Kutang Barendo

lailalah kutang barendo
nan tampuruang sayak babulu
lah tamanuang nan tuo2
takana mudo nan dahulu

antah manga gadih jo bujang
lah bilo raun tiok hari
talingo lah samo basubang
nan bapakai imitasi

lailalah kutang barendo
nan tampuruang sayak babulu
rancak manjadi sopir oto
tiok bulan bakawan baru

saroman sajo kasadonyo
baiak jantan baiak batino
jalan sairiang baduo-duo
caliak dahulu mangko disapo

lailalah kutang barendo
nan tampuruang sayak babulu
nan lah malang tibo di ambo
tiok dapek indak katuju

caliak lagak urang kini
antah apo lah namonyo
lah malang nan gadih-gadih
tiok diawai tiok bapunyo

lailalah kutang barendo
nan tampuruang sayak babulu
lah tamanuang gaek agogo
takana mudo nan dahulu

saroman sajo kasadonyo
baiak jantan baiak batino
dek tak tantu ujuang pangkanyo
sangsaro juo jadinyo

lailalah kutang barendo
nan tampuruang sayak babulu
alah marandah sarang tampuo
elok dicaliak lah dahulu

sajak dahulu sampai kini
barulah kini mulai tampak
lah manjadi bujang jo gadih
banyak nan tuo basipakak

images

Itu sepenggal bait lagu berjudul “Kutang Barendo” yang dulu sempat populer di tahun 90-an di Padang. Saya tidak tahu siapa yang menulisnya, dan siapa yang mempopulerkan lagu ini. Namun pada zaman saya kelas III atau IV sekolah dasar, saya menyadari lagu ini begitu ‘mendunia’. Saat itu saya masih sangat lugu, menyangka dunia hanya seluas Kota Padang.

Lagu ini dinyanyikan di berbagai kesempatan. Saya ingat dulu ketika perayaan 17 Agustus di depan rumah, lagu ini dinyanyikan entah oleh siapa. Saya ingat sekali ketua RT di rumah saya dulu ikut menyanyikan lagu itu. Yah, intinya lagu ini sangat populer, melebihi lagu Peterpan atau Kangen Band.

Nah, bicara soal “Kutang Barendo”, kini saya menyadari betapa lagu ini memiliki kontroversi. Di satu sisi dia membicarakan soal sebuah pakaian dalam milik perempuan yang bentuknya dulu sangat tidak biasa. Di sisi lain, lagu ini menceritakan tentang kenyataan yang terjadi pada masanya, dan pesan-pesan tersirat.

Pada zaman 90an belum ada bra perempuan yang dipakaikan renda, tidak seperti sekarang yang semuanya berenda. Sebetulnya ada, tapi tidak banyak. Itu pun hanya dipakai kalangan tertentu. Karena tidak populer dan terkesan ‘bitchy’, bra yang berenda dianggap tidak sopan. Namun seiring pergantian generasi, bra berenda ini justru lebih populer dibandingkan bra biasa. Bra yang dulu pertama kali diciptakan dianggap lagi tidak populer.

Oke, selesai membicarakan bra. Inti lagu yang dibawakan oleh Ally Noor Mastura (contek di Youtube) ini adalah mengenai fenomena anak muda zaman sekarang. Apa itu? Kita lihat di dua bait lagu di bawah

antah manga gadih jo bujang
lah bilo raun tiok hari
talingo lah samo basubang
nan bapakai imitasi

saroman sajo kasadonyo
baiak jantan baiak batino
jalan sairiang baduo-duo
caliak dahulu mangko disapo

yang artinya kira-kira

entah mengapa gadis dan bujang
pergi bermain tiap hari
telinga sama-sama sudah memakai anting
yang dipakai imitasi

sama saja semuanya
baik jantan maupun betina (maksudnya anak gadis dan bujang)
jalan beriringan berdua-dua
dilihat dulu, baru disapa

frustration

Nah, bait pertama menunjukkan pergeseran kebiasaan yang terjadi di kalangan generasi muda Minangkabau. Dulu anak-anak bujang Minang berkewajiban ke surau dan mengaji serta membantu pekerjaan ayah mereka, baik ke sawah, berdagang, atau apapun itu. Sedangkan anak gadis bertugas di rumah. Mereka wajib membantu ibu di dapur, membersihkan rumah, mengantar makanan ke sawah. Semua pekerjaan anak gadis semestinya lah.

Tidak dipungkiri perkembangan zaman dan teknologi membuat mereka tidak bisa lagi melakukan hal kolot seperti gadis dan bujang zaman dulu kala. Mereka toh harus move on untuk bisa mencari kehidupan yang lebih baik.

Namun sayangnya perkembangan zaman dan teknologi membuat anak-anak ini melupakan adat dan budaya mereka. Subang atau anting, merupakan aksesori milik perempuan. Tidak ada zamannya saat seorang anak laki-laki bersubang. Nah, lagu ini mengkritik anak-anak muda yang kini tidak lagi berjalan sesuai koridor yang tepat untuk mereka. Anak-anak bujang memakai anting dan bersikap seperti perempuan sehingga saat seseorang ingin menyapa, orang tersebut bingung. Dua orang memakai atribut pakaian yang nyaris mirip, namun berbeda kelamin.

Hal di atas, makin banyak dalam realita. Dulu zaman lagu ini didendangkan, mungkin masih bisa dihitung dengan jari bujang-bujang nakal yang bersubang. Namun kini hal itu sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sudah terlalu banyak anak-anak lelaki yang bersikap seperti perempuan, bahkan lebih parah dari makna sebenarnya lagu di atas.

Hal ini sesuai dengan bait pertama lagu. bunyinya kira-kira

lailalah kutang barendo
nan tampuruang sayak babulu
lah tamanuang nan tuo2
takana mudo nan dahulu

yang berarti

lailalah kurang berenda
yang tempurung sayap berbulu
orang-orang tua termangu
teringat masa muda dulu

Di sini mungkin si penulis ingin mengatakan orang tua yang dulu pernah muda terkenang akan masa muda mereka. Masa muda mereka yang luar biasa berbeda dengan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak sekarang hidup di atas kebebasan dan memegang prasasti hak asasi manusia. Padahal apa yang diajarkan orangtua mereka, yang terkenal kolot dan ketinggalan jaman, adalah sesuatu yang berguna bagi mereka nanti di masa depan.

Yah, mungkin banyak anak yang berpikir kebebasan itu penting. Namun di balik kebebasan itu ada sesuatu yang akan menghantui mereka, jika mereka tidak dibekali pelajaran adat, budaya, akhlak, dan agama. Banyak orang berpikir adat adalah sesuatu yang kolot dan hanya muncul karena ketiadaan agama. Namun justru adat itu muncul karena manusia di satu wilayah tersebut ingin menciptakan sebuah kebiasaan yang baik dan menjadi pedoman bagi orang-orangnya untuk membatasi diri dan hati agar tidak terjerumus ke dalam kejahatan atau sesuatu yang buruk.

Agama telah menyempurnakan adat yang dibuat oleh nenek moyang dahulu. Tuhan memberikan berkah dengan meminta kita memedomani agama yang Dia turunkan. Semuanya kini tinggal niat dari setiap individu, apa yang akan mereka pilih.

Pengekangan yang dilakukan oleh orangtua (karena mereka merasa lebih tua dan berpengalaman, telah makan asam garam kehidupan), bukan berarti penyiksaan terhadap hak seseorang. Egoisme yang muncul di setiap jiwa yang sedang tumbuh harus diaga agar tetap berjalan tepat pada jalurnya. Jangan jadi sesal di kemudian hari karena sesal kemudian tidak ada gunanya.

Advertisements

2 thoughts on “Kutang Barendo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s