Awards Aware

Penghargaan. Malam ini penghargaan Lukmanul Hakim Award (LHA) diumumkan. LHA merupakan sebuah penghargaan bagi tulisan-tulisan terbaik reporter di Harian Republika. Penghargaan ini dibuat untuk memacu semangat para reporter untuk membuat sebuah tulisan yang baik, indah, dan berpengaruh.

Saat saya melihat tulisan-tulisan yang diajukan untuk penghargaan ini, saya merasa minder. Pasalnya, tulisan saya jauh dari itu. Jangankan untuk keindahan berbahasanya. Keakuratannya saja diragukan. Karena memang selama ini kekurangan saya adalah akurasi, seperti yang dikatakan tiga redaktur yang pernah menangani saya.

Wakil Pimpinan Redaksi saya mengatakan untuk menilai sebuah tulisan diperlukan 10 syarat. Yang pertama adalah akurasi, yang kedua akurasi, dan yang ketiga akurasi. Barulah setelah itu hal-hal lain seperti detail tulisan dan lain-lain.

Nah, bagaimana saya mau mengirimkan karya saya, kalau untuk akurasi saja saya bermasalah? Beberapa waktu lalu saya mendapat teguran dari redaktur saya saat ini. Beliau mengatakan saya kurang fokus dengan pekerjaan saya. Pekerjaan saya saat ini sangatlah penting, apalagi saya berurusan dengan skor dan nilai. Itu sama halnya seperti di desk ekonomi, yang berkutat dengan angka. Salah satu angka saja, seluruh berita salah. Bagaimana nasib saya kalau begitu?

Redaktur saya mengerti, mungkin saking banyaknya angka yang harus saya masukkan, saya pun terlewat beberapa hal. Ia mengerti, untungnya. Namun kalau seperti itu terus, sepertinya saya harus berpikir ulang untuk menjadi seorang pewarta.

Sebagai wartawan olahraga, skor merupakan hal yang penting. Satu angka saja berbeda, maka penilaian orang pun akan berbeda. Ini bukan masalah isu, tapi masalah kejujuran dan amanat untuk menyampaikan berita pada pembaca.

Kembali lagi pada penghargaan. Dari sini saja saya harusnya bisa menilai diri saya sangat jauh dari penghargaan itu. Tiga syarat pertama masih belum bisa saya lalui, sehingga perjalanan saya masih jauh untuk bisa dihargai.

Iri, memang. Namun saya harus menerima itu semua. Sebuah penghargaan diberikan pada seseorang karena dia mampu. Penghargaan diberikan karena ada nilai lebih yang dilihat dari pekerjaannya.

Saya dan teman saya yang masuk nominasi sama-sama menulis untuk media kami, meskipun di desk yang berbeda. Namun dia mampu memoles tulisan yang ia buat menjadi indah tanpa mengurangi substansi yang ada di dalamnya.

Sedangkan saya? Tulisan saya hanya sebuah tulisan datar tanpa irama yang masih bolong sana-sini. Terlihat sekali saya menulis terburu-buru dan tidak melihat kesempurnaan sebuah tulisan. Yang penting selesai.

Itulah yang membuat saya harus jauh-jauh dulu dari penghargaan. Mungkin saya memang harus banyak belajar dan mencari pengalaman. Kalau hanya duduk di depan komputer tanpa merasakan apa yang terjadi sebenarnya, saya tidak akan bisa mendapatkan penghargaan itu.

Tapi setidaknya kabar dari salah seorang rekan kerja membuat saya cukup gembira. Pekerjaan saya, selain dikoreksi oleh redaktur karena ketidakakuratannya, juga diapresiasi oleh pembaca. Selama ini saya berpikir apa yang saya tulis tidak pernah dikomentari. Namun ternyata lebih dari itu. Bagi saya penghargaan seperti ini sangat penting. Itu artinya eksistensi saya dihargai. Saya pun merasa eksistensi saya bekerja.

Setidaknya penghargaan seperti itu yang perlu saya dapatkan saat ini. Hal itu memberikan saya motivasi untuk bekerja lebih baik lagi dan menilai diri saya lebih baik lagi. Dengan begitu saya akan menjadi lebih dekat dengan penghargaan di atas kertas. n fris

Advertisements

2 thoughts on “Awards Aware

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s