Menikah Virtual?

Perkembangan teknologi memungkinkan manusia berbuat apapun yang mereka mau. Dulu, sebelum ada yang namanya komputer dan segala tetek bengeknya, manusia seolah terkurung dalam sebuah sangkar. Mereka bisa melihat sangkar orang lain, tapi tidak betul-betul tahu apa isinya.

Dulu untuk bisa mendapatkan informasi, seseorang harus mencari referensi di buku. Buku itu bisa jadi sulit dicari, atau minim informasi. Buku itu bisa jadi berbahasa lain, atau terlalu tebal dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan sejumput informasi yang kita butuhkan.

Untuk mengetahui kabar anak di rantau, seorang ayah harus mengirim telegram. Atau yang terbaik adalah surat. Namun untuk bisa mendapatkan balasan, ayah harus menanti beberapa pekan, atau bahkan bulan. Padahal bisa saja selama surat ini dalam perjalanan, ada informasi baru yang terjadi.

Virtual Wedding, can we?

Nah, sekarang dengan teknologi yang ada, apapun bisa dilakukan, termasuk menikah secara virtual. Tapi masalahnya, bolehkah?

Menurut artikel dari Harian Republika, Jumat, 10 Februari 2012, ulama berpendapat sah-sah saja.

Para ulama modern menyatakan boleh-boleh saja melangsungkan pernikahan menggunakan media komunikasi internet yang menghadirkan kedua belah pihak di tempat terpisah. Hal ini dapat dilakukan selama syarat dan rukun nikah terpenuhi. Ada beberapa yang setuju sistem ini, yaitu diantaranya Syekh Musthafa az-Zurqa, Syekh Wahbah az-Zuhail dan Badran Abu Al Ainain.

Menurut mereka yang dimaksud dengan //ittihad al majlis// atau kesamaan tempat bagi mereka yang berada di lokasi terpisah adalah tidak adanya jeda waktu antara keduanya. Media seperti //skype// bisa digunakan dengan syarat kedua belah pihak berada di tempat yang jauh satu sama lain, adanya wali atau yang mewakili, pengucapan ijab-kabul secara bersambut tanpa terpitis, dan saksi dapat mendengarkan dengan baik prosesi ijab-kabul.

Akan tetapi Komite Fikih Islam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) berpendapat transaksi ijab-kabul yang seperti di atas tidak diperbolehkan kecuali melalui alat komunikasi yang berkualitas, baik gambar maupun suaranya.

Lalu saksinya seperti apa?
Ulama berpendapat berbeda, merujuk pada analogi kesaksian tunanetra. At-Thahawi dalam kitab //Mukhtashar Fi Ikhtilaf al Fuqaha menyatakan ada dua pandangan. Pertama, seorang buta tidak boleh menjadi saksi. Pendapat ini berlaku pada mazhab Syafi’i dan Hanafi.

Dalil rujukan kelompok ini adalah hadits riwayat Ibnu Abbas. Rasulullah menjawab pertanyaan sahabat tentang kesaksian orang buta. “Aoakah ia melihat matahari?” Sahabat mengiyakan. Rasulullah menambahkan, “Maka carilah sepertiku dan bersaksilah (bila tidak ditemukan), maka tinggalkanlah.”

Pendapat lain dari mazhab Hanbali dan Maliki menyatakan kesaksian orang buta berdasarkan suara yang ia dengar hukumnya diterima, sepanjang dia yakin pada sumber suara.

Nah, menurut saya yang namanya pernikahan sangat tidak afdol kalau dua mempelai dan saksi serta wali dan penghulu tidak bertemu. Akan lebih baik kalau keluarga dan semua orang yang terlibat dalam pernikahan berkumpul di satu tempat. Kecuali di dalam keadaan perang, di tempat yang sangat tidak memungkinkan. Namun jika kondisinya sudah mungkin, baru dilaksanakan ijab-kabul ulang.

Tapi, ini kan bergantung keyakinan seseorang saja. Siapa saja boleh memilih cara pernikahan yang mereka mau, selama cara itu tidak dilarang oleh syarat dan hukum agama masing-masing! πŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Menikah Virtual?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s