Idul Fitri, Mudik, dan Kecelakaan

Idul Fitri telah berlalu. Orang-orang pun sudah kembali ke aktivitas masing-masing. Pekan pertama masih terasa berat bekerja karena euforia Idul Fitri masih menghembus. Pekan kedua tampaknya semua orang telah melupakan Idul Fitri. Terutama wilayah Jakarta yang dianggap Tanah Surga.

Saya ingin bercerita sedikit tentang mudik tahun ini. Saya adalah salah satu yang ikut dalam euforia ini.

Mudik berasal dari kata ‘udik’ yang berarti desa, dusun, kampung. Kata ini diambil dari Bahasa Betawi. Mudik merupakan turunan dari udik yang diartikan sebagai pulang ke udik (desa, kampung). Jadi sebetulnya mudik tidak terlalu identik dengan lebaran karena mudik itu adalah pulang kampung. Siapapun yang berniat pulang ke kampung halaman bisa dikatakan sedang mudik.

Nah, mudik telah menjadi tradisi bagi setiap manusia yang merantau. Mudik terutama di Indonesia akan menjadi kegiatan wajib ketika Ramadhan tiba. Mudik terjadi secara masif dari wilayah Jawa (terutama Jakarta) menuju daerah-daerah seperti Sumatra, Kalimantan, dan Jawa bagian timur.

Mudik akan menjadi perpindahan besar-besaran dari daerah padat penduduk ke wilayah yang lebih lengang. Mereka berupaya mencari cara untuk bisa pulang ke kampung halaman masing-masing. Seperti yang saya lakukan, menggunakan pesawat udara. Ada pula yang memakai kereta dan bis. Tidak sedikit yang memilih menggunakan kendaraan pribadi agar di kampung bisa dipakai atau lebih menghemat ongkos.

Dari tahun ke tahun kendaraan pribadi menjadi alat transportasi terbanyak yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mudik. Kalau tidak mobil SUV ya sepeda motor. Bahkan ada pula yang memanfaatkan angkutan yang sehari-hari dipakai untuk mencari nafkah seperti bajaj, angkot, dan becak. Tidak sedikit pula yang pulang kampung pakai sepeda. X_x

Tradisi seperti ini akan sejalan dengan dua tradisi lain, yaitu macet dan kecelakaan. Mengapa? Jumlah kendaraan yang begitu banyaknya akan membuat jalur-jalur mudik menjadi penuh oleh kendaraan. Kemacetan di hari biasa saja membuat orang-orang di Jakarta pusing dan menjadi tidak bermoral, apalagi kemacetan di tengah jalan menuju kampung halaman.

Pantura menjadi wilayah yang paling padat sedunia ketika libur lebaran tiba. Mengapa tidak? Hampir seluruh penduduk Jakarta isinya orang Jawa Tengah dan Timur semua. Yah, sebagian juga ada orang Sumatra dan Kalimantan. Intinya, Pantura akan menjadi jalur maut bagi orang-orang yang nekat pulang kampung tanpa persiapan nyawa.

Jalan yang sempit dan terkadang buruk menambah kengerian. Tapi demi ‘mudik’ tadi orang rela membeli nyawa tambahan di pasar raya untuk bisa bertemu dengan sanak saudara.

Pun halnya di Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Ini juga menjadi jalur stagnan ketika lebaran tiba. Saya yang berpengalaman mudik menggunakan jalur darat ke Sumatra Barat mengakui jalur ini tidak menyenangkan. Untuk mencapai gerbang pelabuhan saja membutuhkan waktu lebih dari lima jam. Belum lagi mengantre untuk menyeberang. Alhasil hampir 20 jam bis yang saya tumpangi baru berhasil menyeberang ke Pulau Sumatra.

Nagreg saat ini bukan lagi menjadi jalur maut. Kali ini kemacetan teratasi dengan sistem satu arah yang diberlakukan di sana, menyusul dibukanya Lingkar Nagreg oleh Presiden SBY tahun lalu. Namun tentu saja kepadatan kendaraan pasti ada, terutama tiga hari jelang lebaran.

Ketiga jalur tersebut baru jalur yang ada di Pulau Jawa. Belum lagi jalur lain yang ada di Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan jalur lainnya yang tidak begitu diperhatikan.

Setiap tahun pasti saja ada kecelakaan akibat buruknya jalan, mengantuk, dan tidak konsentrasi. Setiap tahun tradisi ini selalu meminta tumbal demi tercapainya semua pemudik ke tujuan masing-masing. Setiap tahun ‘mudik’ menagih seserahan nyawa manusia demi yang lain sampai dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.

Tindakan ini tidak juga disadari oleh pemerintah. Melalui jalan yang sempit dan buruk, moda transportasi yang berantakan, dan pengawasan yang minim, mudik terus menghisap nyawa masyarakat setiap tahunnya. Padahal pemerintah tahu betul mudik akan selalu dilakukan oleh bangsa Indonesia sampai akhirnya Idul Fitri tidak lagi penting.

Kecelakaan ini bisa saja dikurangi bila pemerintah bisa fokus untuk membiayai jalur-jalur mudik. Bisa saja dengan memperbaiki fasilitas umum seperti kapal penyeberangan, bandara, dan maskapai.

Untuk saat ini yang paling penting mungkin perbaikan jalur mudik. Bisa dilihat orang-orang masih belum mempercayakan pulang dengan transportasi massa. Buktinya jumlah kendaraan pribadi yang melakukan mudik bertambah dari tahun ke tahun. Pemerintah seharusnya melihat ini semua dan menyadari serta memperbaiki jalur mudik.

Kegiatan mudik pun menurut saya kini telah menggeser makna Idul Fitri yang sebenarnya. Menurut DR HM Harry Mulya Zein (Republika 17/8), Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi orang yang beriman. Setelah satu bulan lamanya mereka berpuasa, menahan diri, Idul Fitri menjadi puncak kebahagiaan itu.

Idul Fitri diartikan sebagai momentum bagi umat Muslim untuk kembali suci, pada keberagamaan yang lurus dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang suci.

Namun kini makna baik Idul Fitri berubah menjadi ajang pamer. Perantau yang datang dari negeri jauh ke kampungnya tidak hanya berniat untuk bersilaturahim, tetapi juga pamer. Mereka menggunakan perhiasan, baju yang mahal dan segala aksesori yang bisa membuat mereka dicap sebagai ‘perantau sukses’.

Hal ini tentu sangat disayangkan karena makna Idul Fitri sesungguhnya tidaklah seperti itu. Pun halnya makna mudik.

Tentu saja tidak semua orang memaknai Idul Fitri seperti itu. Semoga Idul Fitri selalu membuat manusia menjadi orang-orang yang bersyukur, lebih baik dari tahun ke tahun, dan tabah. Happy Eid Mubarak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s