Perceraian, ooo Perceraian

Hampir semua orang setuju pernikahan itu adalah sebuah kebahagiaan. Keluarga sakinah merupakan impian setiap perempuan. Lelaki yang soleh dan bertanggungjawab terhadap keluarga merupakan incaran orangtua perempuan di dunia ini.

Keluarga adalah organisasi terkecil yang ada di muka bumi ini. Organisasi ini terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Mereka merupakan relasi yang sangat dekat karena berasal dari darah yang sama. Keluarga bahagia adalah impian semua orang. Tidak ada yang ingin berpisah dari organisasi yang telah dibangun dengan komitmen yang kuat.

Tapi… masih saja ada keluarga yang akhirnya tercerai-berai meskipun sudah memutuskan untuk menjalani hidup bersama. Apa sih yang terjadi?

Nah, Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengungkapkan perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sebelum reformasi, sebutnya, perceraian berkisar antara 10-20 ribu pasangan per tahun. Namun usai reformasi, kasus perceraian naik 10 persen menjadi 2,5 juta per tahun. Berdasarkan data dari Mahkamah Agung, pada 2010 perkara cerai yang masuk adalah sebanyak 320.788 sedangkan perkara yang diputus adalah 295.589.

Kebanyakan perceraian disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utama adalah ekonomi. Mengapa banyak yang bercerai setelah reformasi? Saya pikir saya tidak perlu menjawabnya karena jawaban itu masih kita rasakan sekarang.

Faktor kedua adalah kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan banyak dilakukan oleh suami kepada istri. Kekerasan cenderung disebabkan oleh ekonomi. Kembali lagi ke faktor pertama. Dan faktor ketiga disebabkan oleh perselingkuhan.

Akibat ekonomi yang lemah atau seringnya bertengkar dan melakukan kekerasan, perempuan cenderung mencari perlindungan ke orang lain. Tidak sedikit yang berlindung pada pria idaman lain (PIL). Sedangkan laki-laki, muak dengan sikap istrinya yang selalu minta uang akhirnya mencari wanita idaman lain (WIL) yang dapat memuaskan hati mereka.

Dulu, perceraian banyak dilakukan oleh pihak laki-laki, atau yang kita sebut dengan talak. Namun kini tidak lagi. justru perempuanlah yang paling banyak mengajukan cerai gugat ke pengadilan agama. What’s happen here?

Nah, selain tiga alasan di atas, banyaknya cerai gugat yang dilakukan para perempuan disebabkan oleh kesalahan pengertian dalam pendidikan gender. Ketua Umum Fatayat NU, Ida Fauziah, mengatakan sebagian besar perempuan yang baru mengenal pendidikan gender tersebut baru mengenal tentang hak dan kewajiban perempuan saja. β€œMereka tidak melihat dari sisi pemberian hak yang masih timpang,” kata dia.

Artinya, perempuan saat ini memandang pendidikan gender bukan untuk memajukan pemikiran perempuan, tetapi hanya memberi pengertian persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Padahal kodratnya, perempuan itu jelas-jelas berbeda. Bila dianalogikan, perempuan itu adalah sebuah bunga yang berfungsi menghasilkan madu, sedangkan laki-laki bertugas untuk mengisap madu tersebut. Beda, kan?

Nasaruddin melanjutkan, 80 persen perceraian dilakukan oleh pasangan yang berbeda agama. Nah lo!

Kemudian 80 persen perceraian terjadi pada keluarga yang usia pernikahannya di bawah 5 tahun. Artinya, mereka masih dikaruniai anak yang sangat kecil dan imut-imut. Anak-anak ini masih membutuhkan perhatian dari kedua orangtuanya. Mereka pun belum tahu apa-apa tentang permasalahan orangtua mereka.

Tayangan televisi ternyata memberi andil cukup besar dalam perceraian. Seperti yang kita tahu, saat ini televisi telah menjadi kiblat bagi penduduk Indonesia dalam bertindak. Bila ada iklan sampo yang begini, warga akan ikut begini. Kalau ada model pakaian yang begitu, maka warga akan menirunya.

Nah, tayangan infotainment maupun sinetron yang menampilkan berita dan adegan perceraian secara tidak langsung memengaruhi pikiran masyarakat yang menontonnya. Mereka ikut-ikutan berpikir seperti idola mereka yang ada di dalam televisi tersebut. Hal tersebut menjadi inspirator mereka.

Perempuan banyak berpikir pragmatis dalam menghadapi satu masalah. Hal ini sering kali terjadi belakangan ini. Mereka cenderung lebih memilih cara praktis untuk menyelesaikan masalah, alih-alih melakukan komunikasi dengan pasangan mengenai masalah tersebut.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah?

Hal pertama tentulah pemahaman agama yang benar. Agama adalah pedoman kehidupan setiap manusia. Tidak ada agama yang mengajarkan sesuatu yang sesat kepada umatnya. Artinya, dengan memahami agama dengan baik maka seseorang akan berpikir lebih bijak dan akhirnya mengkomunikasikan setiap masalah yang terjadi di dalam keluarga. Dengan begini, perceraian akan terhindari.

Saling memahami juga harus dilakukan oleh pasangan. Jangan hanya karena ego sesaat kemudian memutuskan untuk menyelesaikan pernikahan. Hal ini, kemudian disesali.

Mengalah, juga menjadi upaya ampuh untuk mempertahankan biduk rumah tangga. Namun bukan mengalah untuk menghindar dari masalah, tetapi mengalah untuk menang. Mengalah akan mengajarkan kita untuk memahami pasangan. Dengan pemahaman tersebut, kita bisa mencari solusi mengenai masalah yang terjadi.

Pengadilan agama, diminta untuk tidak meluluskan keinginan para penggugat cerai. Hal ini, menurut Nasaruddin akan merugikan pasangan yang akan bercerai. Sebaiknya pengadilan mengajak pihak keluarga dari laki-laki dan perempuan serta seorang dari luar keluarga kedua pihak untuk melakukan mediasi. Hal ini harus terus diupayakan untuk menekan angka perceraian.

Hal ini berujung pada persiapan mental kedua pasangan yang akan menikah. Jangan hanya asal menikah dan membangun keluarga. Menikah adalah seperti kita membangun sebuah rumah. Pondasinya harus kuat agar ketika gempa mengguncang, badai berhembus, dan banjir melanda, rumah tersebut tetap kokoh berdiri.

Nah, sudah siap menikah?

(dari berbagai sumber, plus opini saya sendiri, yaaa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s