Argo dan Distorsi Sejarah

banner1

Argo menjadi primadona di Academy Award ke-85 yang dilaksanakan Ahad (24/2). Film yang dirilis pada Agustus 2012 ini mendapatkan tiga Oscar sekaligus, yaitu untuk best film editing dan best adapted screenplay, termasuk kategori best picture alias film terbaik.

Namun Argo memecahkan rekor menjadi film terbaik tanpa menyertakan sutradaranya meraih Oscar. Ini yang pertama sejak 1990 ketika film Driving Miss Daisy memenangkan Oscar namun tidak membawa sutradaranya masuk sebagai nominasi.

Film ini diadaptasi dari kisah nyata misi penyelamatan agen Badan Intelijen Internasional AS (CIA) terhadap enam warga negara mereka yang terjebak di Iran pada 1979. Pada masa itu Iran tengah mengalami revolusi usai runtuhnya rezim Reza Pahlevi. Demonstran menyerang kedutaan AS dan menyandera 50 warga negara AS.

Seorang agen CIA Tony Mendez ditugaskan untuk menyelamatkan enam orang warga AS yang berhasil meloloskan diri ketika demonstran mengepung kedutaan AS di Iran. Dengan kedok akan membuat film, Mendez masuk ke Iran. Aksi ini terinspirasi ketika ia menonton film Battle for the Planet of the Apes.

Secara umum film yang disutradarai oleh Ben Affleck ini menunjukkan betapa cekatan dan hebatnya CIA. Mereka merancang sedetil mungkin aksi penyelamatan tersebut, mulai dari pembuatan paspor, detil identitas palsu korban dan kemungkinan yang mungkin terjadi bila ada pemeriksaan di bandara. Di akhir film, Mendez mendapatkan gelar kehormatan atas jasanya usai menyelamatkan enam kepala dari kekejian revolusi Iran.

Secara pribadi saya melihat film ini berjalan sangat datar sejak awal hingga akhir. Tidak ada hal yang membuat tegang dan aksi-aksi mengejutkan seperti film bergenre thriller lainnya. Kecuali di 15 menit terakhir, plot film Argo berjalan biasa-biasa saja.

Usut punya usut, apa yang dilihat dalam film berdurasi 120 menit tersebut ternyata jauh dari kenyataan. Dalam misi aslinya, penyelamatan tidak “setegang” film. Bahkan presiden AS zaman itu Jimmy Carter mengaku tidak memahami alur cerita Argo. Ia menilai Argo merupakan sebuah distorsi sejarah.

Setelah mencoba mencari-cari jawabannya, saya menemukan sebuah tulisan (terimakasih kepada pak bos) yang memaparkan detil aksi penyelamatan tersebut, langsung dari si pahlawan, Tony Mendez. Setelah dibaca, ternyata memang tidak setegang itu.

Pada cerita sebenarnya tidak aksi pencegatan dan pemeriksaan di akhir film. Pemeriksaan di bagian imigrasi berlangsung lancar dan ketujuh anggota tidak ditahan oleh pasukan revolusi Iran karena mereka terlihat seperti orang Amerika. Mereka melewati seluruh pemeriksaan tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Begitu pula dengan pengejaran pasukan revolusi Iran. Itu dibuat hanya untuk menambah tegang film agar penonton tidak bosan. Pada aksi sebenarnya kejadian itu tidak pernah terjadi. Yang terjadi justru keterlambatan pesawat Swissair akibat masalah minor. Hal inilah yang membuat keenam warga AS waswas atas nasib mereka.

Duta besar Kanada untuk Iran pada masa itu Ken Taylor melihat film ini dari sisi yang berbeda. Menurutnya film ini terlalu berlebihan dalam memaparkan tugas-tugas CIA. Dalam film tersebut terlihat seolah-olah CIA-lah yang berjasa atas penyelamatan enam warga AS, alih-alih Kanada.

Tanpa ada bantuan dari Kanada, keenam warga AS tidak akan pernah bisa keluar dari Iran hidup-hidup. Ide untuk menyembunyikan keenam orang tersebut di rumah dubes Kanada merupakan inisiatif Kanada. Semua paspor dan perizinan yang akan dipakai untuk mengeluarkan keenam orang tersebut seluruhnya murni dilakukan oleh otoritas Ottawa. Namun di dalam film terlihat Mendezlah yang berjasa atas seluruh dokumen.

Inilah yang dimaksud dengan distorsi sejarah. Argo menunjukkan penyelamatan tersebut sepenuhnya atas jasa CIA. Padahal kenyataannya Kanadalah yang berjasa atas segalanya.

Lalu bagaimana mungkin Argo yang berplot sederhana ini bisa mendapatkan Piala Oscar?

chicago The_Artist_poster

Selain Argo, Academy Award kali ini juga menampilkan film-film terbaik lain seperti Les Miserable, Life of Pi, dan Lincoln. Secara alur ketiga film ini masih lebih baik dari Argo. Namun Oscar telah menunjuk Argo sebagai pemiliknya yang baru. Bahkan Lincoln yang menceritakan tentang salah seorang presiden AS, yang sama-sama menunjukkan adidaya AS, gagal merebut Oscar.

Hal ini seperti memutar kaset lama ketika Chicago memborong Oscar di Academy Award ke-75 pada 2002. Padahal ada film-film lain yang kualitas ceritanya lebih baik daripada Chicago. Sebut saja The Hour dan The Pianist.

Belum lagi kehebatan film bisu hitam-putih The Artist yang berhasil merebut Oscar pada 2012. The Artist mengalahkan film-film seperti The Iron Lady, War Horse dan The Help.

Bila dilihat dari sisi cerita, ketiga film pemenang Oscar ini mengerucut pada satu lubang yang sama: Hollywood. Gemerlap Hollywood di Chicago dan bagaimana industri film Hollywood bekerja di The Artist dan Argo telah membawa ketiga film ini sebagai bintang di tahun masing-masing. Jelas terlihat Hollywood ingin memamerkan kehebatannya dengan menggaungkan film-film tentangnya melalui Oscar. Film-film berkualitas lain, harus gigit jari hanya menjadi nominasi dan melihat film bergenre hollywood ini naik ke panggung dan menerima Piala Oscar.

Tidak perlu membuat film hebat sampai menghabiskan bujet berjuta-juta dolar AS. Cukup buat film tentang dunia Hollywood dan siapkan pidato untuk kemenangan di Academy Award. πŸ™‚

n c02

121121_MOV_LifeofPi.jpg.CROP.rectangle3-large

Advertisements

One thought on “Argo dan Distorsi Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s