Sepanjang Lingkar Nagreg

Euforia Lebaran membuat saya teringat pengalaman Ramadhan tahun lalu. Ketika itu saya masih menjadi calon reporter di tempat saat ini saya bekerja dan berada di posisi yang tidak nyaman karena kualitas berita saya yang tidak bagus.

Ketika itu hampir 10 bulan saya bekerja sebagai penulis berita dan saya selalu ditempatkan di desk yang tidak diinginkan. Bukan tidak diinginkan, tetapi tempat yang belum sepantasnya diberikan kepada saya karena menuntut kondisi tulisan yang bagus.

Karena keadaan itulah saya mengajukan diri sebagai salah satu anggota tim mudik yang berada di lapangan. Maksudnya di lapangan, saya tidak meliput di wilayah Jakarta dan sekitarnya, seperti di Masjid Istiqlal atau penjara, atau di tempat-tempat yang sekiranya banyak pejabat akan mengadakan acara pencitraan.

Saya menginginkan petualangan (meskipun menurut saya berlebaran bersama napi juga adalah petualangan yang menarik). Petualangan di sini maksudnya adalah sebuah perjalanan liputan yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pilihannya adalah di jalur utara, jalur selatan, atau Pelabuhan Merak.

Karena saya kuliah di Bandung dan merasa sudah mengenal wilayah tersebut (padahal belum semua saya tahu), saya mengajukan diri sebagai tim mudik yang menguasai wilayah selatan, alias Nagreg. Wilayah yang berada antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Secara ajaib keinginan saya diamini oleh Kepala Newsroom pada masa itu, dan pergilah saya ke Nagreg yang katanya memiliki berbagai berita tersebut. Tepatnya Selasa (13/8) malam tahun 2011. Sebetulnya beliau meragukan saya ke Nagreg. Dia berkali-kali menanyakan kepada saya mengenai keyakinan saya untuk berangkat ke Nagreg. Dia bertanya apakah saya siap dengan kondisinya, apakah saya memiliki peralatan yang lengkap di sana (sepeda motor maksudnya). Saya meyakinkan Kepala NEwsroom kalau saya bisa melakukannya. Saya ingin membuktikan kalau saya pun punya kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Sebagai penginapan saya memaksa teman dekat saya saat itu untuk menampung saya di kost-nya di wilayah Jatinangor. Selama 12 hari saya berada di Nagreg dan sekitarnya, meliput kondisi arus mudik di sana.

Saya beruntung hari pertama meliput saya melihat banyak polisi di jalanan. Ketika dilihat-lihat, ternyata Bapak Presiden yang Terhormat sedang berkunjung ke Kabupaten Bandung. Beliau ingin melihat-lihat kondisi jalur baru Nagreg yang baru saja selesai.

Hari pertama liputan mudik sukses. Saya menyuruh teman dekat saya sebagai pemilik motor untuk mengantar saya liputan ke Nagreg, hari demi hari. Saya bahkan menyusahkannya dari pagi sampai malam. Saya mengajaknya keliling mulai dari Rancaekek, Nagreg, Leles, Garut, kemudian ke Limbangan dan sampai ke Sumedang.

Kami mencari-cari jalur alternatif, mulai dari daerah yang banyak pemancingannya sampai ke daerah yang naik-turun gunung.

Mencari jalur alternatif itu ternyata seru. Saya tidak peduli dengan teman saya yang protes karena kecapean mengantar. Saya memaksa mencari-cari jalur lain yang kira-kira bisa dilalui pemudik. Pertama-tama dia mengeluh, namun kemudian menjadi pengalaman baginya karena pun dia belum pernah melewati jalur tersebut.

Satu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan ketika mencari jalur dari Sumedang ke Garut. Pada saat itu saya iseng mengajak teman saya melalui satu daerah (yang sayangnya saya lupa sangat nama daerah tersebut). Daerah itu ternyata sebuah daerah yag melintasi gunung. Benar-benar pengalaman ninja hattori. Mengapa? Karena kami benar-benar mendaki gunung dengan sepeda motor. Bahkan saking tanjakan gunung itu curam, sepeda motor teman saya tak sanggup mengangkut kami berdua.

Pada mulut jalan masih ada aspal. Namun aspal hanya bertahan beberapa kilometer saja. Mungkin hanya lima kilometer. Sisanya jadilah jalan berbatu halus, kemudian berbatu kasar.

Pada awalnya, tanjakannya tidak curam. Katakanlah maksimal hingga 45 derajat. Tapi makin masuk ke jalan itu, tanjakan semakin suram. Saya yakin bisa mencapai 80 derajat.

Belum pernah saya melalui jalan semacam itu. Pasalnya si jalan dikelilingi oleh hutan lebat. Saya sudah pernah melalui jalan di tengah hutan, tapi belum pernah yang seperti ini. Kalian pernah membayangkan Tudung Merah berjalan di tengah hutan menuju rumah neneknya? Seperti itulah kira-kira. Untungnya jalan tersebut masih cukup lebar sejak awal hingga akhir. Cukup dilalui satu mobil saja.

Perjalanan kami bukanlah perjalanan yang mudah. Pasalnya saya harus berkali-kali turun dan berjalan kaki, mendaki, karena motor tidak kuat mengangkut beban dua orang. Entah mengapa, padahal biasanya selalu tangguh di segala medan.

Berkali-kali saya mengeluh ingin membatalkan puasa. Betapa tidak, kami berada di tengah hutan selama berjam-jam. Saya masuk ke jalan tersebut sekitar pukul 14.00 dan berakhir di jalur yang satunya sekitar pukul 18.30. Benar-benar mengagumkan! Waktu itu memang tidak akurat mengingat kami beberapa kali berhenti dan istirahat.

Tapi ada permulaan pasti ada akhir. Penderitaan yang saya dan teman saya alami akhirnya berakhir di ujung jalan. Kami baru sampai kost pukul 10 malam dengan tubuh yang remuk redam dan kelelahan. Tapi alhamdulillah tidak membatalkan puasa. πŸ™‚

Saya diberi kemudahan ketika meliput mudik tahun lalu. Selama Ramadhan saya tidak mendapatkan jatah libur puasa. Seharusnya saya bisa lolos satu bulan penuh. Sayangnya dua kali saya harus membatalkan puasa gara-gara tidak sahur. Karena tidak kuat dengan kondisi yang sibuk dan padat, akhirnya saya membatalkan puasa. Yah, daripada pingsan di jalan dan merepotkan orang, kan?

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s