Raksasa Teknologi Jepang Tergerus Revolusi Digital

Di tahun 1990an elektronik Jepang menguasai dunia. Sebut saja Sony, Panasonic, dan Sharp. Ketiganya adalah elektronik yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya menguasai elektronik rumah tangga mulai dari televisi, kulkas, bahkan setrika.

Namun kini ketiga raksasa teknologi tersebut tengah kritis. Mereka terkapar tak berdaya di tengah gempuran raksasa teknologi lain yang memberikan nilai lebih kepada konsumen. Apple Inc dan Samsung Electronics Co merupakan ancaman terbesar raksasa teknologi Jepang.

walkman-1979

Dulu di kereta bawah tanah Jepang, hampir semua anak muda mendengarkan musik melalui walkman keluaran Sony. Namun hari ini mereka justru menikmati musik dari iPhone dan Samsung. Di tanah kelahiran Sony. Kehancuran raksasa Jepang juga terlihat dari rapor merah perusahaan. Sony membukukan keuntungan sangat kecil sejak 2008. Panasonic diperkirakan membukukan kerugian 9 miliar dolar AS. Sharp kehilangan uang begitu cepat dan dinilai tidak akan mampu bertahan satu tahun lagi tanpa suntikan besar uang tunai.

Ekonom yang berbasis di Tokyo Gerhard Fasol menyebutkan raksasa Jepang mulai melemah kuasanya akibat revolusi digital. Raksasa Jepang membangun kerajaan mereka dengan menciptakan mesin listrik yang kompleks, seperti radio, televisi, pemutar musik portabel, kulkas, dan mesin cuci.

36034_Enlarged_1

Kemudian revolusi digital dimulai dan dunia berubah total. Sony walkman adalah contohnya. “Walkman adalah perangkat yang murni mekanis sedangkan hari ini Anda harus memiliki model bisnis yang sama sekali berbeda,” ujar Fasol seperti dilansir laman BBC, Selasa (2/4).

Revolusi digital tidak hanya mengubah cara perangkat elektronik bekerja, tetapi juga mengubah cara mereka dibuat. Model manufaktur ikut bergeser seiring dengan perpindahan produksi perusahaan ke negara berbiaya rendah. Hal ini mendorong tekanan besar pada margin perusahaan Jepang. Misalnya seperti iPhone dan iPod. Orang mengatakan keduanya dibuat di Cina. Namun hanya tiga persen dari total produksi tersebut beredar di Cina. “Apple telah membukukan keuntungan lebih dari 50 persen,” kata Fasol.

Di antara tiga perusahaan Jepang di atas, Sony merupakan satu-satunya yang mampu bertahan. Itupun lebih banyak karena menjual asuransi daripada menciptakan produk teknologi. Presiden Hitachi Corporation Hiroaki Nakanishi mengungkapkan keprihatinan yang sama. Teknologi digital mengubah segalanya. Dalam industri televisi, hal itu berarti hanya satu chip yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah televisi besar dengan kualitas dan resolusi yang tinggi. Kini semua perusahaan dapat melakukannya. “Hal ini berarti pemain baru dari Korea dan Cina bisa melakukannya,” kata Hiroaki.

Hitachi telah membangun reputasi menjadi perusahaan dengan teknologi terbaik. Namun kini semuanya berubah. Perseroan harus mengalihkan persaingan ke penjualan dan pemasaran terbaik yang berarti pengeluaran besar untuk biaya iklan. Struktur industri telah berubah dalam sekejap mata. Jika sebuah perusahaan tidak mampu melakukannya, maka perusahaan tersebut harus siap gulung tikar.

n c02

ipod-nano-4th-gen-0

Advertisements

One thought on “Raksasa Teknologi Jepang Tergerus Revolusi Digital

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s