Revolusi Telekomunikasi Negeri Rohingya

Subscriber Identity Module (SIM) Card atau yang terkenal dengan nama Kartu SIM diperkenalkan pertama kali oleh pemerintah militer Myanmar sekitar satu dekade yang lalu. Kartu telepon seluler tersebut dibanderol 7.000 dolar AS atau setara Rp 62 juta per keping. Hari ini, harga kartu tersebut masih di atas Rp 1,9 juta.

Namun mulai Kamis (2/5) pemenang lotre yang beruntung akan mendapatkan kartu SIM seharga Rp 19.400 saja. Ini adalah deregulasi telekomunikasi a la Myanmar. Pemerintah Myanmar telah menjual 350 ribu kartu SIM melalui lotre publik dan berencana untuk meningkatkan jumlahnya. Pemerintah menggandeng Yatanarpon Teleport, perusahaan patungan milik negara dan swasta lokal untuk proyek ini.

Selama rezimnya, penguasa militer mengabaikan pengembangan sektor telekomunikasi. Mereka membangun kerangka infrastruktur yang hanya bisa menangani seluler seadanya. Mereka juga melarang pengembangan sektor telekomunikasi oleh asing.

various-sim-cards

Munculnya kartu SIM murah ini diperkirakan akan meningkatkan penetrasi seluler di Burma. Pemerintah mengungkapkan penetrasi seluler di Myanmar hanya sembilan persen, meskipun telekomunikasi Swedia Ericsson tahun lalu menyatakan penetrasi Myanmar kurang dari empat persen. Presiden Burma Thein Sein menargetkan penetrasi seluler meningkat 80 persen pada 2015.

“Potensi pasar jelas sangat besar,” ujar pengacara dari firma hukum Allens Marae Ciantar, seperti dilansir laman Reuters, Senin (29/4). Ericsson memperkirakan dampak ekonomi terhadap sektor telekomunikasi di Myanmar mencapai 7,4 persen dari Produk Domestik Bruto negara tersebut.

Dari pengalaman di berbagai negara, pengembangan sektor telekomunikasi akan memacu pertumbuhan ekonomi serta mendorong reformasi politik. Ericsson menyebutkan jaringan seluler akan meningkatkan pertumbuhan usaha kecil dan efisiensi.

Seorang konsultan telekomunikasi dari Asian Development Bank (ADB) David Butcher mengungkapkan jaringan telepon seluler akan meningkatkan ekonomi di perdesaan. “Beberapa perhitungan menunjukkan dampak dari telepon seluler akan meningkatkan ekonomi kecil sebesar 20 persen,” ujar Butcher yang tahun lalu melakukan kajian terhadap sektor telekomunikasi Myanmar.

Cell-phone-facts-funny-person

Pemerintahan Myanmar yang baru telah melakukan reformasi terhadap pengembangan sektor telekomunikasi. Pada 27 Juni pemerintah akan mengumumkan dua pemenang lisensi telekomunikasi Myanmar. Sejumlah perusahaan asing tertarik memperebutkan lisensi 15 tahun tersebut, termasuk perusahaan pelat merah Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Sayangnya Telkom gagal menjadi 10 besar karena tidak memenuhi persyaratan yang diinginkan pemerintah Myanmar. Beberapa perusahaan asing yang berhasil masuk ke seleksi akhir adalah seperti MTN Afrika Selatan, Singapore Telecommunications, Telenor Norwegia, China mobile yang berafiliasi dengan Vodafone, dan Barthi Airtel.

Vodafone berjanji akan menyediakan sistem yang memudahkan pemilik kartu SIM untuk bertransaksi keuangan melalui seluler, jika perusahaan tersebut memenangkan hak lisensi. Sistem ini menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat di daerah tertinggal dengan infrastruktur perbankan yang terbatas. Ini akan memudahkan pekerja mengirim uang ke kampung halaman mereka.

Hal tersebut oleh Vodafone telah diterapkan di Kenya. “Pada 2006 hanya 20 persen orang Kenya yang memiliki akses ke layanan keuangan. Namun di akhir 2010 jumlahnya meningkat hingga 75 persen,” ujar CEO Vodafone untuk Afrika, Timur Tengah dan Asia Pasifik Nick Baca.

Munculnya jaringan telekomunikasi yang terjangkau mungkin memiliki potensi untuk perubahan sosial dan ekonomi yang besar di negara yang sempat terjadi kekerasan antaragama tersebut. Namun bagi orang-orang kecil di sepanjang jalanan kota terbesar Myanmar, Yangon, kehadiran kartu SIM murah menciptakan sebuah harapan yang sederhana.

“Saya dapat terhubung dengan teman-teman, penumpang, dan keluarga. Mereka dapat menghubungi saya jika ada keadaan darurat,” ujar seorang pengemudi taksi sepeda di kota Yangon Kai Saw Lin kepada Reuters.

Sayangnya meskipun ia memenangkan lotre untuk mendapatkan kartu SIM, Kai mengaku tidak akan bisa menggunakannya. Pasalnya dengan pendapatan yang hanya Rp 45.000 per hari ia tidak mampu untuk membeli telepon seluler.

n c02

Antara Foto

Advertisements

One thought on “Revolusi Telekomunikasi Negeri Rohingya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s