Pemimpin Para Setan

Sore itu tampak cerah. Hari ini hujan tidak mengguyur kota seperti biasanya. Langit tampak biru cerah dan tidak banyak awan yang berkeliaran di langit. Seperti sore sebelumnya, Bani duduk termenung di atas pohon mangga sambil memandangi langit yang biru. Pohon mangga adalah tempat favoritnya di sore hari sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Hari ini tidak ada teman yang mengajaknya bermain. Dadan sedang membantu ayahnya di pasar; Hasan sedang ke luar kota bersama abangnya; dan Nina pun tidak bisa bermain dengannya sore itu. Jadilah Bani duduk sendirian di atas pohon mangga sambil bermain-main dengan imajinasinya.

Awalnya, Bani memikirkan sebuah lift. Ia hendak membuat sebuah kubus berjalan yang memudahkannya naik ke atas pohon. Bani tidak perlu memanjat pohon saat ia hendak bermenung di atas. Kemudian ia membayangkan, sebaiknya ia membuat robot saja agar dapat membantu ibunya memetik singkong di ladang, atau membantu ibunya menanam benih padi di sawah. Robot itu juga akan membantunya naik ke atas pohon tanpa ia bersusah-payah memanjat dan memakai lift.

Lalu ia berpikir bagaimana caranya agar kereta anginnya bisa ia buatkan mesin seperti motor agar bisa bergerak lebih cepat. Ini membuatnya tidak terlambat ke sekolah, namun tidak boros tempat seperti motor bapaknya.

Ah, Bani membayangkan apa yang akan dilakukannya ketika besar nanti. Ia ingin membuatkan ibunya alat khusus seperti traktor, agar ibunya tidak selalu memaksa bapaknya atau ia sendiri yang menarik kerbau untuk membajak sawah. Jadi, ibunya bisa membajak sawah tanpa bantuan para lelaki. Agar ayahnya bisa lebih lama di sekolah, mengajar dan mendapatkan lebih banyak uang; agar ia sendiri bisa lebih lama bermain dan berteori untuk menciptakan suatu penemuan yang hebat di masa depan.

Tetapi, Bani teringat akan perkataan ayahnya. “Hati-hatilah memilih cita-citamu. Jangan sampai kau terbujuk rayuan setan dan menjadi orang yang buruk di masa depan. Jadilah orang yang baik dan berguna bagi orang lain. Kalau perlu, jadilah kau orang yang menjadikan orang lain lebih baik.“

Ayahnya sering berkomentar tentang berita di televisi, bahwa banyak sekali koruptor yang telah terbujuk rayuan setan sehingga mereka tidak memikirkan rakyat miskin seperti para pengemis dan pemulung. Mereka mengumpulkan kekayaan untuk diri mereka sendiri tanpa memperhatikan bahwa banyak dari tetangga mereka bahkan tidak bisa makan dua kali sehari. Ibu Bani berkata bahwa orang-orang itu sudah dirasuki setan yang sangat jahat.

Ayahnya juga berkata bahwa pembunuh-pembunuh yang sering ditayangkan beritanya ternyata juga dirasuki iblis, hingga mereka tega memotong-motong orang yang dibunuhnya itu. Ayahnya berpendapat, iman mereka sudah runtuh dan digantikan dengan iman kepada setan dan iblis.

“Orang jahat,“ kata ayahnya suatu hari. “selalu dipengaruhi oleh setan. Iman mereka sudah bertambah satu: percaya kepada setan. Otak mereka sudah dicuci oleh makhluk yang satu ini. Makanya mereka jahat, //indak babanak//, dan munafik.“

Bani merekam betul kata-kata ayahnya. Intinya, Bani tidak mau menjadi orang jahat, karena orang jahat telah masuk ke dalam sekte yang dikepalai oleh iblis. Ia menghindari bercita-cita jadi koruptor, pembunuh, dan pencuri. Ah iya, ada satu lagi cita-cita yang tidak boleh dicapainya. Ayahnya tidak mau anaknya nanti menjadi tengkulak. Ayah dan ibunya dulu menjual padi mereka kepada tengkulak, namun hal itu membuat mereka masih terus berputar di lingkaran kemiskinan. Akhirnya ayah Bani tidak lagi percaya dengan tengkulak dan menjual padinya sendiri. Meskipun sulit, kini hidup mereka sudah lebih baik.

Bani tidak mau menjadi tengkulak. Kata ayahnya, tengkulak itu adalah serigala berbulu domba. Mereka merayu para petani untuk menjual beras padanya, padahal harga beras jauh lebih mahal dibandingkan harga yang ditawarkan tengkulak kepada petani. Bani tidak mau menjadi orang jahat seperti tengkulak.

Bani sering berpikir, bagaimana caranya setan bisa masuk ke dalam tubuh para orang jahat dan mempengaruhi mereka untuk berbuat jahat kepada sesama. Bani sangat heran karena pastilah dulu para koruptor, pembunuh, pencuri, dan tengkulak belajar di sekolah dan menerima pelajaran yang seperti Bani terima di sekolah. Guru agamanya selalu mengajarkan mereka mengaji, mengajarkan mereka bahwa manusia hidup di dunia haruslah berbuat kebaikan dan jangan lengah dengan godaan setan. Nah, apa yang membuat para orang jahat ini bisa lengah dengan godaan setan? Apakah mereka yang tidak sadar bahwa mereka sedang digoda setan, atau mereka justru berteman dengan setan sehingga membiarkan diri mereka disuruh-suruh setan untuk berbuat kejahatan?

Ayahnya berkata, sudah tidak mungkin lagi untuk membersihkan semua orang jahat dari setan-setan yang merasuki tubuh mereka. Satu dua orang mungkin bisa, tetapi kalau semua orang jahat diluruskan hatinya, hal itu akan sangat sulit karena mereka seperti jamur: mati satu tumbuh seribu. Tidak akan ada habisnya.

Namun guru Bani di sekolah selalu berkata bahwa walaupun seseorang jahat, ia pasti mempunyai kebaikan di dalam hatinya. Dan hal ini membuat Bani yakin bisa mematahkan teori ayahnya yang berkata bahwa orang jahat tidak bisa menjadi baik. Ia ingin mencoba menjadi seseorang yang bisa mengubah sifat jahat menjadi kebaikan. Ia akan menciptakan alat yang bisa mencegah setan-setan masuk dan membisiki orang-orang agar berbuat jahat. Ia mungkin akan menciptakan seperti perisai di perang-perang. Hanya saja, perisai ini tidak untuk perang, melainkan mencegah setan masuk ke dalam tubuh manusia.

Ah, terlalu sulit. Hal ini tidak efektif. Seperti jamur, kejahatan harus dibasmi sampai ke akar-akarnya supaya tidak ada lagi jamur baru yang tumbuh. Dan seperti permainan catur, sebuah kerajaan akan kalah apabila rajanya telah skak mat. Nah, kedua teori ini mungkin bisa dipakai dalam pembasmian setan-setan yang mengganggu manusia. Bani akan membasmi kerajaan setan sampai ke akar-akarnya, yaitu dengan cara menjatuhkan mahkota rajanya.

Guru mengajinya pernah bercerita, iblis adalah raja para setan. Ia sangat berkuasa dan sangat ditakuti. Nah, mungkin dengan mengalahkan iblis dan merebut mahkotanya, Bani akan berhasil membasmi setan-setan. Ia berhasil menguasai kerajaan iblis dan ia bisa memerintah para setan untuk pergi dari tubuh manusia. Ah, atau mungkin ia bisa membenarkan akhlak para setan dan mengubah meraka menjadi setan yang baik, alih-alih setan yang membisikkan kejahatan pada para manusia. Ya, itu mungkin ide yang lebih mulia.

Bani tertawa sehingga batang pohon mangga yang didudukinya ikut bergoyang. Sekarang, ia tahu akan menjadi apa nanti. Ia akan menjadi pemimpin para setan dan akan memerintahkan mereka untuk menjadi setan yang baik dan penolong, bukan setan yang jahat dan suka mempengaruhi orang-orang. Itu adalah cita-cita yang paling mulia dibandingkan menjadi seorang dokter atau insinyur atau pemain bola (seperti cita-cita teman-temannya yang lain).

Tapi… bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan iblis, sedangkan ia seumur hidup belum pernah bertemu setan dan tidak merasa dipengaruhi setan sekalipun. Bagaimana ia bisa menjadi pemimpin setan kalau dia tidak tahu bagaimana bertemu mereka. Dan bagaimana ia bisa mengalahkan iblis jika ia tidak tahu wujud aslinya?

Lalu Bani ingat ayahnya pernah berkata, bahwa para pencuri adalah budak setan. Siapapun yang melakukan kejahatan telah diperbudaki setan. Mereka melakukan apa yang dibisikkan setan ke telinga mereka. Dan Bani berkesimpulan bahwa agar dapat berkomunikasi dan bisa merebut kekuasaan di kerajaan setan, ia harus tunduk terlebih dahulu kepada setan. Lalu setelah itu ia bisa mulai menjadi pengkhianat yang akhirnya menguasai kerajaan. Ah, itu adalah ide yang sangat cemerlang.

Bani makin yakin dengan pilihannya. Ia merasa ditakdirkan menjadi seorang pemimpin para setan. Ia merasa ditakdirkan menjadi orang yang akan mengajarkan kebaikan kepada para setan, mengajarkan rasa saling mengasihi dan menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan. Maka kedamaian akan hadir di dunia. Tidak ada lagi manusia yang terbujuk rayuan setan, tidak ada lagi manusia jahat. Tidak ada lagi iblis yang memerintahkan setan untuk merayu manusia. Tidak ada lagi setan yang jahat. Tidak ada lagi saling membenci antara manusia dan setan. Semuanya damai sejahtera. Mereka hidup berdampingan dan saling membantu. Ah, indahnya dunia yang damai seperti itu.

Bani tersenyum membayangkan proyek besarnya. Mulai hari ini ia akan berusaha mencapai cita-citanya ini. Ia yakin hal ini pasti akan membuat kedua orangtuanya bangga.

Sayup-sayup terdengar azan magrib berkumandang dari surau tempat Bani mengaji setelah magrib tiba.

“//Bani… masuak rumah! Alah magrib. Waang indak pai mangaji//?“ dari dalam ibunya berteriak menyuruhnya turun dari singgasana imajinasinya.

“Iyo, Mak.“ Bani bergegas turun dengan senyum yang masih tersungging di mulutnya. Lompatan yang dilakukannya dari pohon ke tanah menandakan bahwa tugas mulianya telah dimulai.
Bani mengambil sarung dan Al-Qur’an miliknya yang sudah lusuh dan pergi ke surau. Selepas shalat magrib, Bani berdoa dengan khusyuknya,

“Ya, Tuhan, lancarkanlah jalan hamba untuk menjadi pemimpin para setan supaya dunia yang Engkau berikan kepada kami menjadi damai dan tentram. Amin.“ (08. 02. 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s