Like Father Like Son

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu kira-kira peribahasa yang cocok untuk menggambarkan karir beberapa pemain bola dunia. Perkenalan mereka dengan sepak bola berbeda dengan pemain-pemain lain. Ayah, menjadi orang pertama yang paling berpengaruh dalam pencapaian mereka menjadi bintang sepak bola. Pasalnya, sang ayah juga merupakan pemain bola profesional.

Siapa yang tidak kenal bintang Inggris Frank Lampard? Tiga kali peraih pemain terbaik Piala FA ini mengenal sepak bola dari ayahnya, yang ternyata juga seorang pemain bola. Memiliki nama yang sama, kejayaan ayah dan anak ini tidak ada bedanya. Lampard Sr bermain pertama kali untuk klub West Ham United pada 1967. Dari seluruh pertandingan yang ia ikuti (551 pertandingan), Lampard Sr berhasil mencetak 18 gol.

Frank Lampard Senior and Junior

Lampard Sr bertahan di West Ham hingga musim 1985 dan pindah ke Southend United sebagai salah satu bintang yang terkenal pada masanya. Lampard hanya bermain satu musim sebelum memutuskan untuk pensiun dan menjadi asisten pelatih di klub pertama yang membesarkan namanya, West Ham. Ia juga menjadi pemain timnas Inggris sepanjang karirnya 1971 hingga 1980, meskipun tidak menciptakan satu gol untuk Inggris.

Karir Lampard Junior sepertinya lebih bersinar dibandingkan sang ayah. Lampard Jr memulai karirnya di klub yang sama dengan sang ayah, West Ham United. Di klub tersebut Lampard memanfaatkan momentum yang ia punya untuk melesat menjadi bintang Inggris. Ia bergabung dengan Chelsea pada 2001 dan mulai mencetak berbagai macam prestasi, termasuk unggulan kedua Balloon d’Or 2005.

Lampard Jr memandang ayahnya sebagai seorang motivator yang hebat. The Independent menyebutkan sang ayah merupakan kunci Lampard Jr dalam memperbaiki permainannya. “Dia memiliki visi tentang bagaimana sepak bola itu harus berjalan. Ia adalah orang yang selalu menyemangati dan memberi saya kekuatan,” tulis Lampard dalam autobiografinya.

Rasa bangganya kepada sang ayah ia ungkapkan dengan cara menari di bendera sudut lapangan saat berhasil menciptakan sebuah gol kemenangan pada final Piala FA saat Chelsea bertemu Everton, Mei 2009. Tarian ini persis seperti yang ayahnya lakukan saat West Ham bertemu Everton di semi final, 1980. “Saya persembahkan tarian sudut itu untuk ayah saya. Dia melakukannya bertahun-tahun yang lalu dan saya melihatnya ribuan kali di video,” ujar Lampard bangga.

Selain Lampard masih ada keluarga Redknapp. Redknapp senior dan junior sama-sama menggeluti bidang olahraga populer ini. Harry Redknapp, yang juga merupakan paman Frank Lampard, memulai debutnya di West Ham United. Karir paman pesepak bola profesional Frank Lampard Jr ini tidak begitu gemilang saat ia menjadi pemain. Namanya justru melambung saat ia beralih profesi menjadi pelatih.

Karir pelatihnya dimulai sebagai asisten manajer klub Seattle Sounders dan Oxford City. Kemudian ia pindah ke salah satu klub yang pernah dibelanya, Bournemouth. Harry memutuskan keluar dari klub tersebut usai kecelakaan saat menonton Piala Dunia di Italia, yang menewaskan tiga rekannya. Harry akhirnya pindah melatih klub pertamanya, West Ham United, Portsmouth, Southampton, dan akhirnya Tottenham Hotspur. Ia bahkan digadang-gadangkan akan menjadi pelatih timnas Inggris setelah Fabio Capello, pelatih Inggris sebelumnya, mengundurkan diri.

Karir Jamie Redknapp bersinar saat ia bergabung bersama Liverpool pada 1991. Dari 327 performanya, ia menciptakan 30 gol. Jamie menjadi pemain termuda yang mengikuti kompetisi Eropa, yaitu saat ia berusia 18 tahun.

Sayangnya, Jamie pensiun di usia yang masih cukup muda (32 tahun) atas saran dokter spesialinya karena cedera. Selepas karir di sepak bola, Jamie mencoba melakukan hal yang sama dengan sang ayah, menjadi pelatih. Akan tetapi ia kini lebih dikenal sebagai komentator sepak bola bersama Sky Sports dan kolumnis editorial di Daily Mail.

Cha Bum-Kun dianggap sebagai salah satu pemain terbaik yang ada di Korea Selatan. Atas talentanya yang luar biasa, ia diekspor ke Bundeliga Jerman. Pemain gaek yang mendapatkan julukan ‘Pemain Asia Abad Ini’ bermain pertama kali di Frankfurt sebelum pindah ke Bayer Leverkusen. Ia bermain lebih dari 100 pertandingan untuk Korea sepanjang karirnya, termasuk Piala Dunia 1986.

Di Leverkusen ia bermain 185 kali dan mencetak 52 gol. Ia berperan penting di Leverkusen saat memenangi Piala UEFA 1988.Di Jerman ia dijuluki //Tscha Bum// karena namanya dan kemampuannya bermain bola yang luar biasa.

Putranya, Cha Doo-Ri tampaknya melanjutkan garis keturunan ayahnya di dunia sepak bola. Lahir di Jerman saat ayahnya membela Frankfurt, Doo-Ri menghabiskan waktu-waktu gemilang di Jerman. Pertama kali ia memulai karirnya di klub sang ayah, Bayer Leverkusen. Doo-Ri memiliki harapan besar dari dirinya sendiri dan keinginan dapat mengikuti jejak ayahnya yang berbakat.

Namun mungkin karir ayahnya yang gemilang tidak mampu ditandingi. Sepanjang karirnya, Doo-Ri hanya mencetak 19 gol. Ia sama sekali tidak menciptakan gol di Bayer Leverkusen.

Di atas hanya tiga keluarga yang tercatat menjadikan sepak bola sebagai dinasti keluarga. Masih banyak lagi pemain-pemain yang mengikuti jejak sang ayah di dunia sepak bola, seperti Johan dan Jordi Cruyff, Brian dan Nigel Clough, dan tentu saja Kenny dan Paul Dalgish. Tidak lupa legenda AC Milan, Cesare dan Paolo Maldini, yang kini tengah menanti generasi ketiga Maldini, Christian. Ada pula putra legenda dunia Zinadine Zidane yang berharap dapat menyamai prestasi sang ayah, Enzo Zidane. n fris

Sumber: Goal.com, The Guardian, Sky Sports

Dinasti Maldini di Milan

Siapa yang tidak kenal dengan nama Paolo Cesare Maldini. Ia adalah legenda klub besar Liga seri A, AC Milan. Dua puluh lima tahun karirnya di sepak bola ia habiskan di klub tersebut. Bisa dikatakan Maldini adalah bek terhebat yang pernah dimiliki Milan.

Bersama Milan, Maldini telah meraih lima kali kemenangan di Liga champion, tujuh kali meraih Scudetto, satu kali Coppa Italia, lima kali Supercoppa Italiana, lima kali Piala UEFA.

Catatan karir Paolo Maldini ternyata tidak dimulai dari dirinya. Satu generasi di atasnya telah mencoreng sejarah Milan lebih dulu. Sang ayah, Cesare Maldini mulai membangun dinasti Maldini di Milan saat ia bermain di klub tersebut pada 1954. Cesare hanya membuahkan tiga gol di sepanjang karirnya. Setelah pensiun dari sepak bola, ia melanjutkan pekerjaan sebagai pelatih di klub muda Milan, yang melahirkan puluhan bintang yang kelak bersinar di Seri A, termasuk putra kelimanya, Paolo Maldini. Di sanalah ia melihat bibit bintang besar dalam diri anaknya, //Il Capitano// (Sang Kapten).

Paolo lebih mengenal sang ayah sebagai seorang pelatih, alih-alih pemain. Cesare lah yang melatihnya pertama kali saat Paolo memutuskan untuk melanjutkan karir ayahnya sebagai pemain sepak bola. “Saya tidak melihat dia (Cesare) sebagai pemain. Saya bermain di bawah instruksinya saat pertama kali di klub tim muda Milan. Dia mengajarkan saya untuk menjadi seorang laki-laki, tentang sikap yang benar dalam permainan,” ujar Maldini, anak kelima dari enam bersaudara, tentang sang ayah, dikutip dari //The guardian//.

Sama seperti sang ayah, Paolo bermain dengan kaki kanan. Namun sedikit yang menyadari tendangan kirinya sama hebatnya dengan kaki kanannya. Tidak banyak pemain yang mampu melakukannya. Selain Paolo, hanya franco Baresi dan Mauro Tassoti yang bisa melakukan itu. Inilah yang membawa Paolo menjadi legenda di Milan dan Italia.

Sikap tegas dan wibawa sang ayah tampaknya turun pada Paolo. Pemain berkostum nomor tiga ini dikenal sebagai pemain yang tidak tempramental. Ia tidak pernah meninggikan suaranya kepada teman setim. Tidak salah ia dipercaya bertahun-tahun menjadi kapten baik di Milan maupun di timnas Italia, hal yang sama yang juga dilakukan sang ayah.

“Dia adalah pemimpin sejati,” kata pemain timnas Italia, Gennaro Gattuso.

Milan mencatat sejarah pertama kali meraih juara Liga Champion pada 1963 bersama Cesare. Trofi Liga Champion Milan bertambah lima saat sang anak meneruskan karir ayahnya di Milan. Sekitar 24 trofi berhasil dibawa pulang Milan bersama generasi kedua Maldini ini.

Atas jasa Maldini kepada Milan, klub tersebut mempensiunkan nomor ‘3’ yang dipakai Paolo, yang ternyata juga merupakan milik Cesare. Hal ini sama seperti yang dilakukan Milan terhadap nomor ‘6’ milik legenda Milan, Franco Baresi.

“Kostum nomor tiga hanya pensiun sementara sampai putra Maldini, Christian atau Daniel bermain di Seri A bersama Milan,” ujar Wakil Presiden Milan, Adriano Galliani.

The Next

Saat ini putra pertama Paolo sudah terdaftar menjadi pemain di tim muda Milan. Paolo memastikan putra pertamanya kelak akan meneruskan catatan sejarah keluarga Maldini di San Siro.

“Dia lahir sesaat sebelum saya tampil di Piala Dunia Perancis. Mungkin itu menjadi pertanda dia akan menjadi generasi ketiga Maldini,” ungkap Paolo.

The Next Star
Sepertinya karir ayah-anak di dunia sepak bola tidak akan pernah berakhir. Roda akan terus berputar dan menciptakan calon-calon bintang baru yang akan bersinar di masa depan.

Christian Maldini, putra pertama Paolo Maldini adalah salah satunya. Kesukaannya akan sepak bola dimulai ketika sang kakek memilih karir di jalur tersebut. Kesenangan akan sepak bola ini turun ke ayahnya dan ditularkan kepadanya. Christian pun kini bermain di klub yang sama dengan dua generasi di atasnya, AC Milan.

Oleh Milan chris ditunggu untuk mengisi posisi yang pernah dipegang sang kakek dan ayahnya. Tentu saja kostum nomor tiga nan legendaris tersebut.

Di Perancis, calon pemain berbakat lahir dari keluarga Zidane. Legenda sepak bola asal Perancis tersebut menurunkan keahliannya kepada putra pertamanya Enzo zidane.

Lahir 24 Maret 1995, Enzo sudah sangat mengenal sepak bola. Pemuda 17 tahun ini mulai berkonsentrasi di dunia yang digeluti ayahnya sejak tahun 2004 melalui klub akademi muda Real Madrid. Pada September 2011 ia bahkan diajak Jose Mourinho untuk berlatih dengan tim utama klub Madrid.

Kini kostum nomor sepuuh terpasang di punggung Zidane Junior, nomor serupa yang digunakan sang ayah. Enzo juga menurunkan gaya bermain ayahnya, seperti saat menggiring bola, kemudian tiba-tiba menghentikan langkahnya dan dengan telapak kakinya ia mendorong bola ke belakang untuk mengecoh lawan.

Enzo tidak sendirian, sang adik yang berusia tiga tahun lebih muda darinya juga telah bergabung dengan klub muda Real Madrid.

Tidak mau kalah, David Beckham juga ingin menurunkan seluruh ilmu sepak bola yang ia miliki kepada tiga putranya, Brooklyn, Romeo, dan Cruz. Romeo bermain di klub sekolahnya dan menunjukkan beberapa sifat seperti sang ayah.

Duet Beckham

Sayangnya keahlian Brooklyn jutstru lebih terlihat di permainan rugby. Bahkan sebuah klub rugby Amerika Serikat sudah menawarkan kepada Beckham untuk memasukkan anaknya ke klub tersebut.

“Brooklyn memiliki talenta alami dan sangat beradaptasi dengan amerika,” ujar pelatih di sekolahnya di Los Angeles.

Namun demikian, Beckham masih berharap Brooklyn dapat meneruskan mengharumkan nama Beckham di sepak bola Inggris. Namun tentu saja dia masih punya kesempatan karena masih ada Romeo dan Cruz sebagai calon bintang ‘cadangan’.

n. c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s