Jongkok atau Duduk?

Sebuah usulan mengejutkan terucap dari seorang laki-laki yang berprofesi sebagai abdi negara. Menteri Lingkungan Taiwan, Stephen Shen, memberi pernyataan heboh yang dilakukan dengan alasan menjaga kebersihan lingkungan.

Ia meminta para lelaki di negara tersebut untuk pipis duduk.Nah lo. Alasannya adalah menjaga kebersihan toilet seperti yang dilakukan oleh perempuan. Bisa dilihat toilet perempuan saat ini adalah toilet yang kering karena pipis dengan posisi duduk. Dengan posisi ini perempuan bisa mengatur arah pipisnya serta tidak menciprat kemana-mana. Ini, menurut si Pak Menteri lebih bersih dan sangat menjaga lingkungan.

Namun masalahnya adalah di belahan bumi manapun laki-laki pasti pipis berdiri. Belum pernah saya mendengar ada cara lain dilakukan oleh makhluk yang berkromosom XY ini pipis. Mungkin anak kecil, ya, belajar pipis dengan berbagai posisi. Tapi kalau pipis duduk untuk dewasa? Rasanya pasti aneh sekali melihat seorang laki-laki pipis sambil duduk seperti yang banyak dilakukan anak perempuan belakangan ini.

Ternyata tidak hanya saya saja yang memberikan pernyataan negatif terhadap usulan si Pak Menteri ini. Mungkin hampir seluruh lelaki yang ada di negara asal F4 ini mengkomplain usulan aneh tersebut.

Selain dianggap aneh, akan sulit bagi seorang pria untuk mengubah posisi pipis yang sudah mereka lakukan sejak bisa berdiri dan melihat potensi pipis di sudut jalan. Ide ini dianggap sebagai ide ‘sinting’.

Para ibu dan manusia berkromosim XX tentu saja sangat mendukung usulan ini. Mereka menilai laki-laki adalah makhluk paling jorok sehingga ide ini harus terealisasi.

Ngobrol-ngobrol soal toilet, saya ingin bercerita sedikit tentang toilet dan saya. Tulisan di bawah akan penuh dengan urusan di dalam toilet. Saya harap pembaca tidak merasa risih, pun tidak membayangkannya secara liar. Bagi orang yang mempunyai imajinasi bagus, saya berharap berimajinasilah dengan normal. Kalau yang tidak bisa membayangkan, saya sangat bersyukur.

Nah, ketika kecil saya tidak pernah mengenal yang namanya toilet duduk. Ketika saya dilahirkan toilet menempel di lantai dengan lubang kecil di bagian belakangnya. Seseorang jongkok di atasnya. Toilet duduk saya kenal ketika saya duduk di bangku SD tingkat akhir. Ketika itu toilet duduk dikenal hanya mampu dimiliki oleh keluarga kaya. Mahal, bow. Apalagi yang ada flush-nya.

Karena kondisi inilah saya tidak pernah merasa nyaman dengan toilet duduk. Bahkan sampai hari ini. Selalu saja ketika bertemu dengan toilet yang kita harus duduk di atasnya, membuat hasrat buang hajat saya hilang.

Mengapa? Pertama tentu saja saya tidak terbiasa. Kedua adalah karena saya merasa jijik. Merasa jijik karena dudukan toilet terkadang kotor oleh bekas orang sebelumnya. Kotor karena diinjak (si orang ini tidak biasa juga dengan toilet duduk, jadi dia menginjak toilet duduk itu dan jongkok di atasnya. Ini tidak disarankan, lho).

Dan yang terparah adalah karena saya tahu dudukan toilet itu adalah bekas orang lain. Pantat seseorang telah duduk di atasnya dan kini saya harus menduduki bekasnya. Terbayang, kan, berapa juta kuman dan virus yang menempel di pantat saya setelah itu?

Sering saya dimarahi gara-gara jongkok di toilet duduk. Berbahaya, kata dia. Saya pun menyadari itu. Bayangkan ketika kamu jongkok di toilet duduk, kemudian doi tidak sanggup menahan beban kamu, akhirnya kamu terjatuh. Mending kalau jatuh dan pantatmu masih utuh. Bagaimana kalau pecahan toilet menembus bagian anal???? Ini tidak usah dibayangkan, apalagi sambil makan, ya. Tidak disarankan.

Nah, untuk itulah saya terpaksa mengalah kepada zaman. Asalkan di tempat itu ada tisu dan pembersih dudukan toilet, tidak masalah bagi saya.

Yang bermasalah adalah ketika toilet tersebut tidak menyediakan semprotan pembersih. Dua jenis toilet duduk yang saya benci. Pertama toilet duduk yang menyiram dari belakang. Bukannya apa-apa. Ini tidak disarankan secara medis. Alasannya? Bagian anal tubuh mengandung lebih banyak kuman. Kuman ini akan berbahaya bila masuk ke bagian kelamin perempuan. Yang benar bukan membersihkan dari belakang ke depan, tetapi depan ke belakang (ini silakan dibayangkan atau tidak. Yang penting tidak bermain dengan imajinasi, ya!).

Jelas-jelas jenis toilet ini melanggar etika kebersihan, kan?

Jenis kedua adalah yang tidak ada penyiram sama sekali, baik semprotan maupun pembersih dari belakang. Ini paling mengerikan dan saya pernah menemuinya di Indonesia. Mana mungkin saya membersihkan diri hanya dengan tisu kering?? (sensor imajinasinya, ya!).

Mungkin karena kultur bangsa Indonesia yang tidak bisa membersihkan diri tanpa air. Tapi kalau memang mengadopsi toilet modern (yang berasal dari negara maju, dan diklaim sebagai toilet ramah lingkungan karena hemat air), mengapa tidak ada air pembersih diri, tapi ketika menyiram bekas buang hajar dengan flush, air yang keluar berliter-liter???

Secara Medis, Jongkok atau Duduk?

Saya mengambil tulisan ini dari sebuah media besar di Indonesia. Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Digestive Diseases and Sciences, Dr. Dov Sikirov, memaparkan pengaruh posisi buang hajat di kamar mandi terhadap kenyamanan.

Ia meminta responden untuk buang air besar di toilet duduk setinggi 16 inci, 12 inci, dan jongkok. Setiap responden diminta untuk mencatat waktu mereka buang air besar.

Hasilnya, posisi jongkok membutuhkan 51 detik untuk melancarkan kewajibannya di kamar mandi. Peserta yang buang hajat dengan cara jongkok merasa lebih nyaman melakukan kegiatan tersebut. Sedangkan posisi duduk membutuhkan sekitar 130 detik untuk mengeksekusi.

Studi lain juga dilakukan oleh peneliti Jepang. Mereka meneliti cairan yang dilepaskan dari dubur baik dari posisi duduk maupun jongkok. Hasil yang terekam oleh video menunjukkan sudut anorektal yang terbentuk mulai dari dalam anus naik dari 100 menjadi 126 derajat ketika responden pindah posisi dari duduk ke jongkok. Peneliti mengamati kemungkinan terjadinya pengurangan keinginan mengejan saat jongkok.

Tahu, kan, mengejan. Ini berhubungan dengan pembentukan wasir. Wasir terjadi ketika pembuluh darah di dubur membengkak. Ini disebabkan oleh terlalu lama duduk, infeksi dubur atau penyakit. Akibatnya bisa muncul benjolan keras di sekitar dubur.

Nah, dari penelitian ini bisa disimpulkan buang air dengan cara jongkok lebih baik dibandingkan duduk. Penelitian ini berdasarkan aspek kesehatan, lho. Tapi itu semua bergantung pada kenyamanan masing-masing. Kalau mau jongkok tidak dilarang, pun duduk. Yang penting memahami risiko masing-masing, baik dari sisi kesehatan, kebersihan, keterbiasaan, dan kenyamanan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s