Hati-hati dengan Gadget dan Pubertas Dini

Ketika berjalan-jalan di sebuah mall, saya melihat rombongan anak-anak usia 9-13 tahun. Mereka terdiri dari anak laki-laki dan perempuan.

Yang laki-laki memakai kaos, kombinasi kaos dan kemeja, jins, dan sepatu atau sendal. Yang perempuan memakai kaos warna-warni, jins pendek dan panjang yang menyempit hingga ke ujung kaki, tas kecil. Di tangan mereka terselip ponsel pintar seperti Blackberry atau iPhone.

Mereka terlihat asyik bergerumul, berbincang-bincang keras tanpa merasakan kehadiran orang lain di sekitar mereka. Saya pun berlalu, berharap tidak bertemu mereka lagi. Berisik!

Tetapi Tuhan berkehendak lain. Ketika saya dan seorang teman memutuskan untuk duduk di sebuah kafe, saya kembali bertemu rombongan itu. Kafe yang kami masuki adalah sebuah kafe yang harga makanannya lumayan di atas harga rata-rata (sekalian pamer, hehe).

SSD-1574R-02311A - Β© - Purestock

Nah, karena rombongan itu sangat berisik, mau tidak mau saya mendengar pembicaraan mereka. Kurang-lebih mereka membicarakan soal siapa suka siapa, si anu sedang galau, si itu sedang jatuh cinta pada si anu, si dia baru diputus oleh pacarnya, dan si anu bingung memilih di antara dua lelaki yang ‘nembak’ dia.

Ya ampun. Usia mereka mungkin tidak lebih dari 13 tahun. Yang laki-laki belum lagi berproses menuju perubahan suara dan yang perempuan belum lagi punya payudara. Tapi mereka bisa-bisanya membicarakan hal seperti itu.

Saya juga sering dicurhati keponakan tentang kehidupan cintanya (taelaaaah). Si dia terakhir kali curhat tentang kegalauannya memilih antara dua laki-laki yang suka padanya. Seorang adalah idola di kelas karena dia pintar. Yang lain adalah cowok ganteng.

Usia keponakan saya baru 11 tahun.

Saya mencoba memundurkan waktu, mengingat ketika saya di usianya. Saya teringat waktu itu senang dengan seorang teman karena dia bisa menggambar. Tapi saya tidak galau dan berharap dia menjadi pacar saya. Saya justru ingin menjadi temannya supaya tertular kepandaian dia menggambar. Ketika itu saya mendorongnya untuk ikut lomba yang dihadiri oleh Joshua Suherman (dulu banget pas Josh masi balita dan nyanyi ‘Cit Cit Cuit’).

Bahkan sampai SMP berakhir pun tidak terpikir oleh saya untuk menyukai seorang cowok. Ketika seorang senior yang katanya kiper andalan sekolah suka pada saya (ehem), saya tidak peduli. Mungkin hormon estrogen yang saya punya belum bekerja maksimal. Hormon itu baru dimulai ketika saya memasuki bangku SMA. Di situlah saya baru menyadari saya sedang puber.

Sekarang, kondisinya jauh berbeda. Pubertas anak zaman sekarang datang lebih awal. Studi terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) menunjukkan pubertas anak masa kini berlangsung lebih cepat. Usia puber anak laki-laki maju 6-24 bulan lebih cepat daripada puber normal.

article-0-168DBB32000005DC-464_634x423

Anggaplah masa puber itu ketika usia 11 atau 12 tahun. Artinya anak zaman sekarang puber di usia 9 tahun! Padahal usia segitu masih tergolong usia anak-anak.

Penelitian itu juga mengatakan akibat buruk pubertas dini. Hal ini akan berimbas pada semakin berkurangnya waktu anak untuk menikmati masa kanak-kanak mereka. Ketika usia mereka masih tergolong usia anak-anak, mereka dipaksa untuk menerima informasi dan dogma yang seharusnya mereka dapatkan dua atau tiga tahun ke depan.

Bandingkan saja anak-anak tahun 1990an dan anak-anak tahun 2000an. Anak-anak dulu masih menikmati yang namanya main engrang, sepak takraw, ular tangga, congklak, dan lain-lain. Permainan paling modern yang pernah saya mainkan hanyalah Nintendo yang gambarnya patah-patah atau gameboy yang hanya menyediakan permainan tetris. Tapi anak-anak sekarang tidak bisa memuaskan dahaga kekanak-kanakan mereka karena ada anggapan miring tentang anak yang senang bermain permainan di atas.

“Kampungan lo,” kata mereka ke anak-anak yang masih bermain permainan tradisional. Menurut mereka, tipe anak zaman sekarang adalah yang menenteng smartphone atau tablet (bukan obat, lho). Kalau tidak main Samsung Galaxy Tab atau iPad, tidak gaul.

Yah, sekere-kerenya mereka setidaknya punya Play Station 3 atau game portable yang bisa dibawa-bawa dan dipamerkan ketika sedang berada di mal. Gameboy yang ini lebih canggih dan tidak hanya menyediakan satu permainan. Kualitas dan resolusi permainan pun lebih mantap.

Kekuatan teknologi saat ini memang luar biasa besar. Orangtua sibuk dengan pekerjaan dan memilih membelikan anaknya teknologi sebagai teman bermain. Alih-alih berinteraksi langsung dengan anak, orangtua lebih percaya pada kekuatan gadget.

article-0-0941585E000005DC-382_306x423

Berdasarkan penelitian di Inggris, gadget menjadi musuh utama yang membuat seorang anak menjadi sulit berkomunikasi dengan yang lain. Gadget membuat anak tidak perlu banyak bicara dan hanya perlu menonton. Akibatnya banyak anak-anak usia 6-16 tahun tidak bisa merangkai kata dengan sempurna.

Kemajuan peradaban memang membuat kehidupan menjadi lebih terarah dan lebih baik. Tapi efek sampingnya adalah kehidupan menjadi lebih individual dan kehilangan ‘rasa’ akibat kehidupan yang terlalu modern.

Setiap individu memiliki tugas penting untuk menjaga hidupnya tetap bahagia di tengah dorongan kehidupan modern. Tidak mudah, memang. Apalagi dengan banyaknya tuntutan yang memaksa seseorang untuk mengikuti hal tersebut.

Yang terpenting adalah bagaimana seorang individu bisa menyeimbangkan antara kehidupannya sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Jangan sampai antara keduanya terjadi ketimpangan karena hidup hanya sekali dan kehidupan itu harus dinikmati. Tidak berlebihan, tentu!

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s