“Hompimpah, Unyil kucing!” (Bag. 1)

Siapa yang tidak kenal serial Boneka Si Unyil? Bocah ini dikenal selalu memakai baju warna oranye, dengan sarung biru kotak-kotak dan peci hitam yang melekat di kepalanya. Ia adalah ciri bocah ideal asli Indonesia (tapi saya pikir dia bocah ideal anak Pulau Jawa, hihi). Umurnya mungkin sekitar 9-10 tahun. Dia dikenal sebagai anak yang pintar, rajin, dan senang bergaul.

Pada tahun 1980an hingga awal 1990an ia adalah ikon anak Indonesia. Unyil menjadi legenda di masanya, karena tayangan ini merupakan satu-satunya tayangan anak pada masa itu, sebelum diikuti oleh tayangan Si Komo, Boneka Susan, dan Doraemon (saya hanya ingat itu). Tayangan Boneka Si Unyil merupakan film yang paling ditunggu-tunggu anak Indonesia. Pertama kali mengudara adalah pada 5 April 1981 hingga 1993. Awal-awalnya siaran ini ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) setiap Ahad pukul 08.30 WIB. Kemudian kalau tidak salah tayangan ini dipindah ke TPI atau RCTI.

Intinya, Si Unyil menjadi legenda bagi anak-anak yang lahir pada tahun 1980an hingga 1990an (beruntunglah saya, hahay). Tidak lengkap liburan pada Ahad pagi tanpa duduk manis di depan TV, menonton Si Unyil dan seluruh tokohnya. Meskipun dulu sempat hitam-putih, tayangan boneka tangan ini tidak akan bisa ditinggalkan oleh setiap anak.

Unyil, Ucrit, Usro

Siapa sih, Unyil?

Si Unyil adalah seorang bocah asli Indonesia. Tepatnya ia berasal dari sebuah desa percontohan yang diberi nama Suka Maju. Desa tersebut merupakan desa ideal bikinan pemerintah. Desa ini lengkap sangat. Desa ini merupakan proyek desa ideal pemerintah, yang bahkan lengkap dengan hutan lindungnya.

Desa Suka Maju dikepalai oleh seorang Pak Lurah, seorang yang berkacamata, berdandanan rapi, dagu runcing dan terlihat berwibawa. Desa Suka Maju sangatlah bhineka tunggal ika. Warga desa ini merupakan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Pak Raden yang Jawa Feodal (nama aslinya Raden Mas Singomenggolo Jalmowono), Bu Bariah yang berbicara kental Madura, Bang Togar dari Sumatra Utara, Meilani yang keturunan Tionghoa, dan seorang penjahit yang berasal dari Sumatra Barat. Kalau tidak salah nama tokonya adalah ‘Penjahit Rancak’.

Unyil memiliki sahabat dekat, yaitu Ucrit dan Usro. Mereka adalah teman satu geng dengan Unyil yang juga membentuk sebuah grup band yang dinamai Dekil. Entah apa maksud mereka menamai band tersebut dengan nama itu. Seperti halnya film anak-anak lain dan untuk menciptakan keseimbangan dalam satu kehidupan, geng Unyil memiliki musuh. Mereka adalah Cuplis, Endut, dan Pesek (atau bernama Kendar). Dari geng perempuan juga ada, yaitu Meilani dan kawan-kawan. Saya lupa namanya siapa. Kalau dari referensi yang saya dapat nama mereka adalah Meilani, Siti, dan Tinah. Entahlah, sudah sangat lama. Yang jelas mereka menjadi penyeimbang pula dalam serial ini supaya tidak terkesan film ini dibuat untuk anak cowok. πŸ™‚

Nah, selain orang-orang di atas ada dua tokoh yang cukup terkenal juga. Mereka tidak hanya terkenal karena kehadirannya, tapi juga terkenal malasnya. Mereka adalah duo Pak Ogah dan Pak Ableh. Pak Ogah adalah seorang berkepala botak dan selalu memakai baju berwarna putih. Sedangkan konconya, Pak Ableh, adalah sama pemalasnya dan selalu menurut apa yang Pak Ogah katakan.

Saking lengkapnya, Desa Suka Maju juga memiliki penjahat, hansip, dan pemain breakdance (yang bernama Joni, dia selalu berkacamata hitam dan earphone tergantung di kuping). Tidak lupa pula ada pengamen, dan orang gila yang setiap masuk selalu mencari istri dan anaknya yang hilang. Adegannya selalu berlangsung sama. Si orang gila tiba-tiba muncul dan berteriak tak karuan, “Mana istriku… mana anakku…,” Oh iya juga pernah disebutkan ada dua seniman yang hadir di serial ini, yaitu Pablo Domino (alias Pablo Picasso) dan Leonardo Dasimin (atau Leonardo Da Vinci).

Sumber : anasarrosyidh.blogspot.com

Misi Pemerintah Orde Baru

Cerita yang diusung oleh anak asli Desa Suka Maju ini adalah cerita-cerita sehari-hari, seperti tentang sekolah, bermain, kerja kelompok, gotong royong, dan lain-lain. Nah, karena serial ini merupakan produk negara, alias buatan Pusat Produksi Film Negara (PPFN), maka film ini sebetulnya adalah salah satu bentuk misi pemerintah. Pemerintah ingin mendoktrin anak-anak dengan kebijakan-kebijakan pada saat itu melalui sebuah film yang mudah berterima di telinga dan hati anak-anak. Jahat, ya, tapi memang begitulah adanya.

Kebanyakan memang bercerita tentang sesuatu yang baik, seperti yang saya bilang di atas. Hal-hal baik seperti gotong royong dan lain-lain itu. Namun sering juga film ini membawa misi dari pemerintah. Contohnya seperti waktu ada program Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) masuk desa. Film Si Unyil tak lupa menjadikan tema itu sebagai judulnya. Terus ada pula saat pemerintah menggadang-gadangkan program Keluarga Berencana (KB). Waktu itu keluarga Cuplis lah yang jadi bulan-bulanan. Kalo gak salah itu dia punya empat adik. Semua nama adik-adiknya berawalan ‘C’. Satu yang saya ingat bernama Chaplin (inget Charlie Chaplin).

Pokoknya, cerita-cerita Si Unyil tidak jauh-jauh deh dari pelajaran SD dulu: Pendidikan Masyarakat Pancasila (PMP) atau sekarang namanya Pendidikan Kewarganegaraan. Dan seperti yang kita tahu, ini semua adalah jargon buatan pemerintah Orde Baru.

Band Unyil pun juga menjadi korban pemerintah. Melalui Band Dekil, pemerintah berhasil memperkenalkan lagu β€˜Aku Anak Sehat’ yang selalu dinyanyikan oleh ibu-ibu tahun 1990an kepada anaknya atau dinyanyikan oleh petugas Posyandu. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu seperti β€˜sol Do Iwak Kebo’. Kira-kira lagunya seperti ini,

Sol do iwak kebo
Re mi fa sol iwak tongkol
Mi re mi re gule kare enak dewe

Mari kita rame-rame
Rame-rame makan sate
Satenya sate kebo
Ikannya ikan tongkol

Gule kare enak dewe

Namun cerita Si Unyil tidak melulu tentang misi pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang taat hukum. Program Si Unyil juga terkadang mengangkat tema-tema dongeng seperti Sangkuriang, Timun Mas, dan lain-lain.

Bhineka tunggal ika yang diusung Desa Suka Maju juga tidak semata-mata pada suku saja loh, namun juga agama. Hal ini terlihat dari bagaimana antara satu warga dengan warga lain saling tenggang rasa saat warga beragama berbeda merayakan hari besarnya. Si Unyil tidak segan-segan mengucapkan Selamat Natal pada temannya yang katolik dan Meilani yang protestan. Pokoknya mereka saling menjaga tenggang rasa antar agama deh, persis seperti yang ada di buku kewarganegaraan kurikulum 1994.

Sumber: niponk.blogspot.com

“Cepek dulu, dong,”

Bagi yang suka nonton Si Unyil, pasti kenal betul dengan kalimat-kalimat pamungkas yang sering terucap. Mulai dari awal hingga akhir film selalu ada istilah-istilah khas para pemain.

Pada awal film selalu didahului oleh logo PPFN dengan musik khasnya, kemudian muncul tiga anak yang tengah hom pim pah sambil berkata, “Hom pim pah, unyil kucing!” kemudian tiga anak itu menyebar, dan dimulailah musik khas pembuka Serial Boneka Si Unyil. Nama kru muncul satu persatu. Mulai dari kreator, penulis skenario, dan direktur utama PPFN pada saat itu. Oh iya, kalau tidak salah sebelum nama-nama kru dan pengisi suara muncul, judul film hari itu muncul lebih dulu.

Nah, setelah itu mulailah film dengan kalimat-kalimat khas seperti saat Unyil ditanyai bapaknya apakah sudah melakukan sesuatu yang diminta bapaknya. Unyil selalu bilang, “Baru mau akan, Pak”. Kalau geng Unyil sudah merencanakan sesuatu, dia akan mengajak teman-temannya dengan kalimat, “Mari kita kemon,” Whahaha, sumpaah, itu keren banget.

Pak Ogah juga terkenal dengan ungkapan-ungkapan yang ia ucapkan. Pria pemalas yang sering berleha-leha di pos kamling ini selalu mengatakan, “Ogah aah,” ketika diminta melakukan sesuatu. Ia juga selalu memalak anak-anak yang lewat di depan pos kamling dengan berkata, “Cepek dulu, dong,” Kalimat ini benar-benar menjadi kalimat pamungkas karena hingga saat ini masih sering terdengar, meskipun sekarang berubah menjadi, “Gopek dulu, dong,” Cepek (Rp 100) tidak ada nilainya lagi saat ini, hihi. Gopek (Rp 500) saja sudah kecil sekali artinya.

Selain kalimat di atas, Pak Ogah juga menjadi pemrakarsa kalimat, “Hajar, bleeeh!” Maksudnya “Hajar, Ableh,” yaitu rekan sama pemalasnya yang mulutnya agak balap.

Jargon terakhir yang tak kalah pamungkas ada di akhir acara. Unyil, Ucrit, dan Usro berdiri berjejer sambil berkata, “Sampai di sini dulu, teman-teman. MERDEKA!”

(dari berbagai sumber)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s