Kedelai: Dari Wong Ndeso sampai Priyayi

Tempe dan tahu banyak dideskripsikan sebagai makanan masyarakat menengah ke bawah. Ketika saya kuliah dulu tempe identik dengan makanan anak kos nan nelangsa. Mengapa? Karena di manapun pergi mencari lauk untuk makan, tempe dan tahu adalah satu-satunya makanan yang harganya paling murah. Perkedel jagung dan perkedel kentang saja harganya masih lebih mahal daripada kedelai.

Namun pekan lalu Indonesia dihebohkan dengan unjuk rasa yang dilakukan oleh pelaku usaha tahu dan tempe. Sekitar 4 ribu perajin tempe di Jabodetabek, Banten, dan Bandung mogok produksi, mogok jualan, bahkan tak segan-segan memblokir usaha rekan perajin tahu dan tempe serta memaksa mereka melakukan hal yang sama.

Yang paling parah, perajin tahu di Jakarta melakukan aksi bodoh dengan menghancurkan tahu yang telah mereka buat. Kejadian ini berlangsung di Lapangan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (25/7). Mereka mengumpulkan tahu-tahu yang ada di sekitar sana, kemudian menghancurkannya dengan menginjak-injaknya.

Tindakan tidak cerdas ini mereka lakukan setelah tidak tahan dengan harga bahan baku tahu dan tempe yang selangit. Seperti dilansir laman Republika, Rabu, harga kedelai impor per kuintalnya mencapai Rp 800 ribu. Biasanya kedelai bisa dibawa pulang dengan Rp 600 ribu per kuintal. Tadinya per kilogram bisa dihargai Rp 5.000 saja.

Memang harga kedelai tahun ini merupakan yang termahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harga tertinggi pernah dialami pelaku usaha makanan asli Indonesia ini pada 2007-2008 lalu. Menurut keterangan Sekretaris Umum Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia (Koptti) Jawa Barat, Hugo Siswaya, harga tertinggi pada masa itu adalah Rp 7.000 per kilogram. Harga awal tahun lalu adalah Rp 5.300 per kilogram.

Mahalnya harga kedelai impor ini membuat para pelaku usaha tahu dan tempe, termasuk pedagangnya menghilang dari peredaran. Beberapa memilih mogok berjualan, sisanya tidak bisa berjualan karena tidak memproduksi tahu dan tempe. Kalaupun ada yang berjualan, tahu dan tempe tersebut adalah produksi sisa kedelai yang mereka miliki. Itupun harganya selangit, seiring dengan kelangkaan tahu dan tempe.

Tempe yang tadinya identik dengan makanan sejuta umat menjadi makanan mahal dan langka. Rakyat kalangan bawah yang tidak bisa menikmati steak atau shabu-shabu atau tacho tambah sengsara karena makanan mereka pun ikut merangkak naik. Apa yang saat ini bisa mereka nikmati adalah ayam suntik.

Mahalnya kedelai ini tidak lain disebabkan oleh mahalnya bea masuk kedelai impor. Indonesia tidak cukup lahan untuk memproduksi kedelai sesuai kebutuhan masyarakat. Sedangkan kedelai adalah bahan utama makanan kegemaran Indonesia pada umumnya.

Indonesia hanya mampu memproduksi 800 ribu ton per tahun dengan lahan yang ada. Sedangkan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta, masyarakat menghabiskan kedelai sekitar 3 juta ton per tahun. Defisit kedelai ini mau tidak mau harus ditutupi dari impor. Kalau kata Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, 70 persen dari kebutuhan kedelai dalam negeri dipasok oleh impor.

Ia menambahkan naiknya harga kedelai disebabkan oleh anomali cuaca yang terjadi di wilayah Amerika Serikat dan Selatan. Tampaknya dari sinilah kedelai yang kita makan sehari-hari ditanam. Kenaikan harga kedelai di internasional menyebabkan naik pula harganya di Indonesia.

Nah, untuk meredam itu pemerintah sudah melakukan pertemuan (pertemuan yang baru dilaksanakan setelah satu pekan pelaku usaha menjerit soal ini. Gak baca koran apa ya?). Pertemuan ini memutuskan untuk menurunkan harga bea masuk kedelai dari 5 persen menjadi 0 persen.

Manfaat Kedelai
Meskipun ukurannya kecil dan terlihat tidak meyakinkan, kedelai memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Kedelai mengandung protein lengkap karena mengandung asam amino esensial. Manfaat kedelai ditemukan di negara-negara seperti Cina dan Jepang. Pasalnya presentase masyarakat kedua negara tersebut terkena serangan jantung, osteoporosis dan kanker sangat kecil.

Beberapa manfaat kedelai adalah pertama sebagai antioksidan karena memiliki senyawa isoflavon. Senyawa ini bermanfaat memperbaiki sel yang mati dan mencegah kerusakan sel akibat polusi dan sinar matahari.

Kedua, kedelai dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan mencegah kanker seperti kanker payudara dan prostat. Kedelai juga bermanfaat mengurangi osteoporosis dan membantu mengurangi rasa sakit selama periode menstruasi pada perempuan. Dan yang paling diminati oleh perempuan, kedelai dapat menjaga berat badan.

Swasembada kedelai
Saat ini lahan tanam kedelah hanya berjumlah sekitar 700 ribu hektare. Idealnya untuk memenuhi keperluan kedelai negara perlu lahan dua kali lipatnya, atau sekitar 1,5 juta hektare. Namun Gita mengatakan untuk bisa mencapai luas ideal itu memerlukan waktu yang sangat lama.

Selain itu menanam kedelai tidak memberikan keuntungan besar bagi petani kedelai. Mereka banyak yang memilih untuk menanam komoditas lain seperti jagung dan padi yang keuntungannya dinilai lebih besar.

Kementerian Pertanian telah menginventarisir sekitar 7,2 juta hektare lahan terlantar. Sayangnya, Gita mengatakan untuk meminta 500 ribu hektare saja tidak mudah. Dari asumsi inilah mengapa masa depan swasembada kedelai sulit dilakukan.

Jangankan untuk swasembada kedelai, swasembada beras saja Indonesia belum mampu. (dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s