Selamat Datang di Tanjung Puting

Banner Tanjung Puting

Ketika mendengar Kalimantan, setiap orang pasti akan berpikir tentang suku Dayak atau tambang batu bara atau minyak bumi dan gas (migas). Stereotip lain masyarakat tentang pulau yang dihuni oleh tiga bendera ini adalah panas, gersang, terisolir dan tidak berkembang.

Memang, Kalimantan telah menjadi pusat eksploitasi kayu dan berbagai jenis tambang. Manusia yang mengaku ingin mengembangkan perekonomian Indonesia telah memerkosa Pulau Borneo, mengikis kekayaannya dan menghabisi pesonanya.

Tapi dibalik kekejaman yang dilakukan masyarakat modern, Kalimantan masih menyimpan satu harta terakhir: orangutan.

IMG01596-20121208-1501

Indonesia merupakan satu-satunya negara yang menjadi tempat tinggal orangutan. Kalimantan adalah salah satu pulau yang menjadi rumah primata ini. Pongo pygmaeus, itulah nama ilmiah untuk orangutan Kalimantan. Mereka bertetangga dengan Pongo abelii, yang menghuni negeri Andalas alias Pulau Sumatra.

Perjalanan saya ke Kalimantan berlangsung akhir tahun lalu. Tepatnya ke Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Akhirnya saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Dayak, meskipun belum sempat ke kampung mereka.

Perjalanan dari Jakarta ke Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, saya tempuh dengan salah satu maskapai di Indonesia. Untuk mencapai Tanjung Puting dari Pangkalan Bun, saya dan rekan harus menggunakan transportasi air. Ada dua jenis alat transportasi yang bisa dipilih, kapal cepat alias speedboat atau kapal wisata yang disebut masyarakat setempat sebagai klotok. Dinamai klotok karena kalau berlayar, si kapal akan mengeluarkan bunyi ‘tok tok’.

IMG01587-20121208-0845

Rekan dan saya memutuskan untuk menggunakan jasa speedboat, supaya lebih cepat sampai tujuan. Menggunakan speedboat, kami berangkat dari Pelabuhan Panglima Utar di Pangkalan Bun, menyeberangi Sungai Arut, menuju muara Sungai Sekonyer.

Untuk pertama kalinya saya melihat sungai yang lebarnya melebihi jalan raya. Bahkan jalan tol Cipularang tidak selebar Sungai Arut. Sayangnya sungai tersebut berwarna kecokelatan, ciri khas sungai yang telah dicemari oleh tangan manusia. Yah, seperti yang sudah saya bilang di atas, sudah banyak bagian di Kalimantan yang digerayangi tangan jahat manusia.

Sungai Sekonyer kami lalui lebih dari 40 menit (kalau pakai klotok bisa berjam-jam katanya). Sungai ini tidak lebih lebar dari Sungai Arut, bahkan mungkin tiga kali lpat lebih sempit. Yah, kalau dibandingkan dengan jalanan Jakarta seperti satu ruas tol deh. Di kanan-kiri mata dimanjakan dengan pohon nipah, yang menjadi salah satu favorit orangutan.

IMG01666-20121212-0942 Sungai Sekonyer Kanan

Keajaiban Tanjung Puting dimulai ketika kapal cepat kami memasuki muara anak Sungai Sekonyer, Sekonyer Kanan. Warna air sungai mendadak berubah dari coklat keruh menjadi merah kehitam-hitaman, namun sangat jernih. Pemandangan ini sama seperti ketika melihat pertemuan dua arus laut di Selat Gibraltar yang menciptakan semacam garis di tengahnya, memisahkan kedua warna laut.

Meskipun air sungai berwarna merah kecoklatan, persis seperti coca cola, sungainya saaaaangat jernih. Airnya pun dingin menyejukkan. Ingin rasanya saya terjun ke sungai dan berendam. Tapi niat tersebut saya urungkan ketika rekan saya mengatakan sungai itu mengandung buaya.

Di Tanjung Puting terdapat beberapa camp. Camp ini adalah semacam pos penjagaan taman nasional. Setiap camp dijaga oleh polisi hutan. Tujuan saya dan rekan adalah menuju Camp Leakey. Tujuan ini bukan tanpa alasan. Camp tersebut merupakan yang tertua di Tanjung Puting. Bahkan sebelum Tanjung Puting didaulat sebagai taman nasional, camp ini sudah lebih dulu melindungi orangutan Kalimantan.

Camp tersebut didirikan oleh seorang Kanada yang bernama Birute Mary Galdikas. Ia merupakan peneliti orangutan dan telah mengabdikan dirinya di Tanjung Puting sejak usia seperempat abad.

Perjalanan dari pelabuhan menuju camp memakan waktu 60 menit menggunakan kapal cepat. Sesampai di dermaga Camp Leakey, kami disambut dua polisi hutan bernama Kris dan Darham. Mereka yang akan menemani kami selama empat hari ke depan untuk menjelajahi Camp Leakey.

Tidak ada sinyal telepon di sana, yang di awal kedatangan cukup membuat saya panik. Listrik pun seadanya karena memanfaatkan solar cell yang tidak besar dayanya sehingga di malam hari kami harus rela bermain dalam remang. Sebetulnya ada sih, fasilitas untuk seluler, yaitu sebuah tower mini yang berfungsi untuk menangkap sinyal. Tapi tower itu hanya mampu melayani satu ponsel saja setiap dipakai.

IMG01644-20121210-1625

Bangunan di Camp Leakey pun dibuat seramah mungkin dengan hutan, yaitu terbuat dari kayu. Sebagian kecil saja yang dibangun permanen.

Di setiap camp selalu terdapat yang namanya lokasi pemberian makan. Di tempat ini orangutan akan mendapatkan asupan makanan seperti buah-buahan dan susu. Feeding time dimulai pukul tiga sore waktu setempat. Asupan makanan ini tidak untuk membuat si orangutan malas berburu, melainkan sebagai tambahan makanan. Orangutan tidak wajib datang ke lokasi feeding, tentu saja.

IMG01598-20121208-1542

Tempat pemberian makan itu berjarak sekitar 20-30 menit dari pusat Camp Leakey. Lokasinya berupa tanah lapang yang dikelilingi pohon tinggi. Di tengah tanah lapang tersebut berdiri semacam panggung ukuran 5×4 meter sebagai ‘meja makan’. Tidak jauh dari panggung tersebut terdapat bangku-bangku yang terbuat dari kayu.

Ya, lokasi pemberian makan tidak hanya untuk memberi tambahan suplemen bagi orangutan, tetapi juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Tanjung Puting. Hampir setiap sore saya dan rekan mengabadikan kegiatan makan orangutan di lokasi tersebut. Dan setiap waktu pemberian makan, lokasi tersebut tidak pernah sepi wisatawan. Sebagian besar adalah wisatawan asing.

Selain ke lokasi feeding, kami juga berkeliling Camp Leakey untuk berburu foto. Kami juga melakukan hiking dan bermain ke Danau Buaya.

IMG01620-20121209-1602

Perjalanan ke Danau Buaya kami lakukan di hari ketiga di Camp Leakey. Namanya memang danau, tapi sebenarnya genangan itu adalah sebuah telaga. Jangan bayangkan Situ Patenggang apalagi Danau Toba. Telaga tersebut cukup luas tapi tidak cukup besar untuk disebut sebagai danau.

Kris menakut-takuti saya kalau di danau tersebut banyak sekali buaya, sesuai namanya. Tapi sampai kami kembali lagi ke daratan, tidak ada buaya yang menampakkan batang hidungnya. Saya menyadari sebenarnya ia hanya membual (ˇ_ˇ’!l).

Tanjung Puting yang merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara ini hanya satu dari jutaan keajaiban di tanah nusantara. Masih banyak keajaiban lain yang dimiliki Indonesia, yang harus dijaga dan dijauhkan dari pemanfaatan atas nama pariwisata.

Perjalanan ke Tanjung Puting merupakan sebuah pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Rasanya empat hari menjelajahi hutan tidak cukup bagi saya untuk mengenal salah satu makhluk Tuhan tersebut. Benteng terakhir Pongo pygmaeus ini adalah pesona Kalimantan yang tidak terjamah tangan jahat manusia. Jangan.

Cerita selengkapnya boleh juga melihat tautan ini:
https://roronoa9.wordpress.com/2013/03/26/taman-nasional-tanjung-puting/

n c02

Gaya Alay Dua Jari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s