Deritanya Lahir dengan Thalasemia Mayor

Thalasemia bukan nama penyakit yang familiar di telinga Milah Karmilah (38 tahun). Penyakit ini pertama kali ia dengar ketika ia akan menikah dengan suaminya sekitar 16 tahun lalu. Sang suami merupakan pembawa sifat thalasemia. Milah tidak menyadari dirinya pun seorang pembawa sifat.
Ia dianjurkan untuk melakukan //screening// darah. Namun ia tidak pernah melakukannya. “Saya berpikir saya sehat. Jadi kalau kami menikah, maka kemungkinan anak-anak kami akan lahir dengan dua kemungkinan, normal atau thalasemia minor,” tuturnya kepada Republika, Ahad (4/12).
Mereka pertama kali dikaruniai anak 15 tahun lalu dengan kondisi yang sehat. Milah semakin yakin ia tidak perlu memeriksakan diri untuk mengetahui kondisi gen thalasemia yang ia miliki.
Namun ketika anak kedua lahir, kondisinya tidak seperti sang kakak. Di tujuh bulan pertamanya, Feby Wicaksono (8) sering mengalami demam tinggi, batuk, dan pilek. Penyakit ini berulang-ulang sehingga Milah memutuskan untuk memeriksakan darah anaknya.
Hasilnya sangat mengejutkan Milah. Pada usia tujuh bulan, Feby divonis mengidap thalasemia mayor. Saat itu hemoglobinnya hanya tersisa 3,8 gr/dl. “Sejak saat itu Feby harus menjalani transfusi darah sampai sekarang,” tutur Milah.
Khawatir dengan kondisi kakaknya, Yomitha Desiana (15), Milah memeriksakan darah Yomitha ke rumah sakit. Dokter mengatakan Yomitha merupakan penderita thalasemia minor, atau pembawa sifat thalasemia. Saat itulah ia menyadari ia salah menyangka kondisi kesehatannya. Ternyata Milah dan suaminya merupakan pembawa sifat thalsemia.
Beberapa tahun pertama sebagai penderita thalasemia, Feby harus menerima transfusi darah sebulan sekali. Namun kini ia harus menerima pasokan darah tiga minggu sekali. Transfusi ini menelan banyak biaya. Sekali transfusi, ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 8 juta. Belum lagi kalau ada efek samping seperti demam, kata pegawai toko ini.
Ada beberapa efek samping lain yang kini diderita Feby, lanjutnya. Pinggangnya terlihat membengkak akibat pembesaran limpa. Hatinya pun ikut membesar. Belakangan juga diketahui ia mengalami pengeroposan tulang.

Apa yang dicita-citakan Milah untuk masa depannya seketika runtuh. Ia tidak menyangka keteledorannya akan mengakibatkan hal yang membuat anaknya harus menderita seumur hidup. Milah mengatakan, Feby bahkan pernah berkata padanya, “Ade tau nggak bakalan sembuh, jadi buat apa transfusi dan desferal?” tutur Feby yang kini duduk di kelas III SD Merdeka.
Hal ini membuat rasa bersalah Milah semakin besar. Milah tidak bermaksud untuk membuat anaknya hidup hanya untuk menderita. Kalau tahu begini, ujar Milah, saya tidak akan memutuskan untuk mempunyai anak.
Namun penyesalan tidak pernah datang di awal. Kini Milah harus berjuang agar anaknya bisa mendapatkan transfusi setiap bulannya. Untungnya untuk thalasemia Milah dibantu dengan kartu jaminan kesehatan thalasemia (jamkestal). Namun untuk biaya penyakit efek samping akibat thalasemia, Milah dan suaminya harus mencari sendiri.
Kini Milah harus berkonsentrasi untuk melanjutkan kehidupan anaknya. Ia berharap kejadian serupa tidak terjadi pada orang lain. Memutus rantai thalasemia merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar generasi masa depan tidak lagi menderita seperti yang sudah-sudah. “Kalau sama-sama thalasemia minor dan tetap ingin menikah, maka pasangan tersebut harus berkomitmen untuk tidak memiliki anak. Saya tidak ingin kejadian yang saya alami terulang kembali oleh orang lain, cukup saya sja,” tuturnya. n.c02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s