Ketika Toilet dan Teknologi Bertemu

WARNING: Tulisan ini sekadar sharing, ya, tidak untuk dibayangkan dan tidak untuk eksploitasi hal yang diinginkan πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Kemajuan peradaban dunia akan selalu diiringi oleh kemajuan teknologi. Kalau dulu manusia memotong makanan dengan batu yang diasah, kini manusia telah menggantinya dengan pisau supertajam.

Teknologi tidak hanya melulu tentang penemuan-penemuan hebat di abad ke-20 seperti telepon yang terus berkembang menjadi smartphone, kereta mesin uap yang berganti menjadi kereta magnet, bahkan penemuan paling mutakhir yang belum ada gantinya: komputer.

Teknologi juga menyentuh hal-hal sepele seperti sendok, pisau, pakaian, bahkan toilet. Teknologi telah menyentuh bagian paling dasar kehidupan manusia.

Bicara soal toilet, seseorang akan berpikir tentang buang hajat, baik buang air kecil atau buang air besar. Pola pikir yang telah ada di kepala manusia adalah toilet itu jorok, kotor dan gudangnya setan.

Tapi tentu saja seiring dengan tumbuhnya peradaban kondisi toilet tidak seperti dulu, ketika orang Eropa membuang hajat di pispot dan melemparnya ke luar rumah. Kini mereka telah menemukan apa yang dinamakan septic tank.

IMG01531-20121120-1833

Yang ingin saya bicarakan bukan soal septic tank atau sejarah toilet dari masa ke masa. Saya ingin berbagi cerita tentang penemuan toilet abad kini, yang bahkan sudah menyentuh teknologi digital!

Pertama kali lahir di dunia saya mengenal yang namanya toilet jongkok. Toilet yang masih bertahan sampai saat ini menjadi standar toilet di WC umum, terutama di wilayah terminal, mal, dan pasar raya.

Kemudian ketika saya mulai SMP saya mengenal yang namanya toilet duduk. Toilet ini dianggap lebih mudah terutama bagi orang-orang tua yang sudah tidak lagi sanggup untuk jongkok. Toilet ini juga baik untuk kesehatan karena mengurangi risiko terkena ambeyen.

Nah, sampai tahun berganti ke 2013, saya belum pernah melihat pengganti toilet duduk. Untungnya saya belum menemukan toilet berdiri (kecuali untuk pipis cowok, lho). Sampai hari ini toilet paling populer baru toilet duduk.

Nah, toilet duduk sendiri ada dua jenis. Toilet basah dan kering (kayak mi aceh yaa). Kalau yang basah bisa ditemukan di mal yang banyak dikunjungi masyarakat kelas menengah baru dan ke bawah atau di ITC atau di pasar baru. Kalau toilet kering banyak ditemukan di mal elit, hotel mahal dan tempat-tempat mewah lainnya.

Toilet kering ini terbagi dalam beberapa jenis lagi. Ada toilet kering yang menyediakan penyiram di dalamnya, ada yang menyediakan penyiram langsung dari toiletnya, dan ada yang sama sekali tidak menyediakan penyiram (if you know what i mean).

Kebanyakan toilet masa kini menyediakan penyiram langsung dari si toiletnya. Dengan memutar keran, air akan mengalir membersihkan bagian yang perlu dibersihkan dari belakang. Hal ini saya temukan di hotel-hotel moderat, termasuk toilet di bioskop seperti XXI dan 21.

Bagi saya yang awam, toilet jenis ini sungguh luar biasa. Teknologinya cerdas dan efisien. Kalau menggunakan penyemprot biasa, air yang mengalir akan lebih banyak karena tradisi masyarakat Indonesia adalah menyiram dengan air sebanyak mungkin. Sedangkan toilet ini memaksa penggunanya untuk mengubah tradisi itu. Hanya dengan semprotan kecil untuk membersihkan diri.

Yang lebih bahaya lagi adalah ketika saya berada di sebuah hotel dan saya ingin membuang air kecil, toilet yang saya masuki tidak memberikan secuil celah pun untuk membersihkan diri dengan air. Kejadian serupa juga pernah saya alami ketika saya berkesempatan untuk numpang pipis di Jerman. Toilet kering.

Nah, di sini terjadi pergeseran budaya. Saya tidak memaksa Anda untuk memutuskan pergeseran budaya ini baik atau buruk. Tapi bagi diri sendiri, saya merasa tidak nyaman. Masalahnya bukan karena hemat air atau tidak. Tapi kebersihan.

Dua jenis toilet di atas mementingkan kebersihan si toilet itu sendiri, bukan si penggunanya. Mengapa saya berkata demikian? Pasalnya air yang keluar untuk membersihkan sisa kotoran jauh lebih banyak daripada yang bisa saya pakai untuk membersihkan diri saya. Nah lo!

Suatu hari saya berkunjung ke sebuah hotel di tengah Jakarta. Saya menemukan sesuatu yang baru tentang toilet di hotel ini. Saya belum pernah menemukan di tempat lain. Entahlah, mungkin kalian bisa membantu?

IMG01532-20121120-1835

Nah, di toilet ini teknologi yang digunakan sudah memakai sistem digital. Ketika masuk ke dalamnya, Anda akan menemukan sebuah boks kecil di dekat toilet. Bentuknya seperti pengukur berat badan digital. Di kotak tersebut terdapat pilihan untuk penyiraman (yang memiliki dua pilihan), dan pengeringan.

Ya pengeringan! Jadi tidak perlu pakai tisu lagi. Pantat Anda akan dikipas supaya air yang tersisa kering!

Hal ini membuat saya geli sekaligus kagum. Tingginya peradaban telah memunculkan ide-ide sinting yang cukup berguna namun kocak (bagi saya). Mungkin saat ini saya berpikir toilet semacam ini gila. Namun di masa depan toilet semacam ini bakal tergantikan dengan jenis toilet lain. Tapi semoga saja toilet dengan teknologi terbaru itu bukan ‘toilet berdiri’. X_x

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s