Pulang

Catatan Perjalanan Semeru Bagian V (Habis) <– akhirnya 😀

Sampai di sini, saya berharap semoga masih ada yang membaca catatan perjalanan ini. Bagian ini merupakan bagian terakhir, karena kami harus kembali ke perkotaan untuk melanjutkan hidup (emang di gunung gak hidup yes?).

Hari terakhir di Semeru kami habiskan di Ranu Kumbolo (lagi). Kami perlu mengumpulkan tenaga untuk turun ke Ranu Pani. Jangan salah, untuk turun juga perlu tenaga, lho. Terutama lutut.

Dari Arcopodo kami berangkat sekitar pukul 13.00 WIB (atau lebih, saya lupa). Saya sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 17.30. Tadinya kami masih satu rombongan. Tapi masing-masing punya kecepatan yang berbeda dan saya (yang tidak pernah boleh ditaro paling belakang) sampai lebih dulu dari tiga rekan lain. Yang pertama sampai? Tidak perlu ditanyalah. Galih sampai paling dulu (kayaknya dia pakai Nitrous Oxide System alias N2O deh) dan tega2nya meninggalkan saya di trek yang sama sekali tidak berpenghuni. Bagaimana kalau saya tersesat? Kalau terjebak kabut? Kalau masuk jurang? <– lebay alay

Untung saya bertemu beberapa pendaki yang ikut turun sehingga saya yakin berada di jalur yang benar (dan alhamdulillah mereka pendaki betulan, bukan pendaki penghuni, if you know what i mean).

Setelah tenda didirikan, kami istirahat. Dua rekan saya memutuskan untuk memulai pesta lebih dulu. Setelah mendapat limpahan makanan dari tenda sebelah, mereka akhirnya mengisi perut sebanyak-banyaknya.

Tenda sebelah yang dimaksud adalah 13 backpacker yang satu truk dengan kami. Setelah mencapai puncak, mereka langsung turun ke Ranu Pani. Malam itu juga. Padahal hari sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Mereka pun baru saja mendaki Mahameru (sebagian kecil, sih). Dan saya saja bakal mengeluh panjang dan merengek-rengek kalau disuruh kembali ke peradaban saat itu juga. Mereka menghibahkan banyak sekali makanan dan camilan, kata Galih dan Fuji. Termasuk tiga kilo garam, cokelat, dan berpuluh-puluh tisu basah (Fuji sampai terpesona dengan tisu basah rasa lemon. Eemm…).

IMG02088-20130610-0914

Tiga kilo GARAM. Sekarang saya tahu mengapa mereka sangat ingin menyewa porter untuk mengangkat tas milik mereka. Garam berfungsi untuk mengusir ular kalau ditebar di sekeliling tenda. Dengan tiga kilo garam, mungkin naga atau Loch Ness takut mendekati tenda kami.

Akhirnya saya melihat matahari terbit dari balik lembah Ranu Kumbolo. Setelah selalu terbangun gara-gara suara ngorok yang teman saya hasilkan, bangun merupakan pilihan tepat. Polusi suara tidak bisa ditolerir di dalam tenda yang sempit.

Tenda kami berada di posisi yang nyaris sempurna. Persis di depan garis danau sehingga kami bisa melihat sang surya menyembul dari peraduannya (meskipun tidak terbit tepat di tengah titik terendah lembah).

Apa komentar saya? I should say WOW. Belum pernah saya melihat lukisan Tuhan seindah itu. Sulit deh digambarkan dengan kata-kata. Sebaiknya melihat sendiri bagaimana Dia melukiskan pemandangan yang menyejukkan itu (eeaaa).

Pesta! Pesta! Pesta! Makanan pembuka adalah puding yang sudah saya masak semalam (yang di pagi hari tinggal setengah). Selanjutnya kami menanak nasi, memasak mi instan, menggoreng tempe, dan ikan asin. Tempenya sudah berusia lebih dari tiga hari. Jadi rasanya ya begitu sajalah. Sama tidak nyamannya ketika tahu kamu belum mandi selama empat hari.

Bau ikan asin seperti menjadi magnet bagi penduduk Ranu Kumbolo. Ketika kami menggorengnya, beberapa porter datang mendekat. Orang-orang di sekeliling tenda juga tampak penasaran dengan kami.

IMG02086-20130610-0900 IMG02085-20130610-0859

Rasa penasaran mereka sepertinya juga disebabkan oleh tenda kami yang mencolok. Ukurannya paling besar di antara tenda lain. Seperti tiga tenda dome dijadikan satu. Padahal itu hanya dua tenda, yang salah satunya adalah tenda imut-imut milik Fuji. Yang membuatnya besar adalah pemasangan flysheet norak yang apik oleh duet maut Galih dan abangnya. Jadi porter datang mungkin melihat tenda kami yang 'besar' dan menawarkan bantuan karena tampak membawa beban berat (padahal ada Galih the Superman yg bisa bawa beban 10 kali lipat badannya, hahahah).

Saya sempat merekam kegiatan Fifan tengah melukis Ranu Kumbolo. Hasilnya seperti yang saya curi dari laman Facebook kawan seperjalanan ini. Keren sekali!

Pesta di Ranu Kumbolo berlangsung hingga matahari sampai di atas kepala. Pulang, menjadi kewajiban setelah berlama-lama di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). Dengan tenaga dan semangat yang tersisa, kami kembali ke Ranu Pani.

Perjalanan ke Semeru, meskipun hanya sebuah pendakian, memberikan banyak pengalaman. Kerja sama antaranggota, rencana matang, dan tentu saja kebersamaan. Hal yang jarang sekali terlihat di kota.

Dan melihat Ranu Kumbolo menjadi salah satu hadiah ulang tahun terindah yang pernah saya dapatkan. Bisa menginjak surga itu (terlepas dari 'ranjau' dan sampah-sampahnya) selama dua hari saja adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.

n c02

Fifan sketch
Fifan sketch
Advertisements

3 thoughts on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s