Random Country versus Nasionalisme

Pekan lalu Indonesia dikejutkan dengan sebuah perkataan dari bintang idola remaja dunia, Justin Bieber. Bieber diklaim telah mencemooh Indonesia sebagai ‘random country’ atau negara antah berantah dalam wawancaranya mengenai album baru di London, Inggris. Tentu saja berita tersebut menghebohkan negara di antara dua samudera ini.

Dalam acara The Voice yang dipandu oleh Reggie Yates, Bieber menceritakan tentang tiga lagu di albumnya yang baru, Believe. Lagu pertama yang berjudul ‘All Around the World’ diperdengarkan. Namun belum selesai lagu tersebut diputar, Bieber minta lagu itu dihentikan. Dia perpendapat kualitas suara yang diputar sangatlah buruk. “I was in a random country,” kata dia.

Kemudian si manajernya, Scott Braun, mengatakan rekaman itu diambil di sebuah kota di Indonesia. Hal ini membuat pembaca menyimpulkan Bieber tengah menyindir Indonesia dengan sebutan //random country//. Hal ini menjadi perbincangan fans Bieber di Indonesia. Mereka terbagi menjadi dua kubu, ada yang membela, ada pula yang berbalik membenci.

Justin Bieber

Tidak hanya itu, saking sakit hatinya mereka dengan Bieber, beberapa radio FM di Indonesia bahkan memboikot lagu-lagu si pelantun ‘Baby’ ini. Wew, berlebihan sekali, eh?

Sebagai warga yang masih menjunjung tinggi nasionalisme yang diajarkan sejak sekolah dasar melalui pelajaran pendidikan masyarakat pancasila (PMP), saya pun turut merasa terhina. Apa sih maksud bocah ingusan yang tiba-tiba terkenal via youtube ini dengan frase //random country//? Dia ingin bikin sensasi atau memang mulutnya tidak pernah disekolahkan?

Namun setelah puas menertawakan para ababil yang terjebak antara membela idola dan membela negara, saya menyadari sesuatu. Setelah disentil oleh teman. Random dipakai oleh orang Barat sebagai frase yang berarti ‘tidak jelas’. Mungkin saja dia mengatakan Indonesia adalah negara yang tak jelas karena memang tidak memiliki ciri khas. Bhineka tunggal ika, adalah ciri khas kita, kan? Tapi mungkin hal itu dianggapnya tidak jelas. Tidak seperti Amerika yang terkenal dengan //merah-biru// atau WTC (yang udah hancur) atau pentagon. Nah, si Indonesia ini saking banyaknya budaya, jadi tidak jelas mana yang menjadi ciri khas. Padahal ITU yang jadi ciri khas.

Oke, analisis kedua saya, Bieber menyebut seperti itu karena memang mungkin dia melihat Indonesia TIDAK mempunyai ciri khas. Artinya, orang-orang Indonesia yang dia lihat (Dalam hal ini tentu saja fansnya yang ababil, sama seperti dia), tidak bersikap selayaknya budaya negeri mereka sendiri. Artinya, si anak-anak ini telah lupa dengan budaya mereka dan menciptaka budaya modern yang dibawa dari luar serta tanpa filter.

Fenomenanya sekarang, Indonesia sudah kehilangan ciri khasnya. Bhineka tunggal ika? Sudah mulai luntur. Euforia Super Junior (dari Korea) atau Justin Bieber (dari Amrik) sendiri sudah merambah ke perdesaan di Indonesia, kecuali perdesaan yang belum mendapat pasokan listrik dari pemerintah. Hal ini membuat budaya sendiri luntur. Lihat saja, orang-orang yang melestarikan kebudayaan sendiri hanya komunitas-komunitas kecil yang isinya bahkan bukan orang yang berasal dari budaya itu. Yah, seperti saya misalnya malah membelot mempelajari adat sunda, alih-alih adat sendiri. Itupun belum semua yang saya kuasai.

Budaya asli perlahan-lahan menghilang seiring dengan pertumbuhan peradaban dan teknologi. Sayangnya Indonesia belum memiliki pendidikan yang memadai untuk memfilter budaya asing yang masuk. Artinya, Indonesia telah terjamah teknologi yang kebanyakan lahir dari barat, namun tidak mendapatkan pendidikan yang cukup cerdas untuk mampu mempertahankan diri dari jajahan asing. Jajahan asing kan tidak hanya perang saja, tapi melalui teknologi itulah. Nah, ini yang tidak disadari oleh masyarakat Indonesia kebanyakan.

Kembali lagi ke //random country//. Mungkin selama di Indonesia si Bieber ini melihat anak-anak Indonesia bersikap sama saja dengan remaja yang ada di Barat. Jadi ia tidak merasa ada perbedaan antara Barat dan Indonesia. Bedanya, Indonesia adalah negara di dunia ketiga yang masih dianggap norak. Sok modern tapi tidak maju seperti di Amrik (padahal orang Amrik sama noraknya).

Alhasil si Bieber ini menganggap Indonesia adalah negara tak jelas yang tidak mampu memilih di bagian mana kakinya berpijak. Artinya, orang Indonesia lebih banyak meniru hal-hal yang masuk ke negaranya tanpa menyaring apakah itu bermanfaat baginya atau tidak. Yah, rokok saja meski sudah pakai filter tetap saja dicap sebagai pembunuh nomor satu. Apalagi serangan budaya seperti ini. Kita bisa kehilangan kendali atas diri sendiri karena kita kehilangan jati diri.

Seperti sekarang saja, meskipun saya tidak begitu cinta dengan Indonesia, saya tetap menjadi warga negara yang baik. Kenapa? Karena nasionalisme itu penting untuk jati diri. Bung Hatta, meskipun dia belajar ke Belanda dan sukses di sana, dia tetap kembali ke Indonesia untuk memajukan bangsanya. Dia mengambil hal-hal positif di negeri kincir tersebut dan membawanya ke Indonesia, untuk memajukan negaranya dan mengusir penjajahan Belanda. Dan dia berhasil, kan?

Yah, mungkin saja Bieber hanya salah sebut. Toh dia tidak sekolah dan tidak kuliah. Jadi wajar saja kalau kosa kata yang dia punya bukanlah kosa kata Inggris yang intelek. Mungkin juga dia berniat menyebut sebuah negara di Asia, tapi nama-nama negara di Asia terlalu //random// di otaknya.

Salam Beliebers!

Advertisements

One thought on “Random Country versus Nasionalisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s