Bukan Sekadar Puncak

(Catatan Perjalanan Semeru Bagian IIII)

Awalnya saya berpikir mendaki puncak Semeru akan sama seperti ketika mendaki puncak Gunung Gede. Namun kenyataannya 180 derajat sangat berbeda. Trek pendakian ke puncak Gede itu sama seperti pendakian dari Kalimati ke Arcopodo. Nah, trek menuju puncak Semeru ini lebih berbahaya, mengerikan dan sangat melelahkan (ini literally ya).

Jarak dari Arcopodo ke puncak sebetulnya tidaklah jauh. Mungkin hanya satu kilometer. Tapi jarak yang dekat ini harus ditempuh dengan waktu sekitar lima jam (oleh saya). Jangan lupa kemiringannya, tidak 45 derajat ya, tapi mungkin hampir 80 derajat (mungkin lho ya). Trek ke puncak bukan tanah basah yang padat dan dihiasi akar-akaran, melainkan tanah gembur dan bebatuan. Sesekali bebatuan jatuh dari atas, membahayakan pendaki yang berada di jalur tersebut. Oleh karena itu pendaki harus berhati-hati, apalagi ketika melakukan trek malam di puncak.

Akhirnya saya menggunakan sepatu saya yang baru untuk mendaki puncak. Udara yang dingin membuat saya harus mengambil risiko melindungi kaki nan lemah ini dari risiko amputasi. Lagipula, buat apa beli sepatu treking kalau tidak dipakai treking? Well, baiklah (baru sadar sekarang).

Perjalanan menuju puncak bukan lagi perjalanan tim. Sama seperti meniti jembatan siratal mustaqim (perumpamaan yang berlebihan, yes), perjalanan ke puncak adalah perjalanan masing-masing pendaki. Pernah melihat poster film 5CM? Yang pendakinya diikat tali? eew, itu sama sekali tidak membantu. Yang paling menderita adalah yang paling atas karena harus menahan beban teman-teman yang di bawah.

Mahameru seperti seekor leopard yang sulit ditaklukkan. Tubuhnya gesit dan akan berusaha sekuat mungkin menjatuhkan pendaki. Mahameru bagaikan belut. Pasirnya licin, seperti tidak rela memberi kesempatan bagi pendaki menuju tempat matinya Soe Hok Gie. Dia seperti setan yang membisikkan bisikan menyerah kepada pendaki. “Ngapain sih lau ke puncak, bikin capek badan aja. Mending bobok di tenda,” begitu bayangan saya soal puncak Semeru yang menyebarkan ion negatif.

Hal itu saya rasakan ketika sampai di tengah perjalanan. Melihat ke atas, puncak Mahameru masih tidak terlihat. Melihat ke bawah, perjalanan seolah masih beberapa meter saja. Ratusan orang tengah berjuang ke atas dengan susah payah. Melihat mereka yang masih di bawah bukannya membuat saya bersemangat karena merasa lebih dulu sampai, tetapi justru bertambah down. Ya Tuhan, ini seperti perjalanan yang tidak ada akhirnya, kata saya dalam hati.

Ingin rasanya berhenti dan duduk saja menunggu matahari terbit di sana. Di tanah yang beku dan hembusan angin yang kencang. Toh saya sudah melewati lapisan awan terbawah dan pemandangannya juga sudah indah. Saya sudah berada di ‘atap’ tanah Jawa. Belum, sih, baru sampai di saluran air. Tapi toh dari situ pemandangan juga sudah menawan.

Tapi leader saya mengatakan untuk tetap berjalan, pelan-pelan saja. “Ngapain buru-buru? Nanti juga sampai di sana,” kata dia. Fokus tapi selow. Ah, mengapa rasanya sulit sekali melakukan itu? Ingin menangis, tapi malu. Saya yang memutuskan untuk mendaki ke puncak, tapi mengapa alasan capek membuat saya menyerah? Kalau dari awal capek, lebih baik tidak usah mendaki, kan?

Dengan sedikit suntikan semangat, yaitu rasa penasaran apa yang ada di puncak, saya ‘ngesot’ selangkah demi selangkah. Tujuan puncak ketika matahari terbit tidak lagi saya pikirkan. Di kepala saya saat itu hanya ada berjalan, berjalan, dan berjalan saja. Saya tidak memikirkan apapun lagi kecuali mengangkat satu kaki, menapakkannya ke tanah gembur, mengangkat kaki yang lain, menancapkannya ke tanah Mahameru dan begitu terus hingga akhirnya saya mendengar seorang pendaki berteriak kepada temannya, “Woooooi, gue udah di puncak. Ayo semangaaaat,”

Meskipun teriakan itu bukan untuk saya, saya merasa Tuhan sedang menyuntikkan insulin ke tubuh ini. Teriakan itu membuat saya tahu puncak sudah di depan mata. Diawasi Fifan, saya berjuang menuju puncak (macam betul aja).

Yak! Perjuangan berakhir ketika akhirnya saya menginjakkan kaki di bebatuan keras tipikal puncak gunung api. Beberapa ujung bendera terlihat dari balik batu-batu besar yang menghalangi pandangan saya. Puncak, puncak! Saya sudah di puncak.

Apa yang ada di puncak? Well, ya begitu sajalah. Puncak itu seperti padang berbatu seluas lapangan bola. Tidak ada apa-apa di sana kecuali segerombol manusia yang mengibar-kibar bendera merah-putih, berpelukan karena mengakhiri perjuangan panjang, dan tentu saja, berkodak. Semacam sekaten. Selain itu tidak ada apa-apa lagi (setidaknya tadi saya berharap ada alfamart, heheh).

Kebahagiaan saya mencapai puncak tidak seperti orang lain. Biasa saja. Tidak seperti seorang teman yang sampai dua kali mencoba menaklukkan Mahameru demi berfoto sampai di puncak. Tidak sepuas Soe Hok Gie yang memutuskan untuk mati di atas sana. Agak bingung saya mengapa hal itu terjadi. Padahal menggapai puncak merupakan bagian penting dalam sebuah pendakian.

Justru yang membuat saya terharu adalah betapa teganya rekan satu tim membiarkan saya berjalan sendirian agar saya percaya pada kemampuan diri sendiri. Mereka membiarkan saya menggapai langkah selanjutnya untuk mengajarkan saya mencari trek ternyaman sendiri. Membantu saya dengan kata-kata justru lebih membantu daripada menarik saya ke atas (yah, meskipun sesekali saya ditarik juga, hahah).

Udara di puncak jauh lebih dingin bila dibandingkan dengan Arcopodo atau Ranu Kumbolo. Iyalah, ketinggiannya juga berbeda. Selain itu pendaki tidak boleh lama-lama di puncak lantaran udara yang bercampur zat beracun. Setelah seluruh tim berkumpul, kami menghangatkan diri dengan secangkir kopi. Kemudian sekitar pukul tujuh, kami turun kembali ke Arcopodo.

Turun merupakan bagian yang paling mudah. Setelah tadi subuh saya gigih menggerayangi Mahameru, meminta kepercayaannya untuk saya belai dengan sepatu baru, kini dia berubah ramah. Dia membiarkan saya turun dengan mudah. Saya seperti sedang naik roller coaster yang tidak pakai rel. Rodanya? Kaki saya sendiri. Perjalanan ke Arcopodo tidak memakan waktu selama ke puncak, cuma 45 menit saja.

Dinginnya puncak membuat saya merindukan sleeping bag dan tenda yang nyaman. Mengantuk, lapar, dan kedinginan bukanlah kombinasi yang menyenangkan. Oleh-oleh dari puncak? Pasir di dalam sepatu dan dengkul yang bergetar usai bermain roller coaster di trek Mahameru!

(Saya tidak bisa mengunggah foto karena tidak memiliki cukup dokumentasi saat di puncak. Teman yang mengaku seorang fotografer menolak mendokumentasikan. :p. Saya akan mencoba memintanya untuk memberikan sedikit dokumentasi di seri selanjutnya :D). Gib mir die daumen!

n c02

Advertisements

5 thoughts on “Bukan Sekadar Puncak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s