Esther G. Saleh, Srikandi Pemegang 6.000 Jam Terbang

Di beberapa belahan dunia, menjadi seorang perempuan adalah sebuah mimpi buruk. Di Cina yang memberlakukan kebijakan satu anak misalnya, memiliki anak perempuan bagaikan aib yang harus dihapuskan. Hal serupa juga terjadi di India yang dibelenggu sistem kasta.

Namun, tidak selamanya terlahir sebagai seorang perempuan menjadi akhir dari dunia. Perempuan merupakan penyeimbang kehidupan di dunia, yang melahirkan orang-orang hebat. Tidak sedikit pula di dunia ini terdapat perempuan-perempuan hebat yang mampu melebihi kemampuan gender pasangannya, laki-laki.

Salah satu perempuan hebat itu adalah Esther Gayatri Saleh (49 tahun). Ia merupakan seorang pilot penguji senior di PT Dirgantara Indonesia (DI). Esther bertugas sebagai pilot yang mengetes pesawat-pesawat baru. ‘’//Test pilot// juga bertugas membuat manual untuk pilot-pilot pesawat komersil,’’ tutur Esther kepada //Republika//, di Bandung, Kamis (22/12).

Hal ini berarti pesawat-pesawat yang diterbangkan Esther belum pernah mengepakkan sayapnya di udara. Bagi Esther hal ini merupakan sesuatu yang menantang. Ia bertanggungjawab untuk menentukan apakah pesawat tersebut laik terbang atau tidak sebelum diserahkan kepada perusahaan pembeli pesawat.

Menerbangkan pesawat yang belum pernah diterbangkan, kata Esther berbeda dengan tugas pilot komersial. Pilot komersial menerbangkan pesawat-pesawat yang sudah teruji sebelumnya. Hal ini lebih mudah, karena pesawat tersebut sudah disertifikasi dan aman untuk diterbangkan. Sedangkan dia harus menguji sejak pesawat itu jadi, baik menguji di darat, maupun di udara.

Tentu saja pilot penguji merupakan profesi berisiko tinggi karena pesawat yang diuji coba belum tentu stabil dalam penerbangannya, belum tentu pula bertingkah seperti desain awal. Salah-salah, pesawat yang diuji justru hilang kendali karena faktor yang ta diketahui.

Dalam menguji kinerja pesawat, kata Esther, diperlukan analisis yang benar. Penelitian ini harus dilakukan dengan ketekunan dan disiplin tinggi. ‘’Tujuannya agar kita bisa terbang,’’ kata Esther.

Ketertarikan Esther dengan dunia penerbangan dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Namun pada awalnya, bukan terbang lah yang ia sukai, tetapi fotografi. ‘’Saya sangat mencintai fotografi,’’ kata dia.

Fotografi membawa Esther terbang dari Sabang sampai Merauke. Di situlah ia tertarik dengan penerbangan, yaitu ketika ia berkesempatan melakukan pemotretan dari atas pesawat. ‘’Saya berpikir betapa indahnya Indonesiadari atas,” kata perempuan kelahiran Palembang ini.

Keindahan Indonesia menuntunnya ke rasa penasaran yang tinggi akan pesawat. Bagaimana sebuah pesawat bisa terbang? Pikirnya. Berbekal keyakinan dan keinginan yang menggebu-gebu, Esther akhirnya melanjutkan pendidikan pilot di Amerika Serikat, alih-alih mengambil jurusan jurnalis yang ia senangi saat itu. Padahal, latar belakang pendidikan SMA Esther adalah ilmu pengetahuan sosial.

‘’Tidak ada yang dapat menghalangi saya untuk menjadi seorang penerbang. Ini sudah jalan dari-Nya,’’ tutur Esther.

Esther pertama kali menikmati sensasi terbang pada 1984. Baginya, terbang adalah pengalaman yang luar biasa. Dengan terbang, keinginannya untuk melihat Indonesia terwujud sudah. Kini, ia menjadi penerbang perempuan pertama dengan jam terbang terbanyak, yaitu 6.000 jam.

Meskipun pekerjaannya sangat sulit, Esther sangat menikmati kegiatan tersebut. Baginya, setiap hari adalah petualangan yang harus dihadapi. Hal yang paling penting adalah mencintai pekerjaan. ‘’Kalau kita mencintai pekerjaan yang kita lakukan, niscaya apapun itu akan mampu kita laksanakan,’’ kata perempuan yang sempat tumbuh di Filipina ini.

Bagi Esther, menjadi pilot adalah sebuah tantangan yang menarik. Sejak kecil ia memang menyukai sesuatu yang berhubungan dengan adrenalin, meskipun saat itu belum terpikir olehnya menjadi pilot.

Ia bercerita, hal yang paling membuatnya tertantang adalah ketika menguji pesawat di udara. Saat itu ia harus mematikan satu mesin pesawat untuk melihat di ketinggian berapa pesawat tersebut masih mampu terbang stabil. Apabila pesawat tidak stabil, maka posisinya akan oleng dan tentu akan membahayakan nyawa sang pilot penguji.

Untungnya ketika hal-hal buruk seperti itu terjadi, ia berada tinggi di udara sehingga masih mampu menyalakan kembali mesin sebelum pesawat masuk ke putaran //stall// yang sulit dikendalikan lagi. ‘’Untungnya selama ini semua pekerjaan saya lakukan dengan benar,’’ kata dia.

Pekerjaan ini sebetulnya didominasi oleh laki-laki. Maka tidak jarang Esther mendapat diskriminasi dalam melaksanakan tugasnya. Bentuk diskriminasinya tidak secara langsung, tapi tersirat, ujar Esther. Namun ia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya hal itu bukan masalah besar. Apabila kita yakin dengan apa yang kita lakukan adalah benar, kata Esther, maka orang-orang akan menerima dengan positif.

Esther mengaku, ia sempat tidak diizinkan untuk bergabung di PT DI. Padahal Esther sudah memiliki pengalaman terbang meskipun ia bukan seorang insinyur. Alasannya, karena ia seorang perempuan. Saat itu PT DI tidak mau ada pilot perempuan. ‘’Untungnya waktu itu Pak Habibie (Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie) membantu meyakinkan orang-orang di sana untuk menerima saya,’’ kata Esther.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Esther belajar bersungguh-sungguh. Agar tidak kalah dibandingkan pilot lain, Esther melengkapi diri dengan membaca. Menurutnya hal ini adalah hal yang paling penting karena dengan membaca seseorang akan belajar sesuatu yang tidak dia bisa. Seseorang yang mampu membaca belum tentu bisa belajar dari apa yang ia baca. Karena itu perlu ketekunan yang tinggi agar seseorang bisa belajar dari membaca.

Esther hanya satu dari jutaan srikandi Indonesia yang harus diapresiasi. Ia adalah generasi penerus Cut Nyak Dhien dan R.A. Kartini. Kemampuannya yang bahkan melebihi laki-laki tidak boleh dipandang sebelah mata. Esther berharap harus lebih banyak lagi perempuan-perempuan Indonesia yang maju dan mampu bersaing di dunia global saat ini.

n.c02

Advertisements

One thought on “Esther G. Saleh, Srikandi Pemegang 6.000 Jam Terbang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s