“Seikhlasnya saja, Pak,”

A: “Wah, Bapak ini baik sekali. Saya harus bayar berapa, nih?”
B: “Ah, seikhlasnya saja, Pak,”
A: (mengeluarkan uang Rp 2.000) “Ini, Pak,”
B: (menerima lembaran uang sambil terbengong) (mengucap dalam hati) “Ah, kalau cuma segini kapan saya bisa kaya?”

Adegan ini saya dapatkan di salah satu sinetron Ramadhan yang tayang di sebuah stasiun televisi swasta. Seorang lelaki entah melakukan apa dan dibayar jasa oleh orang yang ia bantu. Ia tidak menyebutkan berapa nilai yang harus dibayarkan, dan menyatakan seikhlasnya. Tapi ketika diberi hanya sejumlah kecil uang, si lelaki ini mengeluh.

Ah, lalu apanya yang seikhlasnya?

Hal serupa saya alami suatu hari ketika pulang bekerja. Saya menumpang sebuah metromini yang ketika itu tidak terlalu sesak. Masih ada bangku kosong, serta jalanan tidak begitu padat. Di lampu merah, dua orang anak muda naik ke dalam metromini. Pakaian mereka lusuh, menunjukkan keduanya hidup di jalanan. Alas kaki hanya sandal jepit, celana kotor dan sobek di sana-sini. Tangan dan kaki mereka digambari dengan tinta permanen.

Tidak satu pun dari dua pemuda itu membawa alat musik untuk mengamen. Dari gelagatnya, saya sepertinya tahu apa yang tengah mereka rencanakan.

“Ya Bapak-bapak, Ibu-ibu, kami anak jalanan minta waktunya sebentar. Bantulah kami yang sulit mencari sesuap nasi. Seribu mungkin tidak berarti buat Bapak-Ibu. Tapi bagi kami sangatlah berharga. Tolonglah kami seikhlasnya,” ujar salah seorang pemuda (redaksionalnya kira-kira seperti itu. Saya lupa persisnya, tapi endingnya seperti itu).

Mendengar kata-kata mereka yang memelas, timbullah rasa kasihan saya. Segera saya merogoh saku untuk mengecek uang dengan nilai kecil. Tapi sayang saya hanya mengantongi uang Rp 400. Saya tidak membawa uang lain kecuali senilai itu (untung sudah bayar metromini).

Ketika si pemuda mencapai kursi tempat saya duduk, saya menyerahkan uang tersebut. Alih-alih berterimakasih, si pemuda malah melempar kembali uang yang saya beri.

“Jangan menghina lo, anj*ng. Emangnya lo pikir gue pengemis?” ujar si pemuda. Dia mengakhiri kalimatnya dengan umpatan serupa.

Saya yang menjadi korban (atau tersangka) ketika itu hanya bisa terbengong-bengong. Hey, memangnya saya salah apa? Katanya butuh uang. Katanya buat beli makan. Katanya seikhlasnya.

Lalu apa arti seikhlasnya yang dia ucapkan kalau nilai yang saya beri malah membuat mereka marah? Lah saya cuma punya segitu dan ikhlasnya segitu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikhlas merupakan sebuah adjektif atau kata sifat yang berarti bersih hati atau tulus hati. Memberikan dengan ikhlas berarti memberi dengan hati yang tulus dan bersih. Nah, kalau sudah bilang seikhlasnya berarti kan siap menerima berapapun, kan?

Ikhlas memberi, tentu ikhlas pula menerima. Tapi sayangnya tidak semua orang bisa memahami maksud dari hubungan ini.

Seikhlasnya didefinisikan lain. Seikhlasnya bukan lagi berarti serelanya atau setulusnya memberi, melainkan ‘sesuai argo’. Seperti misalnya ketika pernikahan kakak saya beberapa waktu lalu. Kami bertanya berapa biaya yang harus dibayarkan kepada penghulu yang merelakan waktunya untuk menjadi wakil dari pemerintah. Kantor Urusan Agama (KUA) mengatakan ‘seikhlasnya’, tapi menyebutkan sejumlah uang yang harus dibayarkan kepada si penghulu. Lalu di mana posisi seikhlasnya yang dia katakan di awal? Kalau memang sudah mematok harga, ya buat apa mengatakan seikhlasnya?

Yang seperti ini tidak hanya sekali dua kali saya temukan. Sering kali orang mengatakan demikian tetapi ujung-ujungnya mengeluh karena tidak sesuai ekspektasi mereka. Beberapa teman saya juga pernah mengungkapkan hal yang sama. Lha kalau begitu jangan bilang seikhlasnya dong!

“Tapi dia itu masih saudara saya, jadi kalau mematok harga gak enak sama dia,” ujar seorang teman ketika melakukan akad jual-beli dengan saudaranya.

Em… kalau memang sudah punya harga sendiri, kan tidak salah menyebutkan. Kalau memang punya ‘harga saudara’, ya bilang saja. Jangan sampai makna mulia ‘seikhlasnya’ jadi tercoreng akibat rasa tidak rela kita ketika yang terjadi malah tidak sesuai perkiraan.

foto by @republika
foto by @republika

Ilmu ikhlas, kata orang-orang adalah ilmu yang paling sulit sepanjang hayat. Namun ketika seseorang telah lulus atas ilmu ini, niscaya dia akan hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan.

Mengutip tulisan uztaz Arifin Ilham di Republika Online (24 Oktober 2012), tanda-tanda ikhlas mudah sekali dilihat. Pertama, dia tidak ge er karena pujian, dan tidak pula sakit hati karena hinaan. Kedua, pantang berkeluh kesah karena semua diputuskan oleh Allah (ehm, nulis ini sambil ngaca). Ketiga, dia puas bukan hanya dengan nikmat Allah, tetapi juga atas segala keputusan Allah.

Ikhlas itu mudah sekali diucapkan, tapi tidak mudah melaksanakannya. Manusiawi sekali ketika saya merasa tidak ikhlas dihina oleh si pemuda (baca: pemalak) tadi. Tapi setelah meredamkan amarah akibat dilempar koin, saya berpikir positif.

“Mungkin saya menghina dia dengan hanya memberi uang Rp 400,” pikir saya. “Mungkin memang dia tidak berpikir meskipun hanya Rp 400, uang itu bermakna buat dia,”

Well…. seikhlasnya sajalah! n c02

Advertisements

One thought on ““Seikhlasnya saja, Pak,”

  1. ini yang saya alami pula, apakah arti seikhlasnya sudah berganti menjadi “harga sewajarnya” di kalangan masyarakat Indonesia ?

    ijin share ya mas tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s