“Dek, Mas Boleh Menikah Lagi?”

articleLarge

Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita kepada saya. Ia mengatakan suaminya ingin menikah lagi. Bukan main rasa terkejutnya. Saya sendiri juga merasa kaget dengan cerita teman ini. Pasalnya mereka bukan pasangan taaruf yang kebanyakan siap dimadu (no offense yah).

Mereka pasangan biasa, yang pacaran beberapa tahun dan menikah dengan cara yang biasa pula. Mereka sudah memiliki anak dan menikah cukup lama. Namun pernyataan si suami bagai petir yang cetar membahana di siang bolong, bagi saya.

Mungkin pernikahan mereka belum sampai 10 tahun. Entahlah. Memang suaminya ini cukup kaya dan memiliki penghasilan yang mungkin bisa 4 kali lipat penghasilan saya. Mungkin dia merasa mampu untuk memiliki seorang istri lagi, saya tidak tahu.

Apa yang dilakukan si suami teman saya ini memiliki istilah ilmiah, yaitu poligami. Poligami berasal dari bahasa Yunani, //poly// yang berarti banyak dan //gamos// yang berarti istri, yang kalau digabungkan menjadi ‘beristri banyak’. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dl waktu yang bersamaan.

Karena memiliki leksikal ‘gamos’ yang berarti istri, poligami ditujukan kepada seorang laki-laki beristri lebih dari satu. Sedangkan untuk kasus sebaliknya, istri bersuami banyak, disebut poliandri.

Poligami telah dikenal umat manusia sejak lama. Dulu sekali poligami dilakukan oleh banyak laki-laki terhormat dan diterima dengan senang hati oleh para istri. Poligami dilakukan lantaran masih banyaknya masyarakat yang berpikir patriarki, atau kelaki-lakian. Laki-laki memiliki hak atas perempuan, bahkan untuk memiliki lebih dari satu istri. Baru di abad ke-20 sistem patriarki mulai melemah, seiring dengan digaungkannya hak asasi manusia, termasuk kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan.

ariel-molvig-polygamy-explained-new-yorker-cartoon

Secara umum bisa dibilang sistem poligami dibenarkan oleh agama-agama.

Dalam ajaran Hindu terdapat tiga jalan hidup yang dipilih manusia atau disebut dengan istilah selibat. Tiga selibat tersebut adalah Shukla Brahmcari, Sewala Brahmacari, dan Krsna Brahmacari. Dalam Slokantara 1 disebutkan Shukla Brahmcari adalah seseorang yang memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya. Hal ini dilakukan bukan karena tidak mampu, melainkan sudah menjadi jalan hidup yang ia pilih. Tipe kedua atau Sewala Brahmacari adalah orang yang memutuskan untuk menikahi satu perempuan saja. Bahkan ketika perempuan yang ia nikahi meninggal, ia tidak mencari penggantinya.

Tipe terakhir adalah seseorang yang menikah lebih dari sekali. Pilihan ini sesuai seperti yang disebutkan dalam Slokantara 1, “Krsna brahmacari ialah orang yang kawin paling banyak empat kali, dan tidak lagi. Siapakah yang dipakai contoh dalam hal ini? Tidak lain ialah Sang Hyang Rudra yang mempunyai empat dewi, yaitu Dewi Uma, Gangga, Gauri, dan Durga. Empat dewi yang sebenarnya hanyalah empat aspek dari yang satu, Inilah yang ditiru oleh yang menjalankan krsna brahmacari.”

Dalam Kristen juga tidak terdapat larangan untuk melakukan poligami. Mengutip makalah milik salah seorang ulama yang cukup saya hormati, Quraisy Shihab, pernikahan seorang laki-laki dengan beberapa perempuan juga dibahas di dalam alkitab. Di dalam Perjanjian Lama disebutkan, “Nabi Sulaiman mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak firaun, ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon, dan Het… Hati Sulaiman telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia memiliki 700 istri bangsawan dan 300 gundik.” (Raja-Raja I 11:1,3).

Masih di Perjanjian lama, anak Sulaiman Rehabeam juga dinyatakan memiliki istri lebih dari satu. “Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih daripada semua istri dan gundiknya—ia mengambil 18 istri dan 60 gundik dan memperanakkan 28 anak laki-laki dan 60 anak perempuan.” (Tawarikh II 11:21).

Hingga abad ke-17 tidak ada larangan dari gereja untuk memiliki istri lebih dari satu. Pasalnya tidak ada satu pun ayat dalam alkitab yang melarang poligami. Nabi Isa sendiri tidak pernah menyatakan haramnya poligami dalam Kristen. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5 5:17-18). Namun munculnya minoritas antipoligami membuat tradisi ini bergeser seiring waktu. Bahkan banyak yang berpikir larangan poligami menjadi salah satu ajaran agama.

Islam juga tidak pernah melarang adanya praktek poligami. Baik alquran maupun hadits telah membenarkan dan membolehkan poligami. “Dan jika kamu khawatir tidak mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim. (QS 4:3)

Tapi perlu diingat Islam membolehkan seseorang menikah lebih dari satu kali dengan syarat-syarat tertentu. Dalam Surat An Nisa di atas disebutkan seorang laki-laki boleh menikahi lebih dari satu perempuan, namun dengan syarat dia mampu berlaku adil. Adil di sini tentu saja baik dalam adil materi ataupun kasih sayang. Namun bila tidak mampu untuk berbuat adil, maka jangan sekali-kali berani berpoligami.

Banyak yang berpikir berpoligami dibolehkan karena ada ayat yang menganjurkannya. Pun Rasulullah melakukannya. Tapi Quraisy Shihab menilai tidak semua yang dilakukan Rasul perlu diteladani, sebagaimana tidak semua yang wajib atau terlarang bagi beliau adalah wajib dan terlarang pula bagi umatnya. Seperti misalnya menikah lebih dari satu istri. Kita tahu tujuan Rasulullah menikahi beberapa orang perempuan bukan untuk memenuhi kebutuhan seksual. Pada umumnya istri-istri yang ia nikahi adalah janda yang ditinggal mati suaminya atau budak.

Polygamy

Perlu digarisbawahi, Nabi Muhammad saw melakukan poligami lama setelah wafatnya istri pertama beliau, Khadijah. Seperti yang kita ketahui, beliau menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun dan pernikahan mereka berlangsung selama 25 tahun ketika maut memisahkan mereka. Pernikahan kedua Rasulullah berlangsung ketika beliau berusia lebih dari 55 tahun, sedangkan beliau wafat di usia 63 tahun. Hal ini berarti praktek poligami yang beliau lakukan hanya kurang dari 10 tahun. Waktu ini jauh lebih pendek bila dibandingkan dengan pernikahan monogami Rasulullah. Itupun dengan janda-janda. Mungkin hanya Aisyah yang menjadi istrinya yang muda dari segi usia.

Begitu pula sebelumnya dengan Nabi Ibrahim. Beliau memiliki dua orang istri, yaitu Siti Sarah dan Siti Hajar. Nabi Ibrahim menikah dengan Siti Hajar atas anjuran istri pertamanya. Pasalnya pernikahan mereka yang berlangsung selama puluhan tahun tidak juga dikaruniai keturunan. Demi kelangsungan garis keturunan, Siti Sarah dengan ikhlas melepaskan suaminya dengan perempuan lain.

Bila memang seorang laki-laki ingin berpoligami, mengapa ia tidak meneladani Rasulullah dan Nabi Ibrahim dengan sepenuhnya? Mengapai tidak menikahi janda yang ditinggal mati suaminya atau perempuan tua yang memerlukan perlindungan?

Quraisy Shihab menggambarkan poligami seperti pintu darurat yang terpaksa dibuka apabila tidak ada pilihan lain kecuali membukanya. Poligami dideskripsikan sebagai pintu yang harus dibuka seizin pilot demi keselamatan seluruh penumpang. Yang membukanya pun bukan sembarang orang, melainkan orang yang mampu melakukannya.

Larangan poligami dilakukan karena dampak buruk yang mengiringi sisi positifnya. Longgarnya syarat dan rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang tujuan pernikahan telah memberikan poligami lebih banyak hal buruknya daripada hal baik. Manusia adalah makhluk yang memiliki hawa nafsu. Artinya tidak ada manusia yang mampu berlaku adil seperti Tuhan berlaku adil pada semua makhluknya. Bila berpoligami, pastilah ada istri yang paling disayang. Bahkan Rasulullah pun demikian. Beliau menyayangi Aisyah lebih daripada istri-istrinya yang lain. Dampak buruk inilah yang membuat poligami harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal inilah yang membuat pelarangan poligami menjadi mutlak.

Tapi dampak buruk ini bukan berarti alasan yang tepat untuk membatalkan hukum yang ada. Hal ini bergantung pada manusia yang melakukannya. Seperti yang dituliskan dalam pedoman hidup, berpoligamilah jika kamu MAMPU.

Saya berharap teman saya membaca tulisan ini. Hidup adalah pilihan. Kalau tidak ke kanan, ya ke kiri. Tinggal ia memilih jalan mana yang menurutnya baik dan pantas dilalui.

n c02

polygamy_1318313c(4)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s