SUS(U) Gedebage

Siapa sih yang tidak ingin mempunyai lapangan sepak bola? Secara, permainan itu sangat diminati hampir seluruh penduduk di Indonesia. Khususnya di Jawa Barat, atau lebih tepatnya Kota Bandung, sepak bola sudah menjadi sebuah narkoba. Ditambah lagi kecintaan warganya terhadap Persib, sudah melebihi rasa cinta pada Tuhan. Setiap Persib berlaga, Bobotoh, pendukung Persib, pasti selalu konvoi keliling kota dan memberi sinyal kepada warga Kota Bandung untuk menonton.

Stadion di Kota Bandung tidaklah banyak. Tadinya Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PERSIB) menggunakan Stadion Siliwangi, Kota Bandung, untuk berlaga. Namun pada 2009 kepolisian tidak lagi memberi tempat pada persib untuk bermain di stadion milik Komando Militer III Siliwangi tersebut. Akhirnya mereka hijrah ke stadion Jalak Harupat di Soreang, Kabupaten Bandung.

Hal ini membuat pemerintah Kota Bandung akhirnya berkeinginan membangun sebuah stadion di Kota Bandung. Stadion bertaraf internasional yang dibangun di tengah Kota Bandung. Wali Kota Bandung terpilih, Dada Rosada, akhirnya mengeluarkan fatwa pembangunan stadion megah Jawa Barat, yang berlokasi di Kota Bandung, tepatnya di wilayah Gedebage.

Stadion inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai Stadion Utama Sepakbola (SUS) Gedebage.

Untuk pembangunannya, pemerintah kota membutuhkan dana sekitar Rp 350 miliar. Hal ini kemudian menjadi perjanjian kerja sama antara pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung. Perjanjian ini ditandatangani pada 2007. Sebanyak 60 persen biaya pembangunan dibebankan pada pemerintah provinsi, yaitu sekitar Rp 210 miliar. Sedangkan sisanya yang Rp 140 miliar diambil dari anggaran daerah Kota Bandung.

Pada 2007 pemerintah provinsi mengucurkan dana Rp 10 miliar untuk awal pembangunan.

Nah, pada 2008 entah mengapa perjanjian ini dibatalkan, tepatnya pada 18 Desember 2008. Apabila awalnya adalah kerja sama pendanaan, hal ini kemudian berubah menjadi bantuan keuangan. Jadi, kesepakatan pemerintah provinsi harus membayar Rp 210 miliar tidak lagi berlaku.

Kemudian pada 2009 pemerintah provinsi mengucurkan dana sekitar Rp 125 miliar untuk bantuan pembangunan. Di sini judulnya tidak lagi kerja sama, tetapi bantuan. Pada 2010 pemprov juga memberikan bantuan sebesar Rp 50 miliar. β€œNamun dana yang diberikan pada 2010 tidak terserap oleh pemerintah kota,β€œ tutur Kepala Biro Humas, Protokoler dan Umum Pemerintah Provinsi Jabar R Ruddy Gandakusuma, dikutip dari antarajawabarat.com.

Tidak ingin hal sama kembali terjadi, pada 2011 pemerintah provinsi menganggarkan Rp 25 miliar untuk lanjutan pembangunan SUS Gedebage. Jumlah ini ditambah Rp 25 miliar lagi pada APBD perubahan.

Setelah tidak lagi melakukan kerja sama, anggaran untuk pembangunan stadion Jawa Barat ini membengkak menjadi Rp 600 miliar. Itu pun baru 80 persen pembangunan, belum lagi aksesori stadion seperti taman dan lapangan parkir.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Yusuf M. Effendi, pernah mengungkapkan pembangunan SUS Gedebage sebetulnya sudah salah sejak perencanaan. Lahan yang dipakai untuk pembangunan tersebut dulunya merupakan lahan basah. Akibatnya, bangunan yang dibangun di atas lokasi itu harus benar-benar dengan perencanaan yang matang. Artinya, perancangnya harus memikirkan kemungkinan lahan amblas karena masih mengalami proses pengeringan alami. Bekas rawa tidak mudah mengering, apalagi akan terjadi penurunan volume tanah.

Pemerintah provinsi juga tidak hanya punya urusan membangun satu stadion saja, tetapi ada empat, yaitu di Bogor, Cirebon, Cianjur, dan Tasikmalaya. Nah, masa hanya SUS Gedebage saja yang dianakemaskan?

Akan tetapi ia mengatakan pemerintah provinsi tetap memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan ini. Bagaimanapun juga Kota Bandung merupakan bagian dari Jawa Barat.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Edi Siswadi pernah mengatakan pihak pemerintah kota tidak akan menyerahkan pengelolaan lapangan Gasibu kepada pihak provinsi apabila provinsi tidak membantu menyelesaikan pembangunan stadion ini. Ketika hal ini dikonfirmasi kepada Kepala Bappeda Jabar, Deny Djuanda, ia mengaku tidak mengerti dengan alih fungsi pengelolaan tersebut. ia baru mendengar kerjasama tersebut.

Sekarang, stadion tersebut masih dalam tahap pembangunan. Entah sampai kapan pembangunan ini selesai. Yang jelas pemerintah kota optimis pada 2012 stadion selesai. Itu belum termasuk pembangunan lapangan parkir dan aksesori yang ada di dalamnya, lho!

Kita lihat saja nanti seperti apa akhir perang politik dua pemerintahan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s