Belajar Ikhlas dari Supir Taksi

=Woles Journey, The Beginning=

Untuk menghabiskan jatah cuti yang masih banyak tersisa, saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Saya memilih ikut dengan seorang teman ke salah satu surga Indonesia di Pulau Borneo. Saya berniat mengeksplorasi salah satu keajaiban Tuhan yang ada di sana, yang masih sedikit diketahui masyarakatnya sendiri.

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tentu saja. Untuk mencapai ke tempat tujuan saya dan rekan saya menggunakan penerbangan dengan pesawat lokal pukul 07.00 WIB. Karena menggunakan pesawat pagi, saya harus menggunakan angkutan khusus untuk mencapai bandara.

Angkutan itu adalah taksi. Kalau menggunakan angkutan bis, saya tidak yakin bisa mencapai bandara tepat waktu. Apalagi dengan barang yang begitu banyak dan berat.

Malam sebelum keberangkatan saya memesan sebuah taksi. Taksi tersebut berasal dari salah satu perusahaan angkutan yang cukup terkenal di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dalam perjalanan inilah saya mendapatkan pelajaran pertama tentang makna hidup.

Pengemudi taksi tersebut menyebut namanya sebagai Pak Herry. Saya tidak sempat menanyakan nama lengkapnya, tapi ia menyebut dirinya sebagai Herry. Dari penampilannya, Pak Herry berusia sekitar 40-45 tahun. Sebagian kecil rambutnya terlihat sudah memutih.

Pak Herry sudah tiga tahun bekerja sebagai mitra di perusahaan transportasi Blue Bird Group (yah, sebut merk deh). Mengantar orang ke tempat tujuan sudah menjadi hal yang biasa baginya. Jalanan Jakarta sudah terpeta di kepalanya.

Taksi Blue Bird

Bagi Pak Herry, menjadi mitra di perusahaan transportasi terbesar di Jakarta ini jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya. Ia merasa pekerjaan kali ini jauh lebih transparan dan tidak membuat dirinya merasa bersalah.

“Saya tidak perlu merasa berdosa setiap bekerja,” kata pria tiga anak yang berasal dari Binjai, Sumatra Utara ini, Jumat (7/12).

Mengapa ia begitu merasa bersalah ketika menyebut-sebut pekerjaannya yang dulu? Ternyata dulu Pak Herry sempat bekerja sebagai pegawai outsourcing untuk pemerintah daerah DKI Jakarta. Ia bekerja sebagai pemasang lampu penerangan jalan. Di sini ia melihat begitu banyak kepalsuan dan kebohongan yang membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama di pekerjaan tersebut.

Suatu hari ia diminta untuk mengganti lampu-lampu jalan oleh pihak pemda. Di dalam proposal, lampu-lampu tersebut harus diganti dengan lampu kualitas baik dengan merk Phillip. Namun kenyataannya hanya //casing// saja yang Phillip. Kualitas lampu yang ada di dalam kerangka bermerk Phillip itu dua kali lebih jelek dari aslinya. “Luarnya memang Phillip, tapi di dalamnya Osram,” ujar pria yang tinggal di Bekasi ini.

Begitu pula dengan kejadian kabel listrik yang seharusnya setiap tahun diganti. Proposal untuk mengganti kabel-kabel yang rusak sudah dibuat. Tapi yang terjadi adalah pegawai hanya disuruh membersihkan kabel-kabel tersebut agar terlihat seperti baru. Mereka hanya disuruh untuk mengelap agar kabel kinclong lagi. Kalaupun diganti, harga kabel yang asli dan yang di proposal jauh selisihnya.

Hal di atas membuat Pak Herry merasa bersalah karena telah terlibat dalam kebusukan dan kebohongan publik. Meskipun dia bukanlah otaknya, lelaki ini merasa ia ikut memberi sumbangsih dalam penipuan pada masyarakat. Tidak bisa merasa tenang setiap harinya, kata lelaki yang berhasil membiayai kuliah anak gadisnya di salah satu universitas negeri unggulan di Indonesia ini.

Ia bertahan selama empat tahun dengan pekerjaan itu mengingat ketiga anaknya masih duduk di bangku sekolah. Apalagi satu dari mereka ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Akan tetapi panggilan hati yang ingin bekerja dengan lurus berteriak lebih kencang. Pak Herry merasa ia tidak bisa terus terlibat dalam lingkaran setan yang sama selamanya. Ia berpartisipasi dalam tindakan korupsi di pemerintahan daerah, namun tidak menikmati hasilnya. Hal ini hanya membuat hatinya tambah tidak tenang dan keinginan untuk berhenti menguat.

Setelah berbagai pertimbangan, Pak Herry memutuskan untuk keluar dari tempat itu. Risiko pengangguran ia ambil dan iklhas menjalani masa-masa sulit. Kini bekerja sebagai supir taksi membuatnya setiap hari merasa selalu diberkahi. Meskipun upah yang ia dapat tidak lebih besar dari upahnya di tempat yang lama, Pak Herry mendapatkan ketenangan hati yang tidak bisa dibayar oleh uang. “Leganya luar biasa,” kata dia.

Cerita Pak Herry membuat saya berpikir berkali-kali sepanjang perjalanan. Betapa seseorang seperti dia bisa membuat keputusan bulat untuk meninggalkan hal yang haram dan dilarang. Dia tahu apa yang ia kerjakan adalah buruk, dan ia berani mengambil tindakan dengan meninggalkannya. Karena selemah-lemah iman seseorang adalah diam.

Terkadang seseorang, termasuk saya sulit meninggalkan sesuatu yang buruk. Alasannya karena pekerjaan itu merupakan tulang punggung hidup saya dan saya harus melakukannya kalau ingin bertahan hidup. Tapi pada akhirnya saya melakukan pekerjaan itu dengan setengah hati karena rasa bersalah yang muncul.

Tidak banyak orang yang berani mengambil risiko dalam hidupnya. Kebanyakan orang lebih senang berdiam di lingkaran aman mereka, menunggu keajaiban sampai lingkaran tersebut bisa bergabung dengan zona aman lain dan membentuk zona aman yang lebih besar. Sedikit sekali orang yang berani untuk keluar dari lingkaran amannya dan berjuang di luar untuk mencari lingkaran aman yang baru.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s