“Hompimpah, Unyil kucing!” (Bag. 2)

Meskipun hingga saya dewasa Boneka Si Unyil tidak pernah beranjak dari kostum merah-putihnya di sekolah, Si Unyil ternyata jauh lebih tua dibandingkan saya. Boneka tangan yang selalu berkostum baju koko oranye dengan sarung melilit di bahu dan peci hitam yang khas Indonesia, Si Unyil lahir untuk menghibur dan memberikan ‘pelajaran’ terselubung untuk anak Indonesia.

Si Unyil dilahirkan pada akhir tahun 1979. Siapa penciptanya? Sebetulnya ada tiga orang yang berjasa dalam penciptaan sahabat anak Indonesia tahun 80an ini. Yang pertama adalah kreatornya, yaitu seorang dosen seni di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia bernama Drs Suyadi atau yang lebih dikenal dengan Pak Raden. Ya, Pak Raden yang biasa kita lihat di televisi itu, yang memakai kostum jawa ningrat, beralis tebal, berkumis lebat dan suara galak yang selalu membawa tongkat besar itu. Dari otaknya lah Si Unyil lahir.

Suyadi alias Pak Raden. foto oleh @tribunnews
Suyadi alias Pak Raden. foto oleh @tribunnews

Orang kedua yang berjasa adalah Pimpinan Perum Produksi Negara (PPFN) pada saat itu, yaitu Gufron Dwipayana. Dia menjadi orang yang memiliki ide awal untuk membuat sebuah tayangan anak-anak yang asli Indonesia. “Beliau menilai anak-anak Indonesia terlalu digempur dengan tayangan dari luar,” ujar Pak Raden saat ditemui di kediamannya di Petamburan, Jakarta Barat, Sabtu (14/4).

Atas dasar inilah ia mencari kreator-kreator yang mampu menciptakan sebuah tayangan yang cerdas dan mendidik bagi anak-anak bangsa. Akhirnya ia memanggil Suyadi dan rekannya untuk menciptakan sebuah film anak, yang akhirnya diberi nama Boneka Si Unyil.

Rekan Suyadi, merupakan orang ketiga yang betul-betul berjasa atas penggarapan film ini. Beliau adalah (alm) Kurnain Suhardiman. Beliau bertanggung jawab penuh atas naskah-naskah film Si Unyil. Karena beliaulah anak-anak Indonesia belajar tentang gotong royong, tenggang rasa, dan doktrin pemerintah lainnya tanpa merasa didoktrin secara langsung.

Hasilnya, film-film Si Unyil terekam di kepala anak-anak Indonesia yang tumbuh di era 1980 dan 1990an. Mereka terdoktrin dengan ABRI masuk desa, program KB, dan posyandu. Tentu saja ini tanpa disadari anak-anak itu.

Nah, awalnya Pak Dwipayana menginginkan sebuah film kartun, berharap film ini bisa menyaingi film kartun luar. Hanya saja teknologi saat itu di Indonesia belum memungkinkan mereka membuat film kartun dua dimensi (sampai sekarang pun mungkin masih sedikit sekali yang mampu. Kalaupun mampu, ide ceritanya jauh dari mendidik). Akhirnya Suyadi memberi ide, “Mengapa tidak membuat film boneka saja? Boneka tangan?”

Ide tersebut disambut baik. Akhirnya Suyadi merancang sebuah boneka anak lengkap dengan pemain pembantu. Boneka itu dibuat pertama kali dari tanah liat. Namun Suyadi berpendapat boneka dari tanah liat sangat berat dan tidak bagus. Akhirnya boneka dibuat dari kertas. Boneka yang ia ciptakan adalah boneka tangan.

Setelah selesai, Suyadi bingung memberi nama si boneka. Kemudian Kurnain memberi ide. Beri saja nama Si Unyil. Nama Unyil yang berarti kecil itu adalah salah satu tokoh rekaan Kurnain di salah satu cerpen yang pernah dibuatnya. Namun tokoh Unyil di film boneka dan cerpen tersebut sama sekali berbeda, lho. Suyadi menegaskan ia hanya mengambil nama Unyil saja.

Tokoh Unyil ini akhirnya membumi di antara anak-anak Indonesia. Mereka bahkan tersihir oleh film boneka sederhana ini. Masalah perfilman ini tidak mencuat selama film tersebut tayang sejak awal tahun 1980an hingga awal 1990an. Kira-kira 13 tahun berputar di TVRI.

Pada awalnya tidak terpikirkan oleh Suyadi untuk mempatenkan boneka-boneka ciptaannya. Ia berpikir semua ini ia lakukan untuk anak-anak. Ia bahkan menghentikan kegiatannya sebagai dosen seni di Institut Teknologi Bandung, segera setelah diminta untuk membuat film Si Unyil. “Saya berpikir nanti tidak akan bisa fokus untuk bekerja jika harus bolak-balik Jakarta-Bandung,” ujar pria kelahiran Jember 28 November 1932 tersebut.

foto oleh @riaupos
foto oleh @riaupos

Ia juga telah melakukan pengalihan hak cipta pada tahun 1995 dengan PPFN. Dalam surat pernyataan tersebut Suyadi menyerahkan hak cipta kepada pihak PPFN yang saat itu dipimpin oleh Amoroso Katamsi. Pada perjanjian yang ditandatangani suyadi pada 1998 tersebut disebutkan hak cipta hanya berlaku selama lima tahun sejak pernyataan itu dianggap sah. Berdasarkan data yang ada, perjanjian tersebut bernomor 139/P.PFN/XII/1995. Yang membuat aneh adalah, ada dua surat yang sama. Artinya, perjanjian antara PPFN dan Suyadi terjadi dua kali, dengan nomor yang sama, tanggal yang sama, namun isi yang berbeda. Perbedaannya terletak pada lamanya kontrak hak cipta boneka berpeci tersebut. Pada perjanjian pertama hak cipta hanya berlaku selama lima tahun, namun pada perjanjian kedua tidak disebut sama sekali berapa lama hak cipta tersebut berlaku. Hal ini, kata Suyadi, menjadi sesuatu yang rancu.

Ketika ditanya mengapa baru diurus sekarang, Suyadi mengungkapkan hal ini ia lakukan karena usianya yang sudah senja. “Ini terasa ketika matahari kehidupan saya sudah terbenam. Saya merasa saya harus diberi sesuatu. Bagi saya hak cipta itu adalah hadiah yang sangat indah,” tuturnya.

Yang ia inginkan sebetulnya bukanlah uang, namun hak cipta. Gaji bulanan dari Menteri BUMN, Dahlan Iskan, saja ditolaknya (padahal g ada hubungannya BUMN sama Pak Raden). Yang ia inginkan hanyalah hak untuk mengatur dan mengelola si Unyil. Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan Unyil haruslah sesuai dengan izinnya. Itu saja, kata dia.

Bagi Suyadi, rasa sayang dari para penggemar dan anak-anak adalah sebuah penghargaan terbesar baginya. Ketika anak-anak mencintai Si Unyil, itu adalah anugerah baginya. “Kebahagiaan saya ada ketika anak-anak ikut berbahagia,” tutupnya.

Advertisements

3 thoughts on ““Hompimpah, Unyil kucing!” (Bag. 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s