Monster Kecil Bernama HIV

Desy (27 tahun dan bukan nama sebenarnya) terlihat seperti perempuan lain. Rambutnya panjang diikat kucir kuda. Kulitnya kecoklatan, dan wajahnya //sunda pisan//. Tubuhnya kurus, pendek dan terlihat ringkih.

Namun siapa yang tahu Desy adalah perempuan paling tangguh di dunia. Sejak enam tahun lalu ia telah menahan beban berat di punggungnya. Beban itu bernama human immunodeficiency virus (HIV).

HIV-AIDS

Dokter memvonisnya ketika ia memeriksakan diri karena sakit yang tak kunjung sembuh. Saat itu dokter memintanya untuk memeriksa darah. Ketika darahnya diteliti, dari sanalah mulai cerita kelam hidup Desy. Dokter memberitahu di dalam darahnya terdapat virus mematikan yang bernama HIV.

Selama ini Desy hanya mengetahui HIV/AIDS adalah sebuah penyakit nista yang didapat dari perbuatan asusila seperti seks bebas. Hal serupa itu tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Apalagi setelah menikah dengan suaminya.

Ternyata setelah ditelisik, suamilah yang membuatnya menderita penyakit tersebut. Sang suami menularkan virus tersebut, mulai hari pertama mereka menikah. “Seandainya saya tahu sebelum kami menikah,” ujar Desy.

Tapi tentu saja nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu berada di akhir karena yang di awal adalah pendaftaran. Desy harus menerima kenyataan pahit itu, di tengah periode emas hidupnya.

Ibu rumah tangga tersebut merasa sangat malu dengan penyakit yang ia derita. Ia tidak memberi tahu siapapun tentang kondisi yang ia alami. Ia malu karena menyadari akan dijauhi orang-orang bila ia mengumumkan penyakitnya. Akhirnya ia dan suami menyimpan rapat aib keluarga tersebut.

Hal terakhir yang diinginkan oleh ibu asal Bandung, Jawa Barat, ini adalah anaknya tertular penyakit yang sama. Ketika mengetahui ia menderita HIV, Desy segera memeriksakan bayinya yang waktu itu belum genap satu tahun.

Benar saja, bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, gadis kecilnya divonis dokter membawa virus jahat tersebut. Hal tersebut otomatis terjadi karena Desy sudah tertular sejak malam pertama berhubungan dengan suaminya. Dan penularan juga terjadi dari ibu ke janinnya.

Demi menjaga kelangsungan hidup gadis kecilnya yang kini sudah berusia lima tahun, Desy harus rajin ke dokter untuk melakukan kontrol. HIV memang belum ada obatnya, namun setidaknya Desy harus memastikan anaknya tetap sehat meski menanggung beban seberat ini di usianya yang masih sangat belia.

Habis sudah air mata menyesali jalan hidupnya. Desy tidak punya pilihan lain kecuali menerima kondisinya. Ia hanya bisa bertahan dan berserah diri pada Tuhan, serta melanjutkan hidup sampai akhirnya virus yang disinyalir berasal dari primata tersebut mengalahkan sistem imunnya.

Cerita ini baru satu dari jutaan cerita lain yang serupa. Bagaimana pertama kali mereka tertular virus HIV, bagaimana kehidupan mereka berbalik 180 derajat setelah itu, dan bagaimana mereka harus memberitahu orang-orang terdekat tentang virus tersebut.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2012 penderita HIV/AIDS bertambah menjadi 18.913 jiwa. Secara total penderita HIV/AIDS sejak pendataan 1 April 1987 adalah mencapai 131.675 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 7.293 jiwa.

Laki-laki lebih banyak menjadi penderita HIV/AIDS. Dan kebanyakan penyakit ditularkan melalui hubungan heteroseksual atau hubungan suami-istri.

Virus HIV/AIDS tidak hanya diderita oleh seseorang berusia emas, yaitu 20-29 tahun. Tetapi juga sudah diderita oleh bayi yang masih di dalam janin ibu penderita HIV/AIDS. Meskipun jumlahnya sedikit, bayi usia 0-5 tahun kini ikut berpartisipasi dalam daftar panjang penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Sampai hari ini masih banyak penderita HIV/AIDS yang enggan mengumumkan penyakit mereka. Mereka kebanyakan masih merasa malu dan menganggap orang akan mengucilkan mereka jika tahu.

Memang, stereotip yang melekat dalam diri setiap orang masih seperti itu. Hal ini disebabkan oleh awalnya penyakit ini banyak diderita oleh kaum gay dan penganut seks bebas. Padahal kini kondisinya sudah berbeda. Bahkan pernah beredar isu virus tersebut sengaja ditularkan lewat tusuk gigi, jarum di kursi bioskop, dan lain-lain. Ini tentu saja akan meningkatkan rasa takut seseorang terhadap penderita HIV.

Sosialisasi penyakit ini masih jauh dari sempurna. Orang-orang masih berpikir ketakutan ketika berada di dekat penderita HIV. Padahal penyakit itu sama sekali tidak menular secara langsung! Penyakit itu akan menular bila terjadi kontak seperti pemakaian jarum suntik bersama, hubungan seks dengan penderita, dan dari ibu penderita ke jabang bayi.

Kini sudah banyak organisasi untuk penderita HIV/AIDS. Organisasi seperti Komunitas AIDS Indonesia dan Yayasan AIDS Indonesia berjuang untuk kesetaraan penderita karena mereka tidak seseram yang dibayangkan. Mereka mengadakan sosialisasi dan edukasi terkait penyakit tersebut. Mereka berharap pikiran dan hati masyarakat lebih terbuka untuk menerima mereka dengan kondisi yang ada. Karena penderita HIV bukanlah monster.

n c02

HIV-AIDS2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s