Aduh, Sakit!

Beberapa waktu lalu saya mengalami kecelakaan kecil di dalam bus transjakarta. Saat pintu otomatis terbuka di sebuah halte, saya lupa memindahkan tangan saya dari posisi nyaman saat itu sehingga jari tengah tangan kanan saya terjepit. Rasa sakit luar biasa membuat saya ingin menjerit saat itu. Tapi tentu saja itu tidak saya lakukan. Karena ada dua hal:

Pertama karena saya sendirian dan tidak ada teman yang bisa saya pegangi untuk mentransfer rasa sakit. Kedua karena saya melakukan kesalahan sendiri dengan menaruh tangan di lokasi pintu akan berdiri saat membuka menerima penumpang.

Jadi, saya hanya bisa meringis menahan air mata yang menjadi ekspresi kesakitan. Tangan saya membengkak dan berdarah. Sebagian jari tengah tersebut terasa kebas akibat rasa sakit itu.

Beberapa hari kemudian, saya mengalami kejadian yang masih berhubungan dengan kecelakaan dan pintu. Saat berada di kamar mandi, saya tidak sengaja ‘menendang’ pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat–karena pintu itu rusak dan tidak bisa tertutup rapat. Jadilah ujung bawah pintu menggores kaki kiri saya, membuatnya rusak dan berdarah (lagi).

skin anatomy

Dua kejadian ini mengingatkan saya pada sebuah artikel tentang kulit dan luka yang saya baca. Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu kulit ari (epidermis), kulit jangat (dermis), dan jaringan penyambung bawah kulit atau sub cutis (hipodermis).

Secara garis besar kulit ari merupakan lapisan terluar tubuh kita. Ketebalannya berbeda di setiap bagian tubuh, misalnya di telapak kaki berukuran satu milimeter, dan di kelopak mata hanya 0,1 milimeter. Epidermis melekat erat dengan dermis karena memperoleh zat makanan dari plasma yang merembes melalui dinding kapiler dermis ke epidermis.

Pada dermis atau kulit jangat terdapat ujung saraf perasa, tempat kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar minyak, pembuluh darah, getah bening, dan otot penegak rambut. Keberadaan ujung saraf perasa memungkinkan kulit dapat membedakan berbagai rangsangan dari luar, seperti rasa sakit, sentuhan, tekanan, rasa panas dan dingin. Saraf juga memungkinkan kita bereaksi dengan hal yang membuat kita takut, yaitu otot penegak rambut akan mengerut dan membuat bulu roma atau rambut yang ada di kulit kita berdiri.

Lapisan terakhir adalah hipodermis yang mengandung jaringan lemak, pembuluh darah, dan limfe. Jaringan ikat bawah kulit ini berfungsi sebagai bantalan atau penyangga untuk organ tubuh bagian dalam. Ketebalannya bergantung kontur tubuh.

Dalam sebuah penelitian modern diketahui bahwa seseorang tidak akan merasakan sakit jika terjadi keruskan pada lapisan terakhir, hipodermis. Luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan sensasi rasa yang ada di kulit. Ketika saraf rusak, maka rasa sakit akibat luka yang kita alami tidak kita rasakan alias kebas.

Nah, hebatnya, al Quran sudah menuliskan ini berabad-abad sebelumnya. Pada abad ke-7 Allah mulai menurunkan al Quran Kepada seseorang bernama Muhammad bin Abdullah. Salah satu ayat yang Dia turunkan adalah Surat An Nisa ayat 56, yang kira-kira artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)

Nah, secara harfiah ayat ini menulis tentang seorang kafir yang akan dihukum di neraka. Sejak saya kecil, semua guru agama saya selalu mengatakan orang kafir akan dibakar di api neraka. Kemudian tubuh kita hangus terbakar, diganti lagi dengan tubuh yang baru, dibakar lagi, dan begitu seterusnya selama jutaan tahun. Hal ini dilakukan untuk memastikan si manusia mendapat ganjaran atas apa yang telah ia lakukan di dunia, karena tidak mendengarkan larangan-larangan Allah yang sudah disampaikan oleh nabi dan rasul-Nya.

Ternyata ayat al Quran yang satu ini juga telah membuktikan sebuah penelitian yang baru saja diketahui manusia, yaitu tentang rasa sakit. Saat luka sudah sangat dalam dan merusak saraf, manusia tidak akan merasakan sakit. Nah, karena tubuh si manusia di neraka sudah dibakar habis, maka lapisan kulit terdalam pun sudah habis sehingga tidak merasakan sakit. Karena itulah Allah mengganti kulitnya dengan yang baru, supaya manusia yang kafir itu kembali merasakan sakit.

Hm… sedikit banyak ayat itu juga menyebutkan tentang penyembuhan kembali si kulit yang sakit. Karena setiap saat kulit kita selalu tumbuh dan mengalami perombakan sendiri. Sel kulit yang lama diganti dengan sel kulit yang baru. Dan sel kulit yang rusak akan mengalami pergantian dengan sel kulit yang baru.

Nah, bicara soal luka juga membuat saya teringat pada sebuah hadits Bukhari. Isinya kira-kira begini,

“Dari Abdullah bin Mas’ud R.A. Katanya: Saya masuk ke tempat Rasulullah saw ketika beliau sedang menderita sakit. Beliau saya raba dengan tangan saya, lalu saya berkata: ‘Ya Rasulullah, penyakit Anda sangat berat.’ Rasulullah saw menjawab: ‘Benar, penyakit saya sama dengan penyakit dua orang di antara kamu.’ Saya berkata: ‘Demikian itu karena Anda mendapat pahala dua kali lipat.’ Rasul menjawab: ‘Benar!’ Setelah itu beliau berkata: ‘Setiap orang Oslam yang mendapat bencana penyakit dan lain-lain, maka Tuhan menggugurkan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daunnya.'” (HR Bukhari)

Hadits di atas sedikit banyak bercerita soal penyakit yang diderita seseorang akan mengurangi ‘jatah’ dosa yang ia miliki. Tapi bukan berarti dengan hadits ini seseorang bisa seenaknya menyiksa diri agar Tuhan mengurangi dosanya, ya….

Teringat hadits ini saya teringat sebuah adegan dalam buku karya Dan Brown, Da Vinci Code. Pada buku tersebut, seorang anggota sekte Opus Dei, Silas, sesekali melakukan sebuah ritual menyiksa diri sendiri hingga tubuhnya berdarah-darah. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk penebus dosa yang telah ia lakukan. Nah, kaitannya mirip sekali dengan hadits di atas, namun salah diartikan.

Menurut saya seseorang tidak perlu menyiksa diri untuk mengurangi dosa, kan? Seseorang cukup melakukan taubat dan tidak mengurangi dosa–atau setidaknya jika dosa tidak bisa dikurangi begitu saja, bisa menambah pahala. Gampang kan? Ketika mendapatkan sakit atau luka, itu bisa jadi jackpot bagi seseorang untuk mengurangi dosanya. Tapi bukan disengaja, lho….

Mungkin banyak orang tidak memandang ini sebagai keajaiban. Tapi menurut saya, al Quran yang isinya hanya kata-kata sudah membuktikan banyak hal. Meskipun diturunkan pada abad ke-7 Masehi kepada seseorang yang mengaku tidak bisa membaca, al Quran telah membuktikan diri sebagai sebuah buku yang memiliki berbagai pengetahuan, baik pengetahuan tentang dunia, maupun tentang akhirat.

Tapiii… ini jangan dijadikan patokan, ya…. Ilmu saya masih sangat kecil, seperti buih di lautan, bahkan lebih. Masih banyak orang yang masih memiliki ilmu yang lebih besar tentang masalah ini. Jadi tulisan saya masih untuk referensi ecek-ecek saja. Setidaknya saya senang bisa memberikan informasi berguna bagi yang lainnya.

Ini baru satu bukti al Quran yang bisa saya tuliskan, masih banyak bukti lain, lho… let see… 🙂

sumber: Eramuslim, Republika, medicalcenter.osu.edu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s