Menuju Mahameru

(Catatan Perjalanan Semeru Bagian III)

Hari sudah siang ketika saya bangun di Ranu Kumbolo. Dingin menggigit sepanjang malam membuat saya nyenyak di dalam tenda yang lumayan hangat. Ditambah kaki yang pegal dan bahu sakit, tidur rasanya menjadi sesuatu yang mewah meskipun hanya di dalam tenda beralas matras dan berkasur sleeping bag.

Saya tidak sempat melihat matahari terbit dari dua lembah di Ranu Kumbolo. Langit sudah cerah dan matahari sudah sepenggalah. Sayang sekali, memang. Padahal konon katanya matahari terbit di Ranu Kumbolo merupakan sebuah pemandangan yang luar biasa indah.

Setelah makan dan berberes, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuannya ke Arcopodo. Leader kami mengatakan menginap di Kalimati tidak efektif karena terlalu jauh jika ingin ke puncak. Saya yang belum pernah ke Semeru manut-manut saja (iyalah, bisanya cuma iya-iya aja).

Menuju Arcopodo kami harus menyiapkan air. Pasalnya di sana tidak ada sumber air sehingga harus membawa kalau tidak mau mati kehausan. Sebagai orang yang kerjaannya paling santai dalam tim, saya dipaksa mengambil air dalam jerigen. Saat mengambil air di danau, saya melihat rombongan backpacker yang menjadi teman perjalanan kami di atas truk.

Saya menanyai mereka apakah mereka akan melanjutkan perjalanan ke puncak. Ternyata hanya sebagian dari mereka yang akan melanjutkan kemah ke Kalimati. Sisanya tetap di Ranu Kumbolo karena kelelahan. Mereka berjalan sekitar 11 jam dari Ranu Pani ke Ranu Kumbolo. Wow.

Kata Galih, mereka kelelahan karena masing-masing membawa tas carrier yang isinya berat. Padahal kalau pendakian massal, seharusnya tidak perlu membawa banyak barang karena bisa dikoordinasikan. Beberapa seharusnya bisa membawa daypack saja.

Kembali ke perjalanan. Sekitar pukul 13.00 kami berangkat menuju Kalimati sebelum ke Arcopodo. Saya kembali disarankan untuk memakai sepatu. Yak, perjalanan ke Ranu Kumbolo sudah membuat kaki saya sakit dan keseleo karena hanya memakai sandal. Akhirnya saya mengalah. Tapi ketika akan berjalan melalui tanjakan cinta menuju Oro-oro Ombo, hujan kembali mengguyur. Masih dengan alasan yang sama, saya melepas kembali sepatu yang sudah menempel di kaki (emm, kebodohan nomor dua).

foto oleh @djongiskhan
foto oleh @djongiskhan

Perjalanan ke Kalimati memakan waktu tiga jam (well, another helltrack). Kami berhenti hanya untuk istirahat sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan ke Arcopodo. Leader tidak mengizinkan kami beristirahat terlalu lama. Katanya kalau capek, boleh berhenti, tapi jangan lama-lama. Awalnya saya ingin protes dengan aturan itu. Tapi lama-lama saya menyadari memang betul adanya. Terlalu lama beristirahat membuat kaki semakin pegal dan perasaan semakin malas berjalan. Lebih baik terus berjalan dan menyelesaikan istirahat ketika sampai di tujuan, yes.

Saya tidak perlu menceritakan tentang padang edelweiss di Kalimati. Banyak blog dan reportase yang telah menceritakannya. Indah, memang. Kalimati merupakan tempat peristirahatan terakhir pendaki sebelum ke puncak. Sebuah pengumuman dipancang di mulut padang Kalimati. Katanya, Kalimati merupakan pos terakhir pendakian. Pengurus taman nasional tidak bertanggungjawab dengan nasib pendaki yang melakukan perjalanan ke puncak.

Saya berpikir, tentu saja Arcopodo menjadi pos bayangan alias pos illegal bagi pendaki. Ketika saya tanyakan kepada leader, dia hanya berkata, “Gak apa-apa,” (mukanya saat mengatakan ini membuat saya ingin membenamkannya di lahar).

Saya disuruh melihat sendiri perjalanan menuju Arcopodo. Dan ketika saya lihat, treknya membuat gadis mall trauma masuk hutan. Treknya lebih parah dari perjalanan dari Ranu Pani ke Kalimati. Tanjakannya luar biasa mengerikan. Kanan dan kiri trek dihiasi jurang, dan pendaki harus memanjat pohon untuk bisa mencapai langkah selanjutnya (ini agak hiperbola). Belum lagi selesai satu pendakian tinggi, masih ada ratusan pendakian tinggi lain yang menguras tenaga dan harapan (eeaa).

Alhasil kami mencapai Arcopodo tepat ketika Adzan berkumandang (berkumandang dalam imajinasi saya). Kondisinya hujan deras, becek, air membasahi seluruh tanah, bahkan banjir (ini juga hiperbola).

Akhirnya di tengah kepanikan anggota tim, leader saya memerintahkan salah seorang mengeluarkan flysheet untuk tempat berlindung sementara. Flysheet miliknya yang lebih besar dari ukuran kamar kos saya dibentangkan, dan kami meringkuk di dalamnya. Kami nenggigil kedinginan, basah, panik, takut, dan lain-lain (lebih tepatnya ‘saya’, bukan ‘kami’).

Dengan tenang si leader mengeluarkan kompor miliknya, memanaskan air dan membuat minuman hangat. Setelah itu minuman dibagi dan digilir kepada seluruh anggota. Pesta belum usai. Ia membuatkan kami mi instan dan kembali ritual penggiliran itu dilakukan. Dan semua selalu berakhir di tangan Galih (terlihat dari ukuran tubuh paling besar).

foto oleh @djongiskhan
foto oleh @djongiskhan

Hampir satu jam rasanya kami meringkuk di dalam flysheet oranye mentereng tersebut. Setelah hujan dirasa bersahabat, kami mulai mendirikan tenda. Dalam sekejap tenda dipasang dan diselimuti flysheet. Seluruh anggota masuk ke dalam tenda, mengeluarkan sleeping bag dan mengumpulkan tenaga menuju puncak alias tidur.

Perjalanan ke Mahameru dilakukan tengah malam karena waktu tempuhnya cukup lama. Rencananya kami ingin melihat matahari terbit di puncak sana. Konon katanya melihat matahari di puncak Gunung Semeru merupakan sebuah mahakarya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Saya baru menyadari alasan sebenarnya kami berkemah di Arcopodo. Perjalanan dari Kalimati menuju Arcopodo cukup melelahkan, meskipun tidak membawa beban di punggung masing-masing. Bagi yang tidak mampu melakukan manajemen makanan, pasokan konsumsi bakal habis sebelum mencapai puncak. Menginap di Arcopodo, meskipun illegal, cukup membuat saya bertenaga menuju puncak. Saya masih sempat beristirahat sekitar tiga jam, meskipun tidur saya di sana tidak begitu nyaman (belakangan baru disadari, tidak nyamannya tidur saya mungkin disebabkan oleh adanya tugu peringatan atas meninggalnya seorang pendaki yang posisinya persis di atas kepala saya). Sebelum mendaki puncak pun kami masih sempat ‘sarapan’ seadanya.

n c02

Advertisements

5 thoughts on “Menuju Mahameru

  1. seninya hiking menurut saya sih terletak di manajemen perjalanan. manajemen baik, pendakian lancar dan terasa nikmat. untuk ukuran gunung seperti semeru butuh sekali sebuah manajemen yg bagus. mulai dari persiapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s