So Long, Medals

Kegagalan Tontowi Ahmad mengembalikan pukulan menjadi gada bagi tim Indonesia. Dengan skor akhir gim ketiga 13-21 Cina memastikan diri melaju ke final Olimpiade 2012 cabang olahraga bulutangkis.

Kegagalan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, memupuskan harapan Indonesia meraih emas dari cabang bulutangkis–yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Tekanan akan tanggungjawab mereka terhadap negara berbalik menjadi bumerang bagi keduanya.

Tontowi/Liliyana usai gagal lolos ke final

Sepanjang fase grup Tontowi/Liliyana bermain apik dan tidak terkalahkan. Mereka berhasil menjadi juara Grup C. Begitu pula di perempat final ketika melawan ganda campuran Jerman, Michael Fuchs dan Birgit Michels. Mereka berhasil lolos ke semifinal dan bertemu dengan unggulan pertama Cina, Xu Chen/Ma Jin.

Tampaknya tekanan ‘tradisi medali’ membuat keduanya kehilangan konsentrasi. Namun Tontowi/Liliyana bermain cukup baik di gim pertama, meskipun harus berakhir deuce, 23-21.

Pertandingan kedua berlangsung cukup menegangkan. Bak film horror, kedua tim begitu bersemangat ingin mengalahkan yang lain. Kejar-mengejar skor tak terhindarkan, demi melaju ke babak puncak. Sayang Tontowi/Liliyana gagal meraih kemenangan. Keduanya kalah tipis 18-21.

Kekalahan ini agaknya menambah tekanan pasangan yang meraih All England tersebut. Posisi mereka sebagai harapan satu-satunya Indonesia, kewajiban mereka mempertahankan emas olimpiade, serta kekalahan yang menyakitkan di gim kedua membuat Tontowi/Liliyana bermain penuh ketakutan. Hasilnya? Pertandingan yang berlangsung selama lebih dari satu jam tersebut berakhir dramatis.

Usai pertandingan kedua pemain mengaku tegang sepanjang permainan. Liliyana mengatakan mereka sudah berusaha maksimal, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Pun halnya Tontowi yang tahun ini adalah penampilan pertamanya di ajang bergengsi tersebut. “Yang terpikirkan hanya menang-kalah,” ujar Tontowi usai pertandingan. Tekanan yang terlalu besar membuat mereka tertinggal di gim ketiga. Beban yang diberikan kepada dua pasang atlet ini terlalu besar untuk bisa mereka angkut ke podium kemenangan.

Apa mau dikata, kali ini Indonesia harus kehilangan medali dan mengakhiri perolehan emas di olimpiade. Pun keduanya gagal mendapatkan medali perunggu setelah kalah atas ganda campuran Denmark, Joachim Fischer/Christinna Pedersen. Bulutangkis yang sebelumnya dielu-elukan akan menyumbang medali untuk Indonesia terpaksa pulang dengan tangan hampa.

Indonesia sebetulnya masih berpeluang mendapatkan emas dari cabang lain, yaitu atletik. Namun kemungkinannya sangat kecil.

Olimpiade Athena 2004

Dimulai Pada 1992
Indonesia pertama kali berpartisipasi dalam olimpiade pada 1952. Pada saat itu Olimpiade berlangsung di Finlandia. Namun ketika itu Indonesia sama sekali tidak meraih satu medali pun.

Medali pertama diraih Indonesia pada Olimpiade Seoul pada 1988. Indonesia meraih medali perak dari cabang panahan beregu putri.

Emas pertama kali diraih oleh tim Merah-Putih pada Olimpiade Barcelona pada 1992. Bulutangkis akhirnya mengharumkan nama bangsa melalui tunggal putri (Susi Susanti) dan tunggal putra (Alan Budikusuma). Sejak saat itu Indonesia setidaknya selalu membawa pulang satu emas. Terakhir Indonesia membawa pulang emas dari cabang ganda putra melalui Markis Kido dan Hendra Setiawan pada Olimpiade Beijing 2008.

Emas selalu dibawa dari cabang bulutangkis.

Skandal Cina
Tahun ini mungkin bukanlah tahun keberuntungan Indonesia. Kekalahan ganda campuran Indonesia diperburuk dengan satu peristiwa yang berlangsung satu hari sebelum pertandingan penentuan Tontowi/Liliyana.

Peristiwa tersebut terjadi di ganda putri, di pertandingan akhir fase grup. Tepatnya Grup A dan Grup C.

Semua berawal ketika ganda putri Cina, Tian Qing/Zhao Yunlei gagal menjadi juara grup di olimpiade. Hal ini membuat mereka harus puas di posisi kedua. Kondisi ini membuat pasangan Cina lainnya, Yu Yang/Wang Xiaoli, mengatur strategi agar keduanya tidak bertemu lebih dini.

Secara aturan jika Tian/Zhao menjadi juara grup, pun Yu/Wang, mereka akan bertemu di final. Namun bila salah satu dari mereka kalah, maka kedua ganda putri Cina ini akan beradu kekuatan di semifinal. Hal ini tidak diinginkan oleh Cina karena mereka berniat untuk membuat “All China Final” di olimpiade kali ini.

Maka Rabu (1/8) Yu/Wang bermain konyol ketika melawan lawan satu grupnya, Jung Kyung-eun/Kim Ha-na yang berasal dari Korea Selatan. Pertandingan tersebut berlangsung singkat–tidak biasa bagi tim top dunia tersebut. Hal ini tidak lain demi tujuan mereka agar tidak bertemu lawan senegara di semifinal. Harapan Yu/Wang terkabul. Ganda putri tersebut berhasil berakting buruk sepanjang pertandingan dan kalah atas Jung/Kim. Sesuatu yang tidak mungkin bagi ganda putri yang prestasinya tengah di atas awan.

Melihat hasil ini dua ganda putri dari grup lain ketar-ketir. Pasalnya siapapun yang menjadi juara grup akan berhadapan langsung dengan Yu/Wang di perdelapan final. Karena tidak mau bertemu dengan ganda Cina ini, kedua ganda ini ikut-ikutan bermain konyol.

Mereka adalah ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Meiliana Jauhari dan Ha Jung-eun/Kim Min-Jung. Keduanya sama-sama ogah langsung bertemu Cina.

Dua pertandingan buruk ini mencoreng sportifitas yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap atlet. Wasit kehormatan pertandingan sempat mengancam keempat ganda ini dengan kartu hitam. Namun tetap saja keempatnya tetap bermain buruk sehingga akhirnya para wasit dan World Badminton Federation (WBF) memutuskan mendiskualifikasikan keempatnya.

Peristiwa ini menambah deretan kelam prestasi bulutangkis Indonesia. Mengikuti jejak ke belakang sepanjang satu tahun terakhir Indonesia mencatat penurunan prestasi. Sebut saja kegagalan Indonesia di perempat final Piala Thomas, yang sepanjang sejarah belum pernah terjadi.

Ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi Pengurus Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk lebih telaten lagi mengurus dan membina atlet. Ini juga menjadi tamparan bagi pemerintah yang hanya bisa menyuruh atlet untuk meraih prestasi setinggi langit namun tidak menghargai mereka sebagai roda prestis negara.

Terpenting, ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa ambisi untuk menjadi yang terbaik tanpa kerja sama dan keikhlasan tidak akan pernah terwujud. Mental yang kuat akan membawa kita menuju kebaikan. Saat menang, mental meminimalisir rasa bangga yang berlebihan. Ketika kalah, mental membantu kita tetap berdiri tegak di bawah hujan kekecewaan.

n c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s