuhkan dolar untuk impor, terutama impor minyak dan gas (yang membuat defisit neraca perdagangan). Ditambah lagi tadi banyak investor asing yang menarik investasinya dari Indonesia. Untuk mencegah rupiah makin lemah, BI tentu berbuat sesuatu, misalnya dengan intervensi. Nah, intervensi akan mengeruk cadangan devisa yang tersimpan di BI. Akhir Desember 2012 jumlah cadangan devisa sebesar 112,7 miliar dolar AS. Per akhir Juli tinggal 92,6 miliar dolar AS. Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah per 4 September adalah Rp 11.093.

BI

Dengan penguatan dolar AS, tentu orang yang digaji dengan dolar AS berpesta di atas penderitaan perusahaan yang punya utang luar negeri dalam bentuk mata uang negara adidaya tersebut. Ekonom dan analis berpacu memberikan komentar dan masukan tentang apa yang terjadi saat ini. Mereka berupaya menenangkan pasar agar tidak panik dan membuat rupiah semakin melemah dan investor semakin kabur dari pasar modal Indonesia.

Nah, tren rupiah yang terus melemah ini membuat BI kembali menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya. Dari yang sudah 6,50 persen naik lagi jadi 50 basis poin menjadi 7,00 persen pada 29 Agustus 2013. Belum sebulan dari kenaikan kedua. Alhasil tahun ini BI Rate sudah naik 125 basis poin. Namun kenaikan BI Rate kali ini berhasil menahan inflasi Agustus, yaitu 1,12 persen. Turun sih, dari inflasi Juli. Tapi BPS menyatakan inflasi tahunannya terburuk sejak 1999. Inflasi Agustus 2012 hanya 0,95 persen dan Agustus 2011 cuma 0,93 persen

Pengamat ekonomi Yanuar Rizki mengatakan fluktuasi nilai tukar akan terus terjadi seperti siklus. Setiap kali rupiah dihajar, doi akan menemukan titik keseimbangan baru dengan nilai yang pastinya lebih tinggi dari sebelumnya. Dari tahun ke tahun, nilai tukarnya terhadap dolar AS terus melemah, kan? Kata Yanuar, biang keroknya tentu saja yang mencetak dolar: Amerika Serikat.

Begini ilustrasinya. Sumber likuiditas pasar modal di negeri ini adalah dari investor asing. Hampir 60 persennya dikuasai asing. Nah, uang si investor ini berasal dari kebijakan the Federal Open Market Committee atau kita singkat saja The Fed. The Fed ini mengucurkan stimulus sebesar 600 miliar dolar AS untuk membiayai defisit anggaran AS. Kebijakan ini disebut quantitative easing (QE). Nah, uang inilah yang dipakai oleh investor untuk membeli saham, obligasi, dan portofolio investasi lain di Negara berkembang, termasuk Indonesia. “Tidak mungkin AS yang sedang krisis ketika itu mengucurkan miliaran dolar tanpa tujuan,” kata Yanuar.

Well, belum lama ini The Fed mengumumkan akan menarik kembali stimulus itu (nah, kan!). Bilangnya sih, secara bertahap. Mau bertahap ataupun langsung, telah membuat pasar panik dan investor mulai menarik investasinya di pasar negara ketiga macam Indonesia, India, Thailand, dan lain-lain. Kebanyakan sih menjual portofolio saham. Ini menjadi jawaban mengapa IHSG kita anjlok seanjlok-anjloknya.

Nah, ketika si investor menjual portofolionya di pasar, mereka dapat uang rupiah. Mereka harus nukerin rupiahnya dong jadi dolar AS (ngapain dia simpan tabungan dalam rupiah). Inilah yang membuat kebutuhan dolar meningkat di pasar. Repotnya, likuiditas dolar sudah sangat ketat, apalagi makin banyak ibu-ibu yang arisan pakai dolar. Ketika permintaan tinggi dan stok terbatas, harga pasti naik. Begitulah yang terjadi pada ‘komoditas’ dolar AS. Harganya melangit.

Si investor ini suatu hari akan kembali datang ke pasar Indonesia. Dan dengan harga dolar AS yang kecil kemungkinannya turun (karena siklus tadi), investor ini akan untung dua kali. Pertama karena selisih nilai kurs. Kedua karena mereka bisa beli dua kali lipat dengan uang yang lebih banyak tadi, kemudian kembali ke lingkaran setan.

Belum lagi aksi orang Indonesia sendiri yang memilih menyimpan uangnya di Singapura dan safe haven lain daripada di negeri sendiri. Konon katanya ada sekitar Rp 1.500 triliun dana masyarakat (kaya) di Singapura. Baru Singapura, lho, belum lagi di Negara safe haven lain seperti Hong Kong, Abu Dhabi, Swis, Uruguay, dan lain-lain. Kata ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti, kembalinya dana segini banyak bakal membantu kembalinya rupiah ke posisi stabil.

@republikaonline
@republikaonline

Terus apa?

Yanuar bilang, pemerintah perlu melakukan tindakan ‘mendisiplinkan pasar’. Dan diakuinya ini sedikit sulit lantaran menyinggung kepentingan Amerika. Tapi sekarang masalahnya, tidak ingin bertengkar dengan AS atau menyelamatkan 200 juta jiwa yang bakal mati pelan-pelan tercekik oleh naiknya harga? *40 juta jiwa kita anggap orang kaya yang bisa menghidupi dirinya sendiri ketika rakyat miskin bahkan tidak bisa beli sebutir beras*

n c02

nb: saya kutip dari berbagai sumber pemberitaan. googling saja yah. dijamin saya gak sambil bohong nulisnya. terimakasih juga buat teman saya yang telah memberikan tambahan tulisan. semoga bermanfaat dan didekatkan pada jodohnya *apasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s