Semeru, Tanah Para Dewa

(Catatan Perjalanan Semeru Bagian I)

Pada suatu hari, seorang sahabat berkata kepada saya, “Ngapain lo ke gunung? Ke sana cuma menciptakan utopia dalam diri lo,”. Dia berkata demikian ketika saya mengungkapkan keinginan untuk mendaki. Menurutnya mendaki ke gunung hanya akan membuat saya terjebak dalam imaji. Karena sesuai dengan kondisinya, gunung membuat kita selalu bermimpi dan berharap. Konsepnya seperti itu. Kata dia lebih baik ke pantai, melihat lautan yang luas. Disinyalir dapat memperluas jiwa, pikiran, dan hati.

Ah, masa sih seperti itu? Saya berpikir gunung memberikan jauh lebih banyak kenyamanan buat saya bila dibandingkan dengan pantai. Pantai terlalu ramai, berisik, dan panas. Sedangkan suasana gunung lebih sepi, temaram, dingin, dan tenang. Saya mengakui, saya senang ketika melihat air bergulung membentuk ombak dan meluncur ke bibir pantai. Saya menyukai suara deburan ombak yang memecah karang. Tapi saya lebih senang melihat lekukan bukit dan lembah, tanah yang becek, matahari yang menyeruak di balik bukit, sapuan angin menghembus rerumputan, ilalang dan dengungan angin yang melintas di antara dedaunan. Rasanya lebih berarti buat saya.

Well, itu sih masalah selera. Saya tidak mempermasalahkan apa yang disukai orang lain. Pun saya jangan dipermasalahkan. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah tentang perjalanan saya belum lama ini ke sebuah gunung yang katanya merupakan gunung tertinggi di tanah Jawa. Masyarakat menyebutnya Gunung Semeru.

Saya tidak akan menceritakan sejarahnya, karena orang lain bisa mengambilnya dari tulisan yang lain atau buku referensi sejarah. Saya juga tidak akan menceritakan rutenya karena rutenya sama: Desa Tumpang, Kabupaten Malang – Ranu Pani – Ranu Kumbolo – Kalimati – Arcopodo – Mahameru. Yang ingin saya ceritakan adalah tentang perjalanan saya menuju Mahameru. Yah, mungkin klise juga, sih, karena sudah banyak tulisan pribadi yang mengulas perjalanan masing-masing. Tapi percayalah, perjalanan saya lebih menarik dari mereka 😉

IMG02036-20130606-0802

Semua dimulai dari Stasiun Pasar Senen, DKI Jakarta. Saya dan rekan memulai perjalanan menuju Solo terlebih dahulu, menjemput anggota tim kami yang lain, sekaligus menyiapkan perbekalan. Pukul 07.00 kereta menuju Solo diberangkatkan. Sesampai di Solo kami segera membeli perbekalan dan menata tas ransel pendaki yang disebut dengan carrier.

Karena saya masih amatir, saya berpikir tas saya yang berukuran 40 liter sudah tertata dengan baik. Tapi ketika rekan saya yang di Solo melihatnya, dia menertawakan saya. Katanya penataan tas saya amburadul. Dan dengan seluruh kemampuannya membully, ia ajarkan saya menyusun tas. Tas saya berhasil disusun dan memuat lebih banyak barang (padahal sebelumnya saya sudah mengeluh tas saya kepenuhan). Kata dia, tas yang susunan dalamnya bagus adalah tas yang bisa berdiri tanpa perlu dipegang (macam anak kecil aja).

Setelah semua siap, kami berangkat ke Malang menggunakan kereta. Sesampainya di stasiun, kami harus mencari tumpangan selanjutnya menuju Desa Tumpang di Kabupaten Malang. Sembari menunggu tumpangan, kami bertemu dengan dua orang pendaki lain yang berasal dari Jogjakarta. Mereka mengaku juga ingin mendaki Semeru. Karena kami hanya bertiga, jadilah tim ini bertambah dua orang. Mereka menyebut dirinya sebagai Ajo dan Fifan (mungkin sodaranya pemilik merk Vivan ).

Desa Tumpang terletak di kaki Gunung Semeru. Dari sini kami harus menyewa sebuah truk atau jip menuju pos awal pendakian di Desa Ranu Pani. Biayanya sekitar Rp 450 ribu. Karena kami hanya berlima, maka kami harus mencari orang lain yang bisa diajak naik truk bersama agar biaya sewanya lebih murah (yalaah, harga segitu bisa pesta di gunung).

tim satu truk. foto oleh @djongiskhan
tim satu truk. foto oleh @djongiskhan

Rekan saya akhirnya menemukan teman seperjalanan yang mau berbagi truk. Mereka adalah 13 backpacker yang terdiri dari sembilan perempuan dan sisanya lelaki. Dalam hati saya bersyukur ternyata bukan saya satu-satunya perempuan yang bakal mengeluh dalam perjalanan menuju Mahameru. Kesembilan perempuan itu juga ternyata pendaki amatir. Mereka bertemu di laman media sosial, berkumpul karena anu kenal si anu, dan mengikuti pendakian massal yang digawangi panitia.

Mereka benar-benar memiliki kesiapan yang luar biasa. Masing-masing membawa sebuah carrier yang penuh dengan perlengkapan. Sepatu trekking semata kaki langsung dipakai. Sepatunya terlihat baru. Matras dipajang di atas tas. Berbotol-botol besar air minum, susu, biskuit, dan lain-lain. Saya langsung merasa malu karena dari Jakarta hanya berbekal sepatu jogging, kaos kaki tipis, jaket biasa, tanpa matras, dan minuman seadanya.

Nah, setelah lobi luar biasa dari teman saya, Galih, kami berangkat bersama ke-13 pendaki tersebut dan sampai di Ranu Pani sekitar pukul 14.00. Dari Pasar Tumpang yang merupakan lokasi berkumpul pendaki menuju Ranu Pani memankan waktu hampir dua jam. Biasanya bisa lebih cepat dari itu, ujar Galih. Namun di tengah jalan kami dihadang oleh pekerjaan pengaspalan. Jadilah kami harus berganti truk dan menggendong tas masing-masing. Jaraknya hanya sekitar 300 meter. Tapi treknya yang mendaki membuat saya kehabisan napas begitu sampai di truk pengganti.

Di perjalanan, Semeru yang termasuk dalan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini sesekali memperlihatkan keperkasaan puncaknya. Dari bawah, puncak tersebut seperti tidak terjangkau. Warna puncaknya hitam legam, sedangkan beberapa sentimeter di bawahnya tampak kehijauan. Saya berpikir untuk apa bersusah-susah menuju tempat yang terlihat sangat tidak terjangkau itu. “Astaga, berapa hari yang harus saya habiskan di gunung untuk mencapai puncak itu? Apakah nanti saya bakal disiram lahar kalau sampai di atas?” imajinasi saya bekerja.

Tapi tentu saja saya tidak menyampaikan unek-unek ini pada teman-teman saya, terutama Leader. Bukannya memberikan semangat, dia pasti bakal bilang, “Ya udah, sana balik lagi aja ke Jakarta. Enggak usah ikut,” Hm… tambah hancurlah mental saya bahkan sebelum mencapai Ranu Kumbolo.

Sampai di Ranu Pani saya dan Galih pergi ke pos pendaftaran. Setelah membayar sejumlah uang administrasi, kami beristirahat sebentar di sebuah tempat makan, mengisi perut. Hujan mengguyur ketika kami berada di Ranu Pani. Di sana, kami juga berpisah dengan 13 orang backpacker tadi. Mereka memutuskan untuk langsung mendaki ke Ranu Kumbolo di tengah hujan deras tersebut.

Kami akhirnya menyerah dengan hujan yang tidak kunjung berhenti. Leader memutuskan mulai berjalan, berbalut jas hujan. Ketika itu pukul 16.30.

Perjalanan menuju Ranu Kumbolo memakan waktu sekitar 4 jam. Hujan yang mengguyur membuat trek menjadi sangat becek. Saya disarankan untuk memakai sepatu. Tetapi saya menolak karena sepatu bermerk asing itu baru saya beli dan saya memilih melindunginya dari becek alih-alih menyelamatkan kaki saya yang terendam lumpur dan tergesek ranting (jangan ditiru, ya, akibatnya fatal soalnyah). Selain berpikir sepatu itu masih baru, saya tidak berani membayangkan berjalan dengan sepatu basah dan kotor di trek selanjutnya.

Ada empat pos yang harus kami lalui untuk mencapai Ranu Kumbolo yang sensasional itu. Saya tidak ingat persis berapa jarak setiap pos. Yang paling saya ingat adalah perjalanan terjal di pos ketiga menuju keempat, yang membuat saya ingin menangis sesampainya (ketika itu saya belum melihat trek menuju Mahameru).

foto oleh @djongiskhan
foto oleh @djongiskhan

Akan tetapi kelelahan itu terbayarkan ketika saya mencapai Ranu Kumbolo. Rasa bahagia meluap dari dalam dada ketika leader kami menunjukkan kepada saya seberkas cahaya di ujung lembah. Segerombol cahaya tersebut adalah tenda-tenda pendaki lain yang telah lebih dulu memancangkan pasaknya di Ranu Kumbolo. Tidak tampak jelas keindahan danaunya, karena gelap malam. Tapi melihat lampu-lampu itu saja sudah membangkitkan kembali semangat saya untuk mencapai ke sana (meskipun kenyataannya saya masih butuh waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat itu).

Segera setelah mencapai lokasi yang diinginkan, kami mendirikan tenda. Saya menyiapkan makanan untuk teman-teman yang lain, sementara mereka mendirikan tenda dan menata perlengkapan kami. Setelah makan, semuanya tidur.

n c02

Advertisements

4 thoughts on “Semeru, Tanah Para Dewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s