“Lurus dan Rapatkan Saf,”

Karena Ramadhan sudah berlalu beberapa hari yang lalu, saya ingin menulis tentang Idul Fitri saja. Tahun ini seperti dua tahun yang lalu, saya melewati Idul Fitri tidak di kampung halaman. Tapi untungnya juga tidak menghabiskan lebaran sambil memantau arus mudik di Jalur Nagreg atau jalur manapun πŸ˜€

Kebetulan tahun ini saya diberi kesempatan untuk menonton langsung siaran shalat Idul Fitri bapak presiden di Istiqlal. Menonton, lho. Bukan meliput.

Mr President dan First Lady datang ke masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut tepat pukul tujuh waktu Indonesia bagian barat. Begitu sampai, shalat dilaksanakan. Ketika melihat kegiatan tersebut, saya agak tergelitik dengan kerjaannya paspampers alias pasukan rempong presiden. Situasinya, di bagian depan barisan, persis di depan imam, dibuatlah semacam tempat shalat khusus untuk pejabat-pejabat Negara. Meskipun hanya dibatasi oleh tali, terlihat sekali pejabat kita enggan berbaur dengan masyarakat (meskipun saya dengar JKT1 alias Joko Widodo tidak shalat sesuai tempat yang telah disediakan pasukan rempong tersebut).

Berbeda situasi dengan di barisan perempuan. Terlihat tidak ada batas-batasan khusus pejabat seperti di barisan laki-laki. Tapi memang ibu Negara diberikan posisi paling depan bersama dengan perempuan penting lainnya.

Yang membuat saya tergelitik adalah betapa β€˜kosongnya’ saf perempuan. Seperti diketahui, setiap melaksanakan shalat, imam selalu mengingatkan untuk meluruskan dan merapatkan barisan. Kalau kata mamah saya dulu, kalau saf tidak rapat, nanti setan bisa ikutan shalat dan mengganggu shalat kita menjadi tidak khusyuk.

Berbeda situasinya ketika itu. Kelihatannya ibu Negara memakai sajadah yang terlalu lebar sehingga posisi beliau di barisan terlalu berjarak dengan makmum lain yang berada di sebelahnya. Padahal kalau digeser-geser, bisa masuk lebih banyak makmum di barisan pertama.

Masalah lurus dan rapat ini tidak hanya saya temukan di shalat Idul Fitri ibu Negara saja, tetapi hampir di kegiatan shalat berjamaah yang saya ikuti, terutama di barisan perempuan (iyalah, mana pernah saya shalat di barisan cowok!). Biasanya perempuan senang membawa sajadah masing-masing. Mulai dari yang biasa, yang imut, yang satu set sama mukenanya, sampai yang lebar, berbusa, bahkan dibuat dari bahan karpet puzzle. Bahkan pernah saya melihat ada yang membawa potongan permadani (boleh pinjam dari Aladdin).

Masalahnya adalah ketika ukuran tubuh si pemilik sajadah lebih kecil dari sajadahnya. Hal ini akan memberi ruang di antara dia dan makmum lain. Dan terkadang orang yang ada di sebelahnya enggan menimpa sajadah miliknya di atas pemilik di sebelah, atau sebaliknya. Jadilah barisan shalat bukan bergantung pada ukuran tubuh, melainkan sajadah. Karena sajadah miliknya lebih bagus, atau terbuat dari sutra, atau dihiasi bulu-bulu lembut atau apapun yang membuat seseorang jadi ingin memamerkan miliknya.

Ketika saya kecil, ustazah di tempat saya mengaji sering memarahi kalau ada anak yang shalat tidak mau dekat-dekat temannya. Pernah juga ada teman saya enggan merapatkan barisan dengan teman sebelahnya karena dia bau. Tapi karena ustazah mengancam hafalan ayat, si anak terpaksa bergeser.

Masih ketika saya kecil, shalat berjamaah di masjid (terutama ketika tarawih) selalu diingatkan imam untuk merapatkan barisan. Bahkan ibu-ibu yang masih punya ruang di sajadahnya memanggil-panggil yang lain untuk maju mengisi kekosongan, meskipun si pemilik sajadah harus sujud di garis batas sajadahnya. Yang penting siku harus bertemu siku, kata mama saya.

Makan buah simalakama ketika shalat berjamaah sering saya alami. Saya berada di tengah-tengah dengan sajadah pas-pasan. Tapi di kanan dan kiri saya orang malah bersajadah lebar dan membuat saya dan dia berjarak. Kalau saya bergeser, seseorang lain bisa maju. Tapi masalahnya tidak ada yang mau maju, tidak ada yang mau bergeser. Karena itulah setiap shalat berjamaah saya malas sekali membawa sajadah. Biar tidak perlu membuat jarak untuk diri sendiri. Dan maka dari itu saya juga jarang sekali shalat berjamaah di masjid (ini sih, alasan yang dibuat-buat :p).

Yang namanya shalat itu kan hubungan antara manusia dan Tuhan. Jadi saya pikir tidak perlulah berlebih-lebihan. Memakai kostum terbaik ketika menghadap Tuhan sangat disarankan. Tetapi kalau bersuci dan bersih sudah mengharapkan pujian dari orang lain (misalnya ke masjid pakai baju koko baru yang terbuat dari kulit landak atau pakai sajadah oleh-oleh sepupu dari Senegal), itu sudah jelas dilarang. Yang tidak disarankan adalah memakai kostum Iron Man ketika shalat. Bahaya.

Happy Eid Mubarak 1434 H. Semoga bersua di Ramadhan tahun berikutnya!

n c02

foto oleh @republikaonline
foto oleh @republikaonline
Advertisements

2 thoughts on ““Lurus dan Rapatkan Saf,”

  1. shalat itu, merapatkan barisan dan saling bahu-membahu dalam mencapai satu tujuan yang sama, bukan menembakkan rudal “ex-wife” ke arah imam. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s