‘Self Services’ di Super Market

Saat masih duduk di bangku kuliah, saya diberi kesempatan untuk mengadu otak dengan teman-teman dari belahan bumi lain (bukan dunia ‘lain’, lho). Saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah Prusia yang sekarang disebut Jerman.

Ketika pertama menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Internasional Frankfurt am Main, saya merasa seperti orang primitif. Bandara yang luasnya mungkin seluas satu kota kecil di kampung saya ini ditata dengan sangat modern. Semuanya serba elektronik dan semua serba otomatis.

Pintu bisa membuka sendiri (sudah biasa, banyak di mall), jalan bisa berjalan sendiri (ada di terminal Soekarno-Hatta tempat maskapai Garuda dan internasional parkir). Ada internet koin, mesin pembuat kopi, dan mesin pembelian tiket elektronik.

Tapi yang membuat saya terpesona dengan negara yang dikenal dengan rasis ini bukan bandaranya. Tapi mini marketnya. Apa yang menarik?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Semuanya dimulai dari kebiasaan saya berbelanja kebutuhan sehari-hari dan mendapatkan kantong plastik secara gratis dari super market atau mini market tempat saya berbelanja. Di Jerman atau mungkin di negara-negara lain di Eropa, kondisinya berbeda. Di mini marketnya tidak menyediakan ‘layanan’ kantong plastik. Jadi kalau seseorang ingin berbelanja tapi tidak membawa tas atau kantong sendiri, siap-siap repot dengan belanjaan.

Toko kelontong tersebut memang menyediakan tas untuk berbelanja, bahkan kantong plastik. Tapi untuk setiap pengunaan kantor plastik tersebut kita harus membayar. Ketika saya berada di sana pada 2009 harga satu lembar kantong plastik adalah 9 sen euro. Kecuali untuk buah, mereka tidak menyediakan plastik sama sekali!

Pertama kali memasuki sebuah toko kelontong untuk berbelanja keperluan seminggu, saya terkejut. Masalahnya saya hanya membawa tas kecil, sedangkan mereka tidak menyediakan kantong plastik gratis. Karena itu kegiatan berbelanja saya pertama kali di Jerman berlangsung tidak memuaskan. Daripada harus membeli kantong plastik, lebih baik saya kembali lagi ke apartemen dan membawa tas sendiri (otak pelit :p).

Penjaga toko kadang bersikap sangat cuek. Mereka hanya memindai harga barang yang kita beli, kemudian memindahkannya ke sisi lain, membiarkan kita sendiri yang membereskan. Mereka sama sekali tidak pernah mau membantu membereskan. Kalau banyak belanjaan, terpaksa harus memasukkan kembali barang ke troli atau keranjang. Kalau tidak banyak belanjaan, barang-barang bisa langsung disimpan ke dalam tas. Karena itulah di toko kelontong Jerman terdapat satu sisi tempat pembeli memindahkan barang belanjaan dari keranjang ke tas.

Selain tidak menyediakan kantong plastik, toko kelontong di Jerman tidak akan membiarkan pembeli menyimpan troli sembarangan. Mereka punya trik khusus untuk ini, dan saya pikir ini layak dicoba di Indonesia.

Jadi, setiap troli yang ada di toko tersebut memiliki semacam kunci di bagian dorongannya. Kunci itu saling terintegrasi ke setiap troli lain. Jadi caranya adalah kunci troli satu dimasukkan ke dalam pengait di troli yang ada di depannya. Nah untuk bisa melepaskan kait kunci tersebut, maka seorang pelanggan harus memasukkan uang ke dalam ruang kecil di atas kunci troli. Otomatis kunci yang terkait di troli selanjutnya akan terlepas dan pelanggan bisa menggunakan troli dengan leluasa. Tidak main-main, uang yang dimasukkan adalah sebanyak 2 euro! Kalau dirupiahkan harganya kira-kira sekitar Rp 25 ribu.

trolley2-1024x764

Ini cara toko untuk menjaga pelanggan tetap rapi dalam berbelanja. Tenang saja, uang yang kita habiskan untuk memakai troli itu tidak akan hilang. Karena setelah berbelanja kita bisa mengambil kembali uang tersebut. Caranya, ya dengan mengaitkan kembali kunci troli ke pengait troli di depan. Otomatis si uang akan kembali ke tangan kita. Artinya uang itu hanya sebagai jaminan agar pelanggan tidak sembarangan menaruh troli. Yah, supaya disiplin dan membuat suasana lebih nyaman.

Self service. Berbeda dengan di Indonesia yang bisa β€˜menyampah’ troli. Jangankan mengembalikan ke tempat semula. Setelah keluar dari kasir saja tidak mau lagi menyentuh troli. Malah menyuruh petugas toko yang mengembalikan ke tempat semula. Terlalu dimanja.

Penggunaan kantong plastik pun gila-gilaan. Setiap jenis barang berbeda, seperti makanan dan alat kesehatan dimasukkan ke plastik yang berbeda. Meskipun di kantong tersebut sudah tertulis plastik tersebut dibuat dari bahan yang cinta lingkungan, tetap saja pemborosan. Namanya saja plastik, proses penghancurannya lebih lama daripada kertas.

Yang menarik lainnya di toko kelontong Jerman adalah mesin penghancur botol plastik. Di super market sana ada satu sudut tempat pelanggan bisa menghancurkan botol plastik yang mereka pakai. Mesin itu cukup besar dengan lubang untuk memasukkan botol plastik. Baiknya, setiap botol plastik yang dihancurkan di sana kita mendapatkan insentif. Saya tidak tahu apakah setiap botol dihargai berbeda. Yang jelas botol plasstik seperti botol minum ukuran 1 liter dihargai 25 sen. Padahal harga aslinya (maksudnya ketika membeli dengan air minum di dalamnya) hanya 19 sen.

Setelah botol habis dimasukkan, selembar kertas keluar dari mesin tersebut, menyatakan berapa botol yang sudah kita masukkan dan harga yang dibayarkan atas jasa tersebut. Misalnya enam botol ya enam dikali 25 sen. Struk tersebut kemudian ditukar di kasir. Atau kalau sedang berbelanja, struk tersebut bisa menjadi potongan harga ketika membayar di kasir. Tentu saja di luar diskon toko.

Ini peluang bagi pemalas untuk mengumpulkan uang tanpa kerja keras. Tinggal memulung botol plastik, masukkan ke mesin penghancur dan dapatkan insentifnya. Atau pemulung bisa saja mendapatkan uang yang lebih banyak di sini. Lumayan, meski cuma beda 6 sen saja dari harga aslinya.

Negara-negara maju memang menuntut penduduknya untuk menjaga lingkungan dengan menerapkan aturan ketat. Kalau penduduk semakin dimanja, mereka akan menuntut untuk terus dimanja. Semua harus serba dilayani. Bagaimana jadinya masa depan Indonesia kalau penduduknya terus disuapi?

n c02

save_supermarket

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s