Smile Like You Mean It

Sekitar satu bulan lalu saya marah pada seorang teman. Saya merasa dia bersikap sangat menyebalkan sehingga membuat saya sulit mengontrol emosi. Saya akhirnya mendiamkannya demi kelanjutan hidup saya yang ketika itu tengah dihadapi stres.

Namun setiap kali marah, saya hanya butuh waktu maksimal satu hari untuk kembali seperti semula. Setelah itu saya akan melupakan kemarahan itu. Tapi ternyata teman yang satu ini justru bersikap sebaliknya. Dia malah berbalik marah dan mendiamkan saya. Setiap kali bertemu kami seperti dua manusia yang tidak saling mengenal.

Kasus kedua saya alami belum lama ini. Saya sedang dalam perjalanan menuju ke tempat kerja ketika saya bertemu dengan seorang kolega sekantor (ini teman yang berbeda dari yang tadi, yah). Dari jauh saya sudah menyadari kehadirannya. Maka saya pun melakukan geladi bersih untuk menyambut kedatangannya. Saya menyiapkan senyum terbaik.

Tapi ketika jarak antara saya dan si teman ini sudah hanya dua-tiga meter, saya tidak melihat gelagat si teman menyadari kehadiran saya sebagai orang yang dikenalnya. Bahkan ketika kami bertemu mata, tidak satu kata pun yang keluar dari oralnya. Tidak satu gerakan bibir pun. Tidak satu kedutan pun di bibirnya.

Akhirnya dengan hati woles saya memaklumi kedua kejadian tersebut, meskipun keduanya membuat saya sempat naik darah. Tapi saya mencoba untuk berpikir positif. Mungkin mereka sedang mengalami masalah atau sesuatu yang membuat hidup mereka terancam.

Dua kejadian di atas mengingatkan saya akan pentingnya sebuah kedutan di bibir seseorang yang biasa disebut sebagai senyum. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) senyum adalah gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir sedikit.

Untuk bisa tersenyum, seseorang hanya membutuhkan beberapa kalori. Mungkin tidak sama banyaknya dengan yang dibutuhkan manusia untuk tertawa atau mengunyah. Tapi efek senyum ini luar biasa.

Dilansir laman Telegraph, senyum disinyalir dapat menurunkan level stres seseorang. Senyum juga bisa mengurangi tingkat detak jantung ketika seseorang sedang mengerjakan pekerjaan yang sulit.

Peneliti dari Universitas Kansas Tara Kraft membagi senyum menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah senyum standar. Senyum ini menggunakan otot yang berada di sekitar mulut. Sedangkan senyum lain disebut senyum tulus, yang menggunakan tidak hanya otot mulut tetapi juga mata.

Keduanya termasuk efektif untuk menghilangkan stres, meskipun hanya sebuah gerakan otot biasa. Selain stres, senyum juga dapat mencegah munculnya kerutan di wajah. Senyum juga memperlancar aliran darah di sekitar wajah. Well, belum ada penelitian yang menunjukkan dampak negatif dari senyum. Tapi ada dampak sosial yang negatif, yaitu akibat senyum sinis.

Bukan senyum sinis yang akan kita bicarakan di sini, tetapi senyum dari sisi positifnya.

065365_show_us_your_smile

Seperti yang sudah saya katakan, efek senyum sangatlah ajaib. Senyum memiliki semacam kekuatan tenaga dalam dari pemberi kepada penerima. Ketika seseorang sakit, melihat orang lain tersenyum, apalagi dengan tulus, ia akan memiliki kekuatan entah dari mana untuk sembuh. Sugesti memang, tapi bagaimanapun juga, sugesti itu diperlukan.

Ketika seseorang gagal meraih cita-citanya, senyuman ibu atau orang terdekat akan membantu mereka bangkit kembali dari keterpurukan. Seperti ada seterum yang memberi semangat baru untuknya.

Saya mengakui memang tidak mudah memberikan senyum kepada orang lain, apalagi yang tidak dikenal. Bisa-bisa diartikan lain senyum saya itu. Tapi bagi ayah, ibu, sanak keluarga, teman, sahabat, kekasih, rekan kerja, sulitkah?

Dalam Islam telah dikabarkan senyuman merupakan sedekah. Sedekah yang tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga dan materi. Sebab senyum adalah ibadah.

Islam telah memberikan perhatian khusus soal senyum melalui hadits HR Tirmidzi dan Abu Dzar. Katanya, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah.”

HR Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Baihaqi juga mengatakan, “Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.”

Nah. Agama saja sudah memerintahkan manusia untuk tersenyum, mengapa hal yang semudah itu sulit sekali dilakukan? Padahal senyum hanya sebuah gerakan kecil yang mungkin tidak akan membuat seseorang mati jika melakukannya.

HR Muslim mengatakan, “Jangan meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (senyum).”

Agama sudah memberikan cara mudah untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala. Tapi mengapa banyak sekali yang jarang sekali memanfaatkan ini? Dengan tersenyum seseorang akan belajar lebih ikhlas dan lebih bersabar.

Well, seberapa sulit sih seseorang mengeluarkan senyum dari bibirnya? Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk merealisasikannya. Just like The Killers said, “Smile like you mean it,”

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s