Kami Bisa Menggambar, kok!

Menderita //low vision// bukan berarti akhir kehidupan. Meskipun indera penglihatan tidak sepenuhnya lagi mampu menunjukkan segala keindahan yang ada, seorang penderita //low vision// toh masih mampu beraktivitas, termasuk menggambar.

Debi Yulianti (22 tahun) begitu bersemangat ketika Dewan Pengurus Cabang Persatuan Tunanetra (DPC Pertuni) Bandung mengadakan lomba menggambar, Senin (19/12). Setelah sekian lama ia vakum dari kegiatan tersebut, Debi akhirnya dapat menyalurkan hobi menggambar dan mendesain.

Debi sangat menyukai desain dan dekorasi. Hal ini, menurutnya sangat menyenangkan karena keindahan merupakan hal yang harus diciptakan semua orang. “Saya senang membuat sesuatu menjadi indah,” kata dia.

Namun sejak kemampuan penglihatannya menurun ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, hobi ini mulai ditinggalkannya. “Punya imajinasi tadi tidak ada wadah untuk menyalurkannya,” kata Debi.

Hal serupa juga dialami Farid (20). Menggambar adalah hobinya. Meskipun menderita //low vision// Farid tidak berhenti melakukan hobi tersebut. Ia sering mengikuti lomba-lomba menggambar di berbagai kesempatan. “Untuk kelas biasa pernah waktu sekolah, tapi untuk kelas tuna netra baru sekali ini,” akunya.

Farid mengatakan, ia mengikuti lomba ini untuk mengembangkan kreativitasnya. Selain itu ia juga ingin membuktikan meskipun penglihatannya tidak sebaik orang normal lainnya, ia pun mampu menghasilkan karya yang cantik.

Ketua DPC Pertuni Kota Bandung, Ade Rohmat, mengatakan kegiatan ini merupakan yang pertama pertama kali digelar. Di sini para peserta //low vision// diminta untuk berkreasi dengan tema pemandangan.

“Kami ingin melatih kemampuan mereka meskipun tidak mempu melihat dengan jelas,” tutur Ade kepada wartawan.

Ada dua kategori yang dilombakan pada acara tersebut, yaitu lomba menggambar bagi //low vision// dan lomba kreasi lilin (malam) bagi tuna netra.

Bagi penderita tuna netra, mereka diminta untuk membuat suatu benda dari bahan yang disediakan. Benda tersebut merupakan proyeksi dari apa yang mereka raba dan bayangkan. “Misalnya mereka diminta untuk membentuk sebuah meja atau rumah,” kata Ade.

Masing-masing kategori diikuti oleh 30 peserta. Sebetulnya ada lebih banyak lagi peserta yang berminat, lanjut Ade. Namun karena ini baru pertama kali, pihak panitia belum berani menerima banyak peserta. Akan tetapi Ade optimis kegiatan ini akan berulang di tahun berikutnya. “Kami juga berencana ingin mengadakan lomba lukis,” tutur Ade.

Ade berharap kegiatan ini mampu membangun rasa percaya diri para penderita //low vision// dan tuna netra. Ketika rasa percaya diri muncul, maka kreativitas mereka pun akan semakin meningkat, ujarnya. n.c02

Advertisements

2 thoughts on “Kami Bisa Menggambar, kok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s